Beauty Girl

Beauty Girl
Kebersamaan


__ADS_3

" Makasih daddy." Sahut Azel, Reyan mengangguk sambil tersenyum. Putri kecilnya dulu, sebentar lagi akan menjadi istri orang lain.


Tia tersenyum memandang wajah Azel, dia tahu luka yang selama ini ditorehkannya masih membekas di hati putrinya itu. Ada penyesalan yang mendalam, jika mengingat bagaimana dia memang dibutakan cinta saat itu. Padahal Reyan juga tidak mencintai Tia, tapi dia tetap setia dengan mantan istrinya itu. Hingga Resa menikah dengan Reyan, membuat laki-laki itu percaya cinta.


Reyan dulu saat menikah dengan Tia, dia masih berharap jika mereka akan bisa saling mencintai. Namun, Tia justru mengkhianati pernikahan mereka. Reyan semula tidak menghiraukan pengkhianatan itu, hingga dia akhirnya menyerah. Sebenarnya Tia juga tidak tahu kenapa dia tidak bisa mencintai laki-laki seperti Reyan, dilihat dari manapun Reyan lebih dari Dio. Tapi ketika cinta sudah berkata, tentu saja segala kelebihan Reyan akan kalah dengan satu kekuatan Dio. Yaitu, Tia dan Dio saling mencintai.


Roni izin pulang, karena dia ada urusan mendadak. Pikiran Roni saat ini plong, karena dia sudah mendapatkan restu dari keluarga Azel. Tia memandangi Azel, dia tidak menyangka jika gadis kecilnya itu sebentar lagi akan dipersunting orang lain. Ada setitik kesedihan yang menghampiri Tia, selama ini dia tidak terlalu memperhatikan tumbuh kembang Azel. Bisa dibilang Azel dipilih kasihkan oleh Tia dengan anak-anaknya yang lain.


Resa dan Reyan mengerti, saat ini Tia hanya ingin berdua dengan Azel. Mereka memberi kesempatan keduanya untuk mengobrol, sejak pindah keluar negeri Azel dan Tia memang tidak pernah bertemu lagi.


" Maafin mama ya, sayang." Kata Tia dengan penuh penyesalan, diperlukan putri cantiknya itu. Azel membalas pelukan ibunya, dia sama sekali tidak ada dendam dengan Tia. Tia memang sudah membuat hatinya sakit berulang kali, tapi itu sudah masa lalu.


" Mama Tia, Azel sudah memaafkan sebelum mama minta maaf." Jawab Azel, sambil menghapus air mata yang mengalir diwajah ibunya.


" Azel nggak dendam kan sama mama, sayang?" tanya Tia sambil memandang wajah putrinya itu, Azel menggeleng.


" Bagaimanapun Mama Tia dulu, itu sudah menjadi masa lalu. Lagi pula sekarang, kita sudah sama-sama bahagia. Tidak ada alasan Azel, untuk dendam dengan Mama Tia. Meskipun Azel tidak mengelak, jika luka itu memang belum sembuh sepenuhnya. Tapi semua sudah terjadi, dan Azel yakin ini yang terbaik." Jawab Azel, Tia memandangi wajah gadis dihadapannya itu dengan penuh rasa bangga. Azel selama ini, kurang kasih sayang darinya. Tapi dengan lapang dada, gadis itu memaafkannya.


" Makasih sayang, mama sayang banget sama Azel."


" Azel juga sayang banget sama mama." Jawab Azel, Resa melihat pemandangan itu dari jauh. Dia merasa sangat bahagia sekaligus terharu, karena Azel dan Tia sudah saling mengungkapkan rasa sayang mereka. Selama Azel mengunjungi Tia, gadis itu selalu pulang menangis didalam kamar. Resa tahu perasaan terpendam Azel selama ini, gadis itu berusaha tegar dihadapan orang lain. Tapi ketika sendiri dia rapuh, oleh karena itu, Resa berusaha selalu ada untuk Azel. Mendengarkan curhatan dari Azel, segala keluh kesah gadis itu. Azel memang sangat nyaman bercerita kepada Resa, mungkin karena usia mereka seumuran.



" Azel, mama mau pulang dulu ya. Papa Dio udah jemput, nanti kita ketemu lagi." Kata Tia kemudian, Azel mengangguk.


