
Resa keluar dari rumah untuk menghirup udara segar. Hari ini, Resa ingin menikmati indahnya kota yang belum banyak polusi. Resa akan berjalan-jalan sebentar untuk menikmati keindahan taman didekat rumahnya yang dulu.
" Hubby, aku mau jalan-jalan sebentar."
" Aku ikut denganmu."
" Bukannya kamu ada pekerjaan hari ini?"
" Sudah selesai."
Resa mengangguk, Azel datang dan bertanya kepada mereka kemana mereka akan pergi.
" Daddy, mau kemana?" tanya Azel.
" Mau jalan-jalan bentar sama mommy."
" Aku ikut, bolehkan?" tanya Azel dengan memasang mimik wajah imutnya. Reyan memandang kearah istrinya, Resa mengangguk setuju.
Mereka keluar rumah dan lari santai didekat perumahan mewah itu. Perumahan itu milik Reyan,dirancang dengan konsep modern dan mewah. Mereka jalan-jalan santai sambil menikmati udara yang masih segar, sesekali Azel ingin istirahat karena kelelahan.
" Kamu masih terlalu muda Azel, harus semangat!" kata Reyan kepada putrinya itu.
" Daddy, I'm so tired," katanya merengek lucu.
Mata Resa tidak bisa berpaling dari anak kecil yang sedang menjajakan dagangannya dipagi hari ini. Resa mendekati anak kecil itu dan meninggalkan suaminya dan Azel, usia bocah itu mungkin hanya sekitar 5 tahunan.
" Hai, jualan apa ganteng?" tanya Resa lembut.
" Jualan kue kak sama gorengan," kata anak itu dengan lugunya. Reyan dan Azel mendekati Resa yang tadi meninggalkan mereka.
__ADS_1
" Berapa harganya?" tanya Reyan.
" Satu seribu."
" Kamu mau?" tanya Reyan kepada Resa, istrinya mengangguk.
" Azel mau juga, sayang?" tanya Resa dan anak itu juga mengangguk.
Mereka memilih 5 kue dan gorengan, kemudian Reyan menyerahkan uang seratus ribu kepada anak itu. Bocah kecil itu terlihat menghitung jumlah nol yang ada di uang.
" Gak ada kembaliannya,om. Uang kecil aja, ada gak?"
" Ini buat kamu semuanya, boy. Gak perlu kembalian," kata Reyan mengelus-elus rambut anak itu.
" Nama kamu siapa, sayang?" tanya Resa.
" Miu, kak."
" 5 tahun."
" Dimana rumah kamu, sayang?" tanya Reyan sambil mengangkat tubuh Miu dan mendudukkan anak itu diatas kakinya.
" Disitu!" jawabnya polos.
Reyan melihat sebuah rumah kecil yang mungkin tidak layak huni lagi.
" Tinggal sama siapa disana?" tanya Azel.
" Sama nenek, tapi kata tante, nenek lagi pergi dari beberapa hari yang lalu. Jadi aku nginap dirumah tante. Disebelah rumah aku, itu rumah tante."
__ADS_1
Resa memandang wajah anak kecil yang sangat menggemaskan itu, entah kenapa sekecil ini ia harus hidup mandiri. Reyan menatap wajah istrinya yang terlihat sedih melihat Miu.
" Boleh om menemui Tante Miu?" tanya Reyan, dan Miu mengangguk.
Mereka menuju rumah Tante Miu yang sederhana, namun lumayan bagus. Diketuk Reyan pintu rumah itu dan mengucapkan salam.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
Tante Miu melihat keponakannya bersama tiga orang yang tidak dikenal terlihat kebingungan.
" Maaf Tuan, apa Miu membuat kesalahan?" tanya Tante Miu.
" Boleh saya masuk ?" tanya Reyan.
" Silahkan, tuan!"
Resa, Reyan dan Azel masuk kerumah yang sederhana, namun sangat nyaman.
" Saya Reyan, ini Resa dan Azel, kami tinggal di komplek seberang.
Tante Miu mengangguk, dia sudah tahu dari penampilan mereka adalah orang yang sangat kaya. Namun , dia juga takut mereka akan menculik keponakannya.
" Maaf boleh saya tahu, apa Miu anak yatim piatu?" tanya Reyan.
" Benar, tuan. Orang tua Miu meninggal saat dia berusia beberapa bulan, dan neneknya yang merawat sejak saat itu. Namun beberapa hari yang lalu, beliau juga pergi untuk selama-lamanya."
Reyan mengangguk dan mengelus-elus rambut Miu, Resa terus menatap Miu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Miu