Beauty Girl

Beauty Girl
Memasak


__ADS_3

Mereka semua sudah selesai melaksanakan shalat Shubuh, kali ini Dio yang menjadi imamnya. Seperti biasanya, sesudah Resa mencium tangan suaminya. Reyan akan mencium puncak kepala dan kening istrinya itu, ada rasa bahagia bisa memiliki Resa sebagai istrinya.


" Hari ini kita jadi masak-masak, Kak Resa?" tanya Aelie kepada Resa, dia mengangguk.


" Kalian mau, kita masak apa hari ini ?" tanya Resa, mereka kelihatan berpikir.


" Gimana kalau kita bagi dua aja, Mommy Sa yang buat kue dan Mama Tia yang buat makanannya." Usul Azel, mereka mengangguk setuju. Resa, Azel, Tia, Alia, dan Aelie segera kedapur untuk memasak besar hari ini.


" Kita boleh kesini lagi gak, Kak Resa?" tanya Alia, Resa mengangguk sambil tersenyum.


" Boleh banget, sayang"


" Kami manggil kakak, Kak Resa aja ya. Kalau Mommy Sa, kayak gak pantas gitu, kitakan hampir seumuran." Kata Aelie, Resa mengangguk. Dia tidak keberatan ingin dipanggil mommy atau kakak oleh mereka.


" Terus Kak Azel manggil Mommy Sa, mommy. Gak pantas gitu?" tanya Azel memandang Azel dengan wajah serius, padahal dia hanya bercanda.


" Bukan begitu, Kak Azel. Kak Resa kan istri Daddy Rey, jadi kakak wajar Kak Azel memanggil dengan sebutan mommy." Jawab Aelie, dia tidak ingin panjang lebar menjelaskan. Aelie tidak ingin, ada yang tersinggung karena ucapannya. Azel wajar memanggil Resa dengan sebutan mommy, karena memang gadis itu istri Reyan. Sedangkan Aelie, bukan anak kandung Reyan. Bisa dibilang, dia adalah anak dari perselingkuhan Tia dan Dio. Tapi jika dia mengatakan maksudnya itu, pasti banyak tersinggung. Lebih baik, Aelie mencari jalan aman saja. Tetapi yang ada disana seperti paham dengan maksud Aelie, mereka hanya tersenyum.


" Yaudah, sekarang kita masak dulu. Kita bagi timnya!" kata Resa, diangguki oleh mereka.


" Sekarang, kalian pilih mau masak makanan dengan Mama Tia atau buat kue sama Kak Resa." Kata Tia, mereka bertiga bingung.


" Aelie sama Kak Resa aja deh, Kak Azel dan Kak Alia sama Mama." Mereka mengangguk setuju, tidak ada alasan menolak. Lagipula, Tia ingin lebih dekat dengan Azel. Dia selama ini, kehilangan momen-momen berharga dengan Azel.


Aelie sangat senang ketika membuat kue dengan Resa, dia sangat ingin mengetahui tentang istri Daddy Rey nya. Usia mereka terpaut tidak terlalu jauh, kurang dari 5 tahun.


" Kak Resa cantik banget, Aelie mau tahu dong gimana rasanya jadi cewek cantik." Kata Aelie, Resa hanya tersenyum memandang gadis dihadapannya itu.

__ADS_1


" Makasih ya, kamu lebih cantik. Jangan lupa wudhu, dan ya bisa-bisa merawat diri. Apalagi Kak Resa kan sudah menikah, jadi mempunyai kewajiban untuk membahagiakan suami. " Jawab Resa, Aelie mengangguk.


" Kak Resa kenapa mau nikah sama Daddy Rey?" tanya Aelie lagi, Resa masih tersenyum menghadapi gadis kepo dihadapannya ini.


" Meskipun tua, Daddy Rey ganteng kan?" tanya Resa balik, Aelie mengangguk.


" Daddy Rey jauh lebih tampan, daripada idola disekolah aku."Jawab Aelie, Resa tertawa mendengar jawaban gadis itu.


" Alasan kenapa mau nikah dengan Daddy Rey, memang saat itu Kak Resa belum mencintai dia. Tapi seiring waktu, rasa cinta itu tumbuh karena terbiasa.


