Beauty Girl

Beauty Girl
Bolehkah?


__ADS_3

Ketika Arabel ingin berdiri, Titan menarik tangan gadis itu. Saat ini, dia sangat ingin berdekatan dengan Arabel. Bukan hanya sekarang, tapi juga selamanya.


" Mau kemana?" tanya Titan dengan tatapan sendu.


" Tan, aku mau pulang."


" Temani aku disini." Titan melihatnya dengan tatapan penuh harap, Arabel kembali duduk di sofa.


Arabel menatap dua bola mata yang juga terus melihatnya. Arabel bingung dengan semua ini, dia tidak ingin persahabatan mereka hancur karena cinta. Sudah belasan tahun mereka berbagi canda tawa dan air mata bersama.


" Maafkan aku selama ini tidak peka dengan perasaan kamu, Tan. Aku juga sangat menyayangi kamu, tapi sebagai sahabat." Gumam Arabel, sambil merapikan rambut Titan yang berantakan. Titan sejak tadi sudah tertidur, kehadiran Arabel bersamanya membuat dirinya tenang.


Kemudian Arabel mengambil sesuatu di tas selempang miliknya. Arabel mengambil micellar water dan kapas yang sering dia bawa kemana-mana, lalu membersihkan wajah Titan. Wajah Titan memang sangat mulus dan bersih, Arabel tahu jika sahabatnya itu memang sangat tampan dan juga perhatian kepadanya. Tapi dia tidak mencintai Titan, dan itu mengapa Arabel tidak peka dengan perasaan sahabatnya.

__ADS_1


Arabel masih gamang dengan pilihan hatinya, Miu adalah laki-laki pilihan ayahnya. Sedangkan Titan dan Arya adalah laki-laki yang selalu ada untuknya selama ini, mereka bertiga sudah saling tahu kekurangan masing-masing.


****


Sinar matahari mulai menampakkan cahayanya, Titan membuka matanya pelan. Kepalanya terasa pusing, namun dia berusaha bangun. Titan berusaha mengingat kejadian malam tadi.


" Kamu sudah bangun?" tanya Arabel menghampiri Titan dan membawakan segelas air putih dan juga pisang.


" Maaf!!"


" Pasti malam tadi aku mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."Jawab Titan, Arabel menggeleng sambil tersenyum.


" Kita sarapan yuk!! aku sudah memasak nasi goreng untuk kita." Titan mengangguk dan mengikuti langkah Arabel.

__ADS_1


Arabel dan Miu asik dengan pikiran masing-masing, mereka berdua terlihat canggung satu sama lain. Dan inilah yang tidak Arabel inginkan, dia tidak ingin ada jarak dengan sahabatnya karena cinta.


" Maafkan aku!!" lirih Titan, Arabel mengangguk dan tersenyum.


" Aku juga minta maaf, karena selama tidak peka dengan perasaan kamu. Kamu tahukan? aku sangat menyayangimu, tapi hanya sekedar sahabat. Aku tidak ingin karena cinta, persahabatan kita renggang. Aku tidak ingin ada kecanggungan diantara kita setelah ini. Makasih sudah mencintai aku, Tan. Aku gadis yang sangat beruntung bisa dicintai oleh laki-laki seperti kamu. Tapi maaf, jika aku tidak bisa membalasnya." Lirih Arabel, Titan mengangguk dan tersenyum. Titan menggenggam tangan gadis yang ada disampingnya ini.


" Jika aku tidak bisa memilikimu, setidaknya ijinkan aku menjadi seseorang yang selalu ada untuk kamu." Pinta Titan, Arabel mengangguk dan memeluk tubuh laki-laki yang ada disampingnya.


" Aku yakin, kamu akan menemukan perempuan yang mencintaimu dengan tulus. Hingga kamu merasakan, indahnya mencintai dan dicintai, Tan."


" Dan aku harap, perempuan itu adalah kamu." Lirih Titan didalam hatinya yang berdenyut sakit.


" Terima kasih sudah menjadi sahabatku selama ini, dan juga terima kasih karena kamu sudah mencintaiku." Sambung Arabel lalu dia melepaskan pelukan mereka berdua, ditatapnya manik sendu milik Titan.

__ADS_1


" Aku yakin, kamu akan menemukan seseorang yang terbaik untuk kamu." Arabel menggenggam tangan Titan, dan berusaha meyakinkan laki-laki dihadapannya ini.


" Tuhan, bolehkan aku berharap lebih agar dia yang akan menjadi pasanganku? atau aku harus ikhlas melepaskan semua ini, yang terasa begitu menyakitkan?" Titan memalingkan wajahnya, dan setetes air mata mengalir tanpa permisi. Buru-buru Titan menghapuskan jejak bening itu.


__ADS_2