
Beberapa hari kemudian, Kepala Sekolah menelepon Resa dan memintanya datang ke sekolah. Resa pagi-pagi sudah bersiap-siap, setelah sarapan ia langsung mengganti pakaiannya.
" Mau kemana hari ini, yang?" tanya Reyan yang melihat istrinya itu sedan tergesa-gesa..
" Mau kesekolah, tadi Bapak Kepala Sekolah menelepon dan bilang kalau ada yang ingin beliau sampaikan."
" Aku antar ya,"
" Kamu gak ke kantor, hubby?"
" Nanti, kalau udah nganterin kamu kesekolah. Lagian kerjaan hari ini bisa di handle kok sama Roni."
" Ya udah deh, makasih ya."
" Azel tolong jaga Miu ya dirumah, jangan kemana-mana." Kata Reyan kepada anaknya yang sering kelayapan dengan teman-temannya.
" Okay, daddy."
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
Azel dan Miu mencium tangan Resa dan Reyan. Kemudian, mereka berdua segera menuju sekolah Resa. Reyan tahu bahwa yang ingin dibicarakan Bapak Kepala Sekolah Resa adalah mengenai beasiswa untuk istrinya itu, ada rasa sedih tiba-tiba menghinggapi dirinya.
" Aku tunggu disini, yang," kata Reyan setelah mereka sampai didepan sekolah yang elite itu.
" Yaudah, aku masuk dulu ya!" kata Resa dengan penuh semangat, Reyan mengangguk dan tersenyum.
Resa masuk ke gerbang sekolah yang selama ini dia menuntut ilmu, tidak ada perbedaan diantara bangunannya setelah sebulan dia tidak bersekolah. Biasanya, sekolah mereka akan melakukan renovasi atau penambahan tanaman di sekolah. Resa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ketika sudah sampai di ruangan Kepala Sekolah.
" Assalamualaikum,pak."
" Waalaikumsallam, masuk Resa." Resa mengangguk dan masuk keruangan Kepala Sekolah.
" Silakan duduk!"
__ADS_1
" Terimakasih,pak. Ada apa bapak memanggil saya kesini?"
" Hampir semua guru disini tahu, bahwa Resa adalah anak yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata anak lainnya. Apalagi, selama 3 tahun ini kamu sering menorehkan prestasi yang membuat bangga sekolah. Ditambah dengan nilai kamu yang selalu hampir sempurna. Maka kami menduga, bahwa kamulah yang akan mendapatkan beasiswa tahun ini keluar negeri. Ternyata dugaan kami benar,selamat Resa, kamu yang akan menerima beasiswa itu."
"Beneran,pak?" tanya Resa masih tidak percaya. Impiannya selama ini menjadi nyata, bisa kuliah diluar negeri di salah satu Universitas terbaik dunia.
" Iya, selamat ya. Bapak berharap, kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya."
" Terima kasih, pak."
Bapak kepala sekolah menyerahkan selembar kertas, disana tertera bahwa Resa Ayudia Fantasi menerima beasiswa tersebut. Resa menerimanya dengan senang hati, sekarang impiannya terwujud. Kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Setelah itu, Resa izin pamit dan bersalaman dengan Bapak Kepala Sekolah.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
Resa melangkah lebih lambat daripada tadi, kabar itu sungguh membahagiakan untuk dirinya. Namun, sekarang dia sudah memiliki suami yang pastinya harus ada disamping Reyan. Dia akan kuliah dan itu berarti juga meninggalkan Reyan, Miu, dan Azel disini. Bagaimanapun, sekarang dirinya memiliki tanggung jawab kepada mereka bertiga.
Impian yang dulu memang sangat diperjuangkannya, sekarang harus Resa pertimbangkan kembali karena dia sudah memiliki suami. Resa memang belum tahu, apakah dia sudah mencintai Reyan? tapi yang pasti, sekarang dia adalah istri dari laki-laki yang sangat mencintainya itu.
