Beauty Girl

Beauty Girl
Peristirahatan terakhir


__ADS_3

Roni segera menjemput Azel kerumah sakit, dan membawa pulang bayi cantik Resa dan Reyan. Sedangkan Reyan menemani istrinya didalam ambulance, hatinya sangat sakit, seperti disayat- sayat oleh ribuan sembilu. Ingin rasanya Reyan segera menyusul istrinya pergi, namun ia juga masih memikirkan nasib putri kecil mereka dan Miu.


" Kenapa kamu pergi secepat ini, sayang?" lirih Reyan dengan air mata yang menetes di pipi mulusnya, yang sedang duduk disamping jenazah istri cantiknya.


Seandainya dia tahu malam tadi adalah malam terakhir dirinya dengan Resa, Reyan ingin menikmati lebih lama waktu berdua melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Reyan merasa, dirinya masih belum bisa membahagiakan istrinya, walaupun kenyataannya Resa sangat bahagia hidup dengan Reyan.


Dua jam setelah sampai dirumah duka, Resa diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Azel berusaha tegar menghadapi kenyataan, jika perempuan yang sudah dianggapnya ibu dan sahabat itu sudah pergi. Azel merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu dari Resa, walaupun jarak usia mereka hanya terpaut dua tahun. Namun sikap Resa yang dewasa, sudah membuat Reyan dan Azel sangat menyayangi gadis itu.


Reyan ikut memakamkan istrinya, sebisa mungkin dia menahan tangisnya ketika meletakkan jenazah Resa keliang lahatnya. Banyak kata "seandainya" yang berputar-putar dikepalanya, namun itu tidak berguna lagi. Saat ini, yang terpenting adalah mendoakan Resa supaya dia bahagia disana.

__ADS_1


Satu persatu pelayat pergi, kini tinggal Azel, Miu, Reyan, dan juga Roni. Reyan masih setia menatap nisan istrinya dengan tatapan sendu, dia tidak menyangka akan ditinggal Resa secepat ini. Mengingat usia Resa yang baru 25 tahun, dan dirinya yang sudah 41 tahun.


Azel, Miu, dan Roni menunggu didalam mobil dan masih memandangi Reyan yang sedang meratapi kepergian istrinya. Azel mendekati daddynya, karena memang hari sudah hampir senja.


" Daddy." Reyan menengadahkan kepalanya, menatap putrinya yang berdiri disampingnya.


" Kita pulang sekarang ya." Reyan mengangguk, dengan langkah malas dia masuk ke mobil.


Sedangkan didalam rumah, bayi cantik Reyan dan Resa sejak tadi menangis. Mungkin sepertinya dia tahu, bahwa dia telah ditinggalkan ibunya pergi selama-lamanya. Azel mengambil alih bayi cantik itu dari Mama Tya nya, namun tidak juga berhasil membuatnya berhenti menangis.

__ADS_1


Reyan menghampiri bayinya dengan wajah sembab, digendongnya bayi cantik itu dengan penuh kasih sayang. Wajah bayi itu mengingatkan Reyan kepada seseorang, orang itu ialah istrinya sendiri yang telah pergi menghadap Sang Khalik. Pelan-pelan tangisan bayi itu mereda, dia sepertinya sangat nyaman dipelukan daddynya.


Air mata Reyan kembali menetes, jika ada perlombaan menangis mungkin dia akan menjadi pemenangnya. Seorang bayi kecil yang seharusnya mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya, tapi harus kehilangan ibunya saat batu dilahirkan.


" Jadi anak yang sholehah ya sayang, dan juga berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. " Reyan mencium pipi chubby putrinya dengan penuh kasih sayang. Roni mendekati Reyan, sambil menepuk pundaknya.


" Ini pasti berat banget buat lo, tapi gue yakin lo orang yang kuat."


" Thanks bro." Jawab Reyan, sambil memaksakan senyumannya.

__ADS_1


" Kamu sudah memberi nama buat putri kamu, Rey?" tanya Tya, Reyan menggelengkan kepalanya.


" Mungkin Resa sudah memberikan nama untuk putri kami, lewat surat yang dia tulis kemarin."


__ADS_2