Beauty Girl

Beauty Girl
H-1


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan Azel dan Roni, mereka sangat gugup menunggu momen itu. Janji suci untuk dua insan yang saling mencintai. Azel tampak gelisah malam ini, Resa yang melihat itu menghampiri Azel.


" Zel," kata Resa sambil duduk diatas tempat tidur Azel. Gadis itu menoleh kearah Mommynya sambil tersenyum, meskipun otaknya sudah melayang kemana-mana.


" Mommy Sa." Jawab Azel kemudian, Resa tersenyum memandang wajah gadis dihadapannya ini.


Sudah 3 tahun lebih, Resa berstatus sebagai ibu sambung untuk Azel. Resa juga menyadari, jika gadis itu memang benar-benar jatuh cinta dengan Roni. Laki-laki yang sering menyebut Resa " little daughter" nya.


" Azel gugup, Mommy Sa." Sambung Azel, Resa mengangguk dan mengusap rambut gadis itu. Usia mereka memang hanya terpaut dua tahun, namun status mereka tentu bukan kakak dan adik. Sebagai ibu untuk Azel, Resa berusaha melakukan yang terbaik. Dia tidak ingin, menjadi ibu tiri yang kejam ataupun pemarah. Resa ingin, dia dekat dengan Azel dan itu memang terbukti.


" Mommy Sa, gugup waktu nikah sama daddy?" tanya Azel, Resa menggelengkan kepalanya.


" Mommy Sa bukan gugup, tapi lebih tepatnya shock. Hari itu, beberapa hal yang sangat tidak terduga terjadi. Namun sekarang, Mommy Sa sangat bersyukur bisa menikah dengan Daddy Rey." Jawab Resa sambil tersenyum, pernikahannya dengan Reyan memang baik-baik saja. Mungkin karena, keduanya sama-sama dewasa ketika ada masalah.


Reyan dan Miu datang menghampiri kedua gadis yang sedang mengobrol itu, kemudian ia duduk disamping istrinya.


" Asik banget ngobrolnya, ngobrolin apa sih?" tanya Reyan kepo.


" Daddy kepo deh!!" jawab Azel sambil tertawa kecil.


" Yakan daddy mau tahu, jadi daddy bisa ikut ngobrol." Sahut Reyan. Resa dan Azel memang diam, ketika Reyan datang. Mereka ingin ngobrol hanya berdua, tapi sekarang ada Miu dan Reyan.


" Kami lagi girls talk aja kok, jadi kamu gak boleh tahu." Jawab Resa sambil tersenyum, Reyan mengangguk. Resa dan Azel memang sedang girls talk, selain membahas pernikahan Azel dan Roni tadi.


" Sayang, aku mau muffin buatan kamu." Rengek Reyan dengan muka memelas, membuat Resa ingin tertawa melihat tingkah suaminya itu.


" Kamu gak diet hari ini?" tanya Resa kepada suaminya itu, Reyan menggelengkan kepalanya.


" Enggak, aku kangen deh kue buatan kamu."


" Yaudah, aku buatin dulu ya. Sayang, kalian mau Mommy Sa buatin apa?" tanya Resa kepada Azel dan Miu.


" Sama daddy aja deh, mom." Jawab Azel, Miu mengangguk setuju.

__ADS_1


Resa langsung kedapur dan membuat adonan muffin, dia terlihat seperti chef pastry hotel bintang lima. Reyan malah mendatangi istrinya yang sedang membuat muffin, dan memeluknya dari belakang.


" Kamu kayak chef hotel bintang lima loh, sayang. Jago banget." Puji Reyan kepada istrinya, kemudian mencium puncak kepala Resa lama.


" Masa sih?" tanya Resa.


" Beneran, aku tambah cinta deh sama kamu."


" Gombal."


" Beneran, sayang."


" Kamu tunggu dimeja makan ya, aku mau buat muffin dulu." Kata Resa kepada suaminya, Reyan menggelengkan kepalanya.


" Gak mau."