" Kak Resa sering masak gini?" tanya Aelie lagi, dia tidak menyangka gadis secantik Resa bisa memasak sejago itu.


" Iya, karena kalau kita bisa masak dan suami suka dengan masakan kita. Ada rasa bahagia dan puas, apalagi Daddy Rey sering memuji masakan kakak. Meskipun sekarang dia mulai diet, tapi Kak Resa sering membuatnya gagal diet." Jawab Resa, Aelie tersenyum senang. Resa sangat baik bukan hanya kepada Azel, tetapi juga dengan dirinya.


****


Tia sangat senang hari ini, karena dia bisa memasak dengan putri kesayangannya, Azel. Selama ini, dia memang seperti tidak peduli dengan gadis itu. Hingga Azel pindah keluar negeri bersama Reyan, itu yang menyadarkannya bahwa dia sudah pilih kasih dengan putrinya itu.


" Kak Azel kan udah dewasa sebentar lagi menikah, jadi sebisa mungkin harus bisa memasak makanan yang enak buat suami." Jawab Azel, dia ingin selalu memasak untuk suaminya nanti jika sudah menikah.


" Mama bangga sama kamu, sayang.".


" Makasih, Mama Tia." Jawab Azel, Tia mengangguk. Dia menyadari, jika sikap Azel kepada dirinya dengan Resa berbeda. Putrinya itu terlihat lebih nyaman dengan Resa, ketimbang dirinya. Itu hal yang wajar karena selama ini, memang Resa yang selalu ada untuk Azel.


" Azel juga bangga punya ibu, seperti Mama Tia." Sambung Azel sambil memperlihatkan senyuman dibibirnya, Tia terharu sekaligus bahagia mendengar ungkapan anaknya itu.


" Makasih sayang, mama sayang banget sama Azel." Kata Tia dan memeluk tubuh putrinya itu, Alia hanya tersenyum melihat mama dan kakaknya seperti ini.

__ADS_1


" Hmmmm, jadi Mama Tia gak bangga punya anak kayak Alia?" kata Alia dengan ekspresi seperti meraju, Tia menarik tangan putrinya itu. Dipeluknya dua orang gadis yang sangat disayanginya itu.


" Mama bangga sama kalian berdua."


*****


Reyan dan Dio duduk ditaman melihat tiga anak kecil sedang berlarian bahagia. Mereka mengingat masa kecilnya dulu, bahagia karena hal yang sederhana. Reyan juga ingat, bagaimana Azel sering menangis ketika Tia tidak mengajaknya jalan-jalan. Dia harus berusaha keras membujuk gadis itu, sekarang putrinya sebentar lagi menjadi istri orang.


" Lo memang ayah yang terbaik, bro." Kata Dio sambil menepuk pundak Reyan. Dia memang menyadari, jika Reyan selalu berusaha yang terbaik untuk anak-anaknya.


" Lo juga, dan gue gak pernah meragukan itu." Jawab Reyan sambil tersenyum, dia ingat bagaimana Dio dengan senang hati ketika mengetahui jika Alia, Aelie, Asiel, dan Aron ternyata anak kandungnya.


" Kalau gue sendiri kadang merasa gagal menjadi ayah untuk Alia, Aelie, Asiel, dan Aron. Aku dan Tia saling menguatkan, bahwa kami bisa menjadi orang tua yang baik untuk mereka."


" Gue juga merasa Resa selalu mendukung dan menyemangati, padahal usianya masih sangat muda. Malah bisa dibilang, dia seusia


anak-anak kita."


" Itu buah kesabaran lo, maaf dulu kami egois buat lo dan Azel." Kata Dio, Reyan tersenyum.


" Yang lalu, biarlah berlalu. Sekarang, kita sudah sama-sama bahagia."


****


Mereka semua sarapan pagi dengan berbagai macam hidangan. Seperti biasanya, Resa selalu makan buah-buahan terlebih dahulu. Reyan memandangi wajah cantik istrinya itu, selalu membuatnya bahagia.


__ADS_1


" Kamu mau makan salad?" tanya Resa, Reyan menggeleng.


" Hari ini aku makan makanan yang berat aja, jarang-jarang kita ngumpul kayak begini." Jawab Reyan, Resa mengangguk. Dia masih memakan buah-buahan segar yang ada di meja.


__ADS_2