Reyan menunggu Resa didalam mobil, dia tahu istrinya itu sangat bahagia apabila dia mendapatkan beasiswa. Sebagai suami, Reyan akan selalu mendukung Resa untuk mengejar mimpinya. Tapi untuk berpisah jarak yang sangat jauh itu, rasanya terlalu berat untuk dirinya. Reyan ditinggal 3 hari saja oleh Resa pergi liburan sangat berat, itupun dirinya yang merencanakan. Apalagi ini bertahun-tahun, mungkin Reyan bisa datang sebulan sekali menemui istrinya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa membayangkan itu.
Ada rasa takut saat ini membayang dipikiran Reyan. Dia takut Resa menemukan laki-laki baru disana, yang bisa membuat istrinya jatuh cinta. Saat ini, rasa itu benar-benar menghantui Reyan. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, walaupun ia yakin Resa tidak semudah itu jatuh cinta.
Resa masih saja memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil? impiannya hampir terwujud, tapi ini juga bukan salah pernikahannya yang membuat hal itu dipertaruhkan. Resa merasa beruntung memiliki Reyan sebagai suaminya, meskipun jarak usia mereka jauh. Dia bahkan tidak memikirkan akan memiliki suami sebaik Reyan, yang tidak menuntut apa-apa dari dirinya. Tapi Resa sadar, ia harus mulai mencintai suaminya dan memperlakukannya lebih baik lagi.
Reyan keluar mobil dan menunggu Resa yang belum juga datang. Sebuah keputusan yang sangat membingungkan saat ini. Apa mungkin ini salahnya? dia yang menikahi Resa yang masih sekolah, dan membuat impian istrinya yang sebentar lagi terwujud itu bisa saja batal. Apa mungkin Reyan harus mengikhlaskan Resa untuk pergi kuliah?
Resa memikirkan bagaimana nasib Azel dan Miu nanti, jika ia egois tetap kuliah keluar negeri. Sekarang dia bukan hanya seorang istri, tapi juga seorang ibu dari 2 anak. Semuda apapun dia, bukan alasan untuk melupakan tanggung jawabnya. Miu dan Azel perlu sosok ibu yang selalu disamping mereka. Dan tanggung jawab itulah yang sekarang ada dipundaknya. Memastikan anak-anaknya tidak kehilangan kasih sayang orang tua.
Karena melamun, Resa tidak sengaja menambrak tubuh gurunya. Wali kelasnya tampak bingung dengan gadis itu, bukankah dia baru saja mendengar berita yang harusnya membuatnya bahagia?
__ADS_1
" Resa,"
" Astaghfirullah, maaf,bu."
" Iya, gak kenapa-napa kok. Ada apa? ibu perhatikan kamu kayaknya melamun sih."
" Gak kok, bu. Cuma sedikit pusing aja."
" Beneran?"
" Iya,Bu."
" Yaudah, hati-hati, mau ibu antar?"
" Gak, Bu. Makasih."
Resa kembali berjalan dengan melamun, ini pilihan yang sangat sulit. Lebih sulit daripada soal ujian nasional yang lalu. Dia harus memilih antara impiannya yang selama ini sudah dia perjuangkan atau melupakan cita-citanya kuliah keluar negeri dan tetap disini bersama suami dan anak-anaknya.
Reyan melihat Resa yang sedang berjalan sambil melamun sedikit heran, bukankah tadi istrinya itu sangat bersemangat? dia menghampiri gadis yang terus-menerus melamun itu.
" Sayang, ada apa?"
" Aku bingung."
" Bingung kenapa?"
" Aku bingung, karena harus memilih 2 hal yang sebenarnya ingin ku jalankan bersamaan."
" Kamu dapat beasiswa itu, yang?" tanya Reyan dengan nada sedikit bergetar. Karena sekarang, dia benar-benar takut ditinggal pergi Resa. Tapi dia juga ingin istrinya bisa meraih impiannya selama ini, untuk pergi kuliah ke luar negeri.
" Iya. Dan sekarang, itu yang membuatku bingung."
__ADS_1
" Ya sudah, sekarang kamu masuk mobil dulu. Nanti dirumah, kamu pikirkan matang-matang."
" Apapun keputusan kamu, aku akan selalu mendukung." Kata Reyan sambil menarik nafas panjang dan dalam sebelum mengatakan itu.