" Sebentar, Azel panggilkan Mommy Sa dan daddy dulu." Jawab Azel, dan segera berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar Resa dan Reyan.


Resa sudah masuk kamar, dia akan memanggil Reyan untuk makan malam bersama. Namun Azel memberitahu jika Tia akan pulang, Resa segera turun kebawah. Tia sudah dihalaman rumah, disana Dio sedang menunggunya.


" Kak Tia pulang sekarang?" tanya Resa, Tia mengangguk.


" Iya Sa, Dio sudah jemput sama anak-anak." Jawab Tia, dan menunjuk mobil Dio.


" Kak Tia, Kak Dio dan anak-anak makan disini aja."


" Tapi, Sa.."


" Udah, gak papa." Jawab Resa, dia ingin hubungan Reyan dengan keluarga kecil Tia baik-baik saja.


Tia memanggil Dio dan keempat anaknya yang lain, untuk makan bersama dirumah Reyan. Awalnya Dio menolak, karena bagaimanapun dia masih merasa sangat bersalah dengan Reyan.


" Sayang, ini Resa loh yang ngajak. Aku gak enak sama dia, lagi pula ini bisa mencairkan suasana diantara kita dan Reyan." Kata Tia, berusaha membujuknya suaminya itu. Akhirnya Dio mengangguk setuju, dia juga ingin minta maaf dengan Reyan.


Reyan mencari keberadaan istrinya, dia melihat jika mereka sedang duduk dimeja makan. Disana ada Tia, Dio, dan keempat anak mereka. Sebenarnya, Reyan tidak ada dendam lagi dengan Tia dan Dio. Tapi hubungan diantara mereka, memang sempat tidak baik.

__ADS_1


" Kalian makan yang banyak ya!" kata Resa kepada keempat anak Tia dan Dio, mereka mengangguk.


" Okay, kak." Jawab mereka serempak, Resa hanya mengangguk dan tersenyum. Memang sebenarnya tidak salah, karena usianya masih sangat muda. Tapikan dia istri Reyan, jadi seharusnya mereka memanggilnya tante.


" Kalian boleh panggil dia, Mommy Sa." Kata Reyan menghampiri mereka semua.


" Ayah?!" seru mereka sambil memeluk Reyan. Bagaimanapun dulu mereka menganggap Reyan adalah ayah mereka, hingga kenyataan mengatakan jika Dio adalah ayah kandung mereka.


" Hallo sayang, apa kabar?" tanya Reyan, dia juga sebenarnya merindukan keempat anak ini. Tapi apa boleh buat, dia hanya berkomunikasi dengan Tia tentang Azel.


" Ayah kenapa gak pernah jenguk kami?" tanya mereka, sebenarnya anak terakhir Tia dan Dio belum mengerti siapa Reyan. Tapi dia tahu dari kakak-kakaknya, jika Reyan adalah ayah mereka. Sedangkan Dio adalah papa kandung mereka.


" Maafkan ayah, sayang. Boleh ayah minta sesuatu kepada kalian?" tanya Reyan, mereka semua mengangguk.


" Mulai sekarang panggil ayah, daddy. Supaya panggilan kalian, sama dengan Kak Azel dan Miu. Maukan?" tanya Reyan, keempat anak itu mengangguk.


" Yuk kita makan!" ajak Reyan, mereka mengangguk. Dio tersenyum melihat keakraban anak-anaknya dengan Reyan, mereka pasti sangatlah menyayangi laki-laki itu. Tapi beberapa tahun terakhir, Reyan tidak pernah lagi mengunjungi mereka. Alasannya, pasti karena hubungan antara Reyan, Dio, dan Tia memang tidak baik-baik saja.


" Apa kabar, bro?" tanya Reyan kepada Dio.


" Alhamdulillah, baik. Kalo lo pasti baik ya kan?" jawab Dio kepada Reyan, dia sebenarnya masih kaget karena Reyan memulai pembicaraan dengannya.


" Alhamdulillah."


" Kakak cantik banget." Puji Aron, anak terakhir Dio dan Tia.


Aron saat ini berusia 4 tahun, Asiel 7 tahun, Aelie 15 tahun, dan Alia 17 tahun.Resa tersenyum bahagia, karena sekarang mereka sudah terkumpul dalam satu meja.


