
Reyan meraju dengan Resa yang menertawakan dirinya. Reyan bingung kenapa sekarang dia yang manja dan kekanak-kanakan padahalkan usianya lebih tua?
" Aku hanya bercanda, jangan anggap serius." kata Resa berusaha membujuk Reyan.
" Apa benar aku terlihat tua?"
" Kamu sangat tampan dan juga keren, aku yakin banyak orang yang iri denganku apabila mereka tahu kamu sudah menikah."
Kini bibir Reyan kembali tersenyum mendengar pujian dari Resa. Ia sangat bahagia mengetahui bahwa Resa ternyata sangat dewasa meskipun usianya belum 17 tahun. Resa memasangkan dasi untuk Reyan dengan hati-hati. Mungkin kejadian semalam bukan keputusan yang salah untuk dirinya,dengan begini ada seseorang menjaga nya.
Resa menatap Reyan dengan lekat dan penuh senyuman, laki-laki itu terkadang terlihat kekanak-kanakan dihadapan Resa.
" Kenapa kamu menatap aku seperti itu? apa aku tampan?"
Resa menahan tawa melihat Reyan dengan ekspresi yang dipaksakan terlihat imut.
" Haruskah aku mengulanginya lagi?" kata Resa, ia tidak ingin membuat suaminya insecure seperti tadi apalagi dahulu dia selalu saja mengalami hal itu.
" Iya."
" Baiklah, kamu sangat tampan my hubby."
Resa menikah dengan Reyan sebenarnya bukan karena terpaksa, tapi ia tidak menampik bahwa saat itu dia terkejut. Sejak melihat Reyan pertama kali, Resa terpesona dengan suaminya itu. Wajahnya sangat tampan, mungkin seperti itulah wajah pacar impiannya dulu. Ditambah sikap Reyan yang menghargai Resa juga terlihat tulus kepada dirinya.
Selesai makan, Resa mencuci piring bekas dirinya dan juga Reyan.
" Kamu tidak perlu mencucinya yang, nanti ada beberapa asisten yang akan datang."
" Boleh aku minta sesuatu?".
" Tentu, apapun yang kamu mau."
" Aku ingin diakhir pekan, para asisten kamu tidak perlu datang."
" Kenapa?"
" Mereka juga perlu istirahat diakhir pekan, biarkan saja. Mereka boleh pulang sesudah aku selesai les."
" Apa kamu tidak kelelahan?"
"Tentu saja tidak, lagi pula aku ingin mengenal kamu lebih banyak."
" Ya sudah jika itu kemauan kamu." Kata Reyan sambil mengusap-usap rambut Resa. Resa terdiam sejenak disitu, membuat Reyan menatapnya heran.
" Ada apa,yang?"
" Aku minta uang saku!" kata Resa malu-malu.
Reyan tertawa melihat Resa, bagaimana mungkin ia sampai lupa memberikan istri kecilnya itu uang.
" Biasanya berapa kamu mendapat uang saku?"
" Hmmmm, sepuluh ribu dengan uang untuk les."
" Apa itu cukup?"
" Tentu, aku membawa bekal," kata Resa mengangkat Tupperware yang ada ditangannya. Reyan mengeluarkan uang seratus ribu dan menyerahkan kepada Resa.
" Ini uang buat kamu."
" Hmmmmm, tapi aku tidak ada kembaliannya."
__ADS_1
" Kamu kira aku pembeli dan kau penjual? tentu saja ini semua untuk kamu."
" Benarkah?" tanya Resa memastikan, sambil menatap uang seratus ribu itu.
" Tentu," jawab Reyan, kemudian Resa mencium tangan suaminya itu.
" Terima kasih, kamu sangat baik."
" Tentu saja, apapun untukmu sayang."
Kemudian Resa segera keluar rumah dan mengayuh sepedanya dengan gembira. Entahlah, kisah cintanya tidak seperti di sinetron biasanya yang sangat dramatis menolak pernikahan karena perjodohan. Mungkin karena ia juga menyukai Reyan, meskipun usianya lebih tua daripada dirinya 16 tahun.
Reyan segera bersiap-siap menuju kantornya, karena ia harus mengadakan meeting penting di perusahaan. Senyuman terlukis dibibir indahnya itu, ia sangat bahagia karena Resa tidak menangis atau mengamuk ketika harus menikah dengan dirinya. Sebelum masuk mobil, Reyan bercermin sesaat di kaca mobilnya.
" Aku memang sangat tampan dan keren," katanya sambil tersenyum melihat dirinya sendiri.
