
Seperti biasa, Resa pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Reyan setelah shalat Shubuh. Tiga bulan sudah dia menjalani rumah tangga dengan laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada dirinya, namun terkadang sikap Reyan sangat kekanak-kanakan. Hari ini, Azel menginap dirumah Reyan.
" Ayah!" kata Resa seperti ingin meminta sesuatu dari nada suaranya.
" Ada apa?"
" Boleh aku punya pacar?"
" Kamu bahkan belum lulus SMP, kalau kamu sudah SMA, mungkin ayah akan mengizinkan."
"
" Mungkin."
" Boleh aku menikah muda ayah?' tanya Azel bersungguh- sungguh, Reyan langsung menggelengkan kepalanya.
" Tidak boleh."
" Ayah juga menikah dengan wanita yang sangat muda."
" Itu berbeda sayang, kau terlalu kecil dan masih bayi."
" Aku bukan bayi, usiaku sudah 15 tahun." Kata Azel merengek.
" Bukankah itu masih terlalu kecil untuk memikirkan pernikahan?"
" Mommy Sa menikah dengan ayah usianya belum 17 tahun."
" Karena dia menemukan pria yang tepat seperti ayah," kata Reyan dengan sombongnya.
" Boleh aku menikah muda ayah?"
" Apa kau bersungguh-sungguh, gadis kecil?"
" Tentu saja, aku akan memiliki pacar ketika SMA."
Resa mendekati Azel dan Reyan sambil membawa masakannya. Biarpun usianya masih muda, tetapi ia sudah sangat pandai memasak.
" Mommy, bolehkah aku tinggal disini?" tanya Azel.
" Tentu saja," jawab Resa tersenyum. Dia sangat bahagia apabila Azel tinggal disini, mereka akan tidur berdua setiap malam.
" Masakan mommy so delicious."
" Thank you, Azel."
Resa dan Azel memang sangat akrab setelah pertemuan pertama mereka. Dan dia baru tahu seminggu yang lalu, bahwa Reyan hanya mempunyai satu orang anak, yaitu dirinya. Azel menceritakan kalau saudara-saudaranya bukan anak ayahnya, melainkan anak ibunya dengan pria lain. Azel dan Reyan juga baru mengetahui hal itu.
" Boleh aku belajar memasak kepada mommy?"
" Are you serious?" tanya Reyan seperti terkejut.
__ADS_1
" Of course, daddy. I want to be the best wife for my future husband."
" Kamu mau menikah, zel?" tanya Resa.
" Iya, mommy. Aku mau menikah muda seperti mommy."
" Tapi kamu tahu kan mommy sebenarnya tidak mau menikah muda?" kata Resa, ia masih bingung dengan keinginan anak tirinya itu yang lebih cocok menjadi sahabatnya.
" Aku tetap mau menikah muda, mommy."
" Kamu masih terlalu muda untuk menikah."
" Aku akan menikah setelah lulus SMA."
" Kamu boleh menikah dengan orang yang ayah kenal."
Azel mengangguk dan mengiyakan perkataan ayahnya.
"Aku akan menikah dengan orang yang ayah kenal dan lebih tua darimu." Kata Azel membatin sambil tersenyum.
Azel meninggalkan Reyan dan Resa di meja makan, ia akan pergi sebentar dengan teman-temannya.
" Aku boleh bertanya sesuatu?"
" Anything for you, baby."
" Apa benar kamu sebenarnya cuma punya anak satu?" tanya Resa hati-hati, Reyan menarik nafas panjang lalu mengangguk.
" Itu benar. Seminggu yang lalu, aku dan Azel mengunjungi anak-anakku yang lain untuk mengajak mereka menginap disini. Tetapi, ternyata ibu mereka disana dan memberitahukan semuanya beserta hasil tes DNA. Kemudian, aku melakukan tes DNA kembali untuk memastikan dia tidak berbohong. Dan ternyata benar, diantara 5 orang anak hanya Azel anakku. Sedangkan, empat yang lain anaknya dengan suaminya yang sekarang."
" Tentu saja, tidak. Bagaimanapun aku sangat menyayangi keempat anakku itu, meskipun mereka bukan anak kandungku. Aku membiarkan mereka hidup dengan ayah dan ibu kandungnya. Aku tahu, meskipun ibu mereka sering selingkuh dariku, tapi dia ibu yang baik untuk anak-anaknya."