" Kak Tia, Kak Dio, kalian mau nggak nginap disini? lagian anak-anak liburkan sekolahnya?" tanya Resa, dia ingin Azel bisa menikmati kasih sayang Tia sebelum gadis itu menikah. Tia memandang kearah Dio, laki-laki itu terdiam sesaat.


" Setuju!" jawab Aron, mereka tertawa melihat anak kecil menggemaskan itu.


" Miu sayang, kamu maukan tidur sama Aron?" tanya Resa kepada Miu, dia mengangguk dan tersenyum.


" Of course, Mommy Sa." Jawab Miu, Aron tersenyum senang. Dia memeluk Miu, menurutnya Miu sangat tampan dan juga baik.


Azel tersenyum melihat pemandangan seperti ini, dia sangat merindukan Tia juga keempat adiknya. Namun jika bersama Resa, kesedihan itu memang bisa terobati.


" Apa Miu tidur dengan Kak Resa?" tanya Aron, Resa menggelengkan kepalanya. Aron menunduk sedih, dia ingin tidur dengan Resa juga Miu.


" Kenapa sedih?" tanya Reyan kepada Aron.


" Boleh Aron dan Miu tidur dengan Kak Resa?" tanya Aron kepada Reyan. Reyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak bisa bermesraan dengan Resa apabila ada anak-anak.


" Aron kamu tidur sama Miu, Kak Resa tidur sama Daddy Rey." Kata Dio kepada anaknya itu, Aron merengut.

__ADS_1


" Aron boleh tidur sama Kak Resa, Miu, dan juga daddy." Sambung Reyan, dia tidak tega dengan anak kecil itu. Sepertinya, Aron sangat menyukai Resa.


" Benarkah?" tanya Aron, Reyan mengangguk.


" Asiel juga mau tidur sama Kak Resa dan Daddy Rey." Rengek Asiel kepada Reyan, Resa tersenyum.


" Asiel juga boleh tidur sama Daddy Rey." Jawab Resa, Asiel meloncat kegirangan. Rumah mereka kali ini terasa begitu ramai, karena kehadiran Tia, Dio, dan keempat anaknya.


" Makasih Kak Resa."


" Sama-sama, sayang."


Aron dan Asiel ingin tetap memanggil Resa dengan sebutan kakak, bukan mommy. Karena menurut keduanya, Resa seumuran dengan ketiga kakak mereka.


" Aelie sama Alia kalian mau tidur dengan Azel atau dikamar tamu?" tanya Resa, Aelie dan Alia berpandangan. Mereka sebenarnya ingin tidur dengan Azel, tapi Aelie dan Alia takut jika Azel tidak nyaman dengan kehadiran mereka.


" Aelie sama Alia tidur dikamar Azel aja, Mommy Sa. Lagian, kami sudah lama tidak tidur bersama." Sahut Azel, Aelie dan Alia tersenyum mendengar jawaban kakaknya itu.


" Baiklah kalau begitu, Mommy Sa mau menyiapkan kamar untuk Mama Tia dan Papa Dio dulu ya." Kata Resa, mereka mengangguk.


Resa merapikan kamar tamu, dan mengganti selimut, sprei, sarung bantal dan guling. Dia sudah sering melakukan hal ini, Resa memang suka bersih-bersih rumah.



" Kak Resa cantik banget, Zel." Kata Alia kepada Azel, gadis itu mengangguk setuju.


" Selain cantik, baik, cerdas, Mommy Sa juga jago banget masak." Kata Azel, Aelie dan Alia mengangguk sambil tersenyum. Mereka sudah merasakan bagaimana masakan Resa, yang sangat enak itu.


" Kamu bisa masak, sayang?" tanya Tia kepada Azel.


" Bisa, Mama Tia mau coba masakan Azel?"


" Boleh."


" Besok, nanti kita masak-masak."


Mereka mengangguk setuju, Resa keluar dari kamar tamu yang sudah siap ditiduri.


" Kak Tia, Kak Adit kalian kalau mau istirahat masuk aja. Kamarnya udah siap." Kata Resa sambil tersenyum.


" Makasih, Ra. Maaf merepotkan."


" Gak sama sekali, malah aku senang rumah jadi rame. Miu, Aron, Asiel kalian mau tidur sekarang sayang?" tanya Resa, mereka mengangguk.


" Azel sayang, ajak Aelie dan Alia kekamar, kayaknya mereka sudah ngantuk."

__ADS_1


" Okay Mommy Sa."


__ADS_2