Sejak pagi tadi saat Resa memuji Reyan, dia merasa ketampanannya bertambah berkali-kali lipat daripada biasanya. Gadis kecil itu sangat bisa membuat Reyan bahagia.
Sesampai dikantor Reyan segera menuju ruang meeting dan disana dirinya sudah ditunggu para manajer dan direktur perusahaan. Dirinya adalah CEO diperusahaan miliknya itu.
Sesudah meeting dilaksanakan, Roni dipanggil Reyan keruangannya.
" Selamat pagi, Rey!"
" Pagi, Ron."
" Ada apa kamu memanggilku kesini?"
" Apa kamu tahu hadiah yang disukai gadis remaja usia kira-kira 17 tahun?"
" Bukannya usia anak sulungmu 15 tahun?" tanya Doni balik.
" Itu bukan untuk anakku tapi istriku."
" Apa kamu katakan tadi? aku gila?"
" Tentu saja, dan bukan itu saja, kamu juga pedofil."
" Apa kamu sudah bosan bekerja disini?" tanya Reyan dengan tampang serius.
" Aku menyesali perkataanku. Kapan kamu menikah dengan gadis itu?"
" Malam tadi sesudah magrib," kata Reyan.
" Boleh aku melihat foto istrimu?"
" Untuk apa? kamu pasti jatuh cinta ketika melihatnya."
" Apakah dia secantik itu?''
" Tentu saja, hingga dia membuat diriku insecure ketika bersamanya. Namun tadi pagi, dia memujiku dan itu membuatku merasa semakin tampan."
" Pasti dia menyesali perkataannya itu."
" Maksudmu?"
" Maksudku,pasti dia menyesali karena dia baru menemukan laki-laki seperti kamu." Kata Roni mencari alasan.
" Tentu saja. Jadi tempat apakah yang disukai para wanita?"
" Kamu bisa mengajaknya shopping di mall, beli makeup, skincare, pakaian, dan apapun yang diinginkannya."
__ADS_1
" Baiklah, terima kasih. Kamu boleh keluar!"
Roni terpaksa harus keluar dari ruangan Reyan, padahal dia betah duduk di kursi yang ada diruangan itu. Roni adalah sahabat Reyan dari kecil dan sekaligus direktur di perusahaan.
Resa seperti biasa sesudah sekolah, ia akan pulang sebentar untuk makan. Kemudian setelah itu, ia akan berangkat ketempat les. Resa les 2 kali seminggu, dihari Senin dan juga Selasa.
Sepulang dari tempat les, Resa masuk kedalam rumah. Dia kira Reyan belum pulang, padahal laki-laki itu sudah menunggunya dari satu jam yang lalu.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
" Kamu sudah pulang?" tanya Resa kepada Reyan.
" Iya, aku kangen sama kamu." Jawab Reyan, dan membuat Resa nyengir.
" Kamu lapar? aku buatin makanan buat kamu,ya!"
" Jangan, kamu mandi, terus ikut aku."
" Kemana?"
" Rahasia."
Resa langsung masuk ke kamarnya dan mandi, ia harus cepat agar Reyan tidak lama menunggu.
" Hallo, ada apa ?" kata Roni sedikit kesal karena dirinya sedang makan.
" Bisakan lo ke mall nanti?"
Reyan dan Doni apabila diluar kantor mereka memang menggunakan kata lo,gue kan mereka sahabat.
" Tentu saja, apa Lo ingin beliin gue baju baru?"
" Lihat aja nanti."
Resa keluar dari kamar dengan sangat cantiknya, tentu saja membuat Reyan terpesona.
" Ayo kita berangkat, sayang." Kata Reyan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Resa.
Sepanjang jalan, Reyan selalu tersenyum dan sesekali menatap wajah cantik Resa.
" Fokus dong, kalau nyetir!" kata Resa.
" Aku gak bisa fokus kalau ada kamu."
" Ya udah, turunin aku disini aja."
" Jangan, ya udah aku fokus nih," kata Reyan masih sesekali mencuri pandang kepada Resa.
Sesampai di mall, Reyan menelpon Roni.
" Dimana?"
" Lo yang dimana?" tanya Reyan.
" Gue di parkiran yang biasa."
Reyan memandangi sekitar parkiran tersebut, kemudian Roni melambaikan tangannya.
" Dimana istri Lo?"
__ADS_1
" Ada di mobil," kata Reyan. Kemudian Resa keluar dari mobil, membuat Roni memandangi dan tidak bisa bisa berkata-kata lagi, karena terpesona dengan kecantikan gadis itu.