Resa memandangi wajah tampan suaminya itu, ia terlihat sedikit bersedih ketika menceritakan hal itu.
" Boleh aku bertanya lagi?" kata Resa.
" Apa yang ingin kamu ketahui lagi, sayangku?" tanya Reyan dengan tatapan tulus dan sayang.
" Bagaimana kamu bisa menikah dengan Ibu Azel?" tanya Resa penasaran, Reyan tersenyum memandang istrinya cantiknya itu.
" Kami dijodohkan, saat itu usiaku masih 17 tahun baru lulus SMA. Aku tidak menolak perjodohan itu, karena dia bersikap baik kepadaku meskipun usianya 5 tahun lebih tua daripadaku. Namun setelah 5 tahun pernikahan kami, aku tahu dia berselingkuh sejak Azel berusia baru beberapa bulan. Setelah kuselediki, itu adalah pacarnya dari SMP. Dia terpaksa menikah denganku dan tetap menjalin kasih dengan laki-laki itu, yang sekarang menjadi suaminya."
" Apa kamu bersedih?"
" Tentu saja, tidak. Karena dia bisa bahagia bersama dengan laki-laki yang dicintainya, dan aku bisa menikah denganmu. Mungkin jika dia tidak selingkuh, aku tidak akan menceraikannya dan menikah dengan kamu."
Resa memandang wajah Reyan terus- menerus, jujur dia merasa kasihan dengan kisah cinta Reyan dulu yang sedikit tragis.
" Kamu mencintai dia? maksudku kaliankan hidup bersama selama 16 tahun."
" Entahlah aku tidak bisa mencintainya, meskipun begitu aku tetap memperlakukannya dengan baik. Apalagi sejak Azel dilahirkan, aku merasa sangat senang karena menjadi ayah diusia 18 tahun. Anak itu meskipun menyebalkan dan keras kepala, tetapi dia mampu membuatku bahagia karena kehadirannya."
__ADS_1
" Tentu saja, diakan putrimu."
" Kamu tahu sayang, dulu ketika dia masih kecil. Azel selalu mendatangiku kekantor, ketika dia pulang sekolah. Namun, lihatlah sekarang! dia bahkan ingin menikah muda."
" Apa kamu benar-benar mengizinkan Azel menikah muda?"
" Sebenarnya, aku tidak ingin dia menikah muda. Dia masih terlalu kecil dan bahkan seperti bayi bagiku. Namun aku tahu, semua keputusan ada ditangannya. Dia yang berhak menentukan kehidupannya, meskipun aku tidak ingin Azel menikah secepat yang dia bayangkan."
" Aku takut melepaskan putriku kepada laki-laki yang salah dan menyakiti hatinya. Aku harap, dia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya."
" Kamu takut dia menikah muda karena tidak ingin putrimu mendapatkan laki-laki yang salah atau kamu tidak ingin menjadi kakek secepat itu?" kata Resa menggoda suaminya.
" Itu juga alasannya, diusiaku yang masih muda, aku harus dipanggil kakek oleh cucuku nanti."
" Bukannya ayah sudah tua dan sudah pantas dipanggil kakek?!" kata Azel sambil tertawa.
" Azel kenapa disini? katanya mau main sama teman-teman kamu?" tanya Reyan.
" Gak jadi, aku mau belajar."
" Anak pintar, seperti itulah seharusnya putri ayah."
" Tentu saja, aku ingin mendapat nilai tinggi dan segera menikah."
" Kau tidak bersungguh-sungguhkan dengan ucapanmu itu?"
" Aku bersungguh-sungguh, apa ayah ingin aku menikah lebih cepat?"
" Tentu saja, tidak."
Azel menghampiri Resa yang kini menjadi ibunya, mereka tampak berbisik-bisik dan membuat Reyan penasaran. Padahal mereka hanya sedang mengerjai Reyan.
" Apa yang sedang kalian bicarakan gadis kecil?" tanya Reyan.
" Tidak apa-apa, kami hanya membicarakan tentang daddy."
" Daddy?"
" Sekarang aku akan memanggil ayah daddy, supaya lebih nyambung dengan panggilan mommy."
" Apa yang kalian bicarakan?"
" Rahasia.
Resa tersenyum melihat suaminya,
Reaksi Reyan sangat senang ditatap istrinya
__ADS_1
Dan ini Azel