
Arabel menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menolak perjodohan ini kecuali Miu memang mencintai perempuan lain.
" Maaf kak, ini permintaan terakhir daddy. Arabel tidak bisa mundur, kecuali jika Kak Miu memang mencintai perempuan lain atau aku yang mencintai laki-laki lain."
Helen mendengus kesal, padahal dia berharap Arabel mundur dari perjodohan ini. Tapi sepertinya, Arabel tidak akan mundur dari ini semua. Lagi pula, bukankah Miu mencintai Arabel? meskipun sampai saat ini, Arabel belum tahu tentang perasaannya sendiri.
" Maaf kak," lirih Arabel, dia terpaksa harus egois kali ini.
Karin melihat Helen keluar dari kamar Arabel sambil menangis membuatnya bingung. Dia mengikuti kakaknya itu kekamar, Karin takut ada sesuatu dengan Helen. Ketika Helen masuk kekamar dan ingin menutup pintu, Karin ikut masuk kedalam.
" Ngapain?" ketus Helen, kepada adiknya yang saat ini ingin tahu tentang masalahnya.
" Kakak kenapa menangis? ada apa Kak?" tanya Karin, kemudian dia duduk di sofa kamar Helen.
__ADS_1
" Kak, cerita sama aku. Siapa tahu, aku bisa bantu kakak."
" Beneran kamu bisa bantu aku?" tanya Helen, Karin mengangguk.
" Kamu kan tahu aku cinta dengan Kak Miu, dan tadi aku minta supaya Arabel mundur."
" Adek mau?" tanya Karin tidak sabar, Helen menggeleng.
" Dia menolak, karena perjodohan ini adalah permintaan terakhir daddy. Dia ingin mewujudkan keinginan daddy." Jawab Helen, Karin mengangguk.
" Arabel cinta dengan Kak Miu?" tanya Karin lagi, Helen menggeleng.
" Dia belum tahu, apakah dia sudah atau belum mencintai Kak Miu."
__ADS_1
" Begini kak, jika ayah meminta sesuatu kepada Kak Helen, apakah kakak akan berusaha mewujudkannya?" tanya Karin, Helen tanpa ragu mengangguk.
" Begitu juga dengan Arabel, dia pasti akan berusaha mewujudkan keinginan terakhir daddy. Aku tidak membela salah satu dari kalian, karena kakak dan adek sama bagiku."
" Tapi aku cinta dengan Kak Miu."
" Kak, bukankah cinta tidak harus memiliki? aku yakin, ini memang mudah dikatakan namun sangat sulit dilaksanakan. Tapi Kak Miu mencintai adek. Apa Kak Helen mau, jika Kak Miu terpaksa menikah dengan kakak? Sedangkan cintanya untuk Arabel?" tanya Karin lembut, dua sendiri juga berusaha menerima kenyataan bahwa Titan tidak mencintainya.
Helen terdiam membisu, apa yang dikatakan Karin memang benar. Dia seharusnya tidak boleh egois dalam hal ini, bukan dirinya yang sebenarnya sering mengalah tetapi Arabel. Tapi perasaan cintanya sudah tidak bisa dibendung lagi, dia benar-benar ingin memiliki Miu seutuhnya. Walaupun dia tahu, jika Miu tidak mencintai dirinya.
" Aku tetap ingin memiliki Kak Miu." Jawab Helen, Karin terdiam menatap manik kakaknya. Helen mungkin sudah terobsesi dengan Miu.
" Aku hanya mengingatkan Kak Helen, setelah ini terserah kakak." Karin beranjak dari sofa dikamar Helen, lalu dia keluar kamar.
__ADS_1
Karin tahu, bagaimana sakitnya melihat orang yang kita cintai, ternyata mencintai orang lain. Karena selama ini, Karin memendam perasaan untuk Titan. Dia memang mencintai Titan dan ingin memilikinya, tapi dia tidak se obsesi kakaknya tentang cinta. Karin lebih memilih pasrah, biarkan waktu yang menjawab semuanya. Lagi pula, dia tidak ingin Titan canggung kepadanya. Biarkan semuanya, dia simpan rapat-rapat. Dan biarkan takdir, yang menentukan kemana cintanya akan berlabuh nanti. Saat ini, yang bisa Karin lakukan hanyalah meminta Titan untuk menjadi jodohnya disetiap doa-doa yang dipanjatkannya kepada Sang Pemilik Hati.