Resa menarik nafas dalam, dia tahu sifat manja suaminya kambuh lagi. Resa juga tidak ingin membuat suaminya sedih, karena dia tidak mau memanjakan suami manjanya itu.


" Nanti lama loh jadinya, kamu duduk dulu gih." Bujuk Resa, Reyan malah mengeratkan pelukannya.


" Aku mau panggil Azel sama Miu dulu, masa kamu mau gini terus?" tanya Resa sambil memandang wajah Reyan, yang sedang meletakkan dagunya diceruk leher istrinya. Reyan akhirnya melepaskan pelukannya, dia duduk di kursi ruang keluarga. Tidak lama, Azel dan Miu sudah datang disertai dengan Resa.


Resa duduk ditengah-tengah antara Reyan dan Miu, sedangkan Azel dia duduk


disamping Miu.


" Azel bakalan kangen deh sama masakan Mommy Sa." Kata Azel, dia malah sangat berat berpisah dengan Resa, Reyan dan Miu dihari terakhir ia tinggal dirumah itu.


" Kamu harus sering-sering datang kesini, jadi nanti Mommy Sa masakin yang banyak."


" Beneran?" tanya Azel dengan nada semangat, Resa mengangguk dengan senyuman di wajah cantiknya.


" Makasih, Mommy Sa."

__ADS_1


" Sama-sama, Zel."


*****


Roni sedang gelisah, dia tidak bisa tidur sejak tadi. Berulang kali Roni membolak-balikkan badannya, dia sangat gugup. Besok dia sangat gugup sekaligus bahagia, karena akan menikah dengan gadis cantik yang dia cintai. Roni mencoba menghubungi Azel, dia ingin melihat wajah calon istrinya itu. Siapa tahu, kegugupannya akan sedikit berkurang. Azel menerima Video Call dari Roni, dia sebenarnya ingin kembali curhat dengan Resa.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsallam, ada apa om?" tanya Azel.


" Kamu lagi sibuk?" tanya Roni, Azel menggeleng. Sebenarnya Azel ingin mandi, apalagi dia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman karena belum mandi dari pagi


" Ada apa, om?" tanya Azel lagi, dia memang ingin buru-buru mandi kemudian curhat lagi dengan Resa.


" Enggak om cuma mau lihat kamu doang, supaya gugupnya berkurang." Jawab Roni, Azel mengangguk dan tersenyum.


" Om, nanti lagi ya disambung. Aku mau mandi, udah gak enak nih badan belum mandi." Kata Azel kemudian, Roni mengangguk.


" Yaudah, Assalamualaikum."


" Waalaikumsallam."


Azel segera masuk kamar mandi, dan keluar sekitar 1 jam kemudian. Didalam kamar mandi, Azel melakukan perawatan untuk kulit tubuhnya agar terlihat sehat dan cantik.


" Kalau Azel menikah dan punya anak, kita jadi nenek sama kakek." Kata Resa sambil membayangkan, lucunya ketika dia dipanggil nenek oleh cucunya nanti. Reyan langsung menggeleng, dia tidak setuju.


" Gak mau, aku maunya kita dipanggil Daddy Rey dan Mommy Sa oleh mereka. Kalau nenek dan kakek ketuaan, kita kan masih muda." Jawab Reyan, dia memang belum ingin mempunyai cucu secepat itu. Usianya juga masih tergolong muda, jadi dia tidak ingin dia dan Resa dipanggil nenek dan kakek.


" Tapikan mereka cucu kita?"


" Gak bisa, lagian Roni kan sering nyebut kamu dan aku anak dia. Seharusnya anak-anak mereka nanti, panggil kita kakak."


" Kamu ngarang deh, Azel kan anak kita. Masa anak mereka nanti, panggil kita kakak. Lagi pula, usia kita gak pantas lagi disebut kakak loh."

__ADS_1


" Tapi kalau dilihat dari muka kan kita awet muda, sayang. Pokoknya, aku gak mau kita dipanggil kakek dan nenek."


" Yaudah, terserah cucu-cucu kita nanti panggilnya apa. Mereka pasti lucu-lucu banget deh, aku udah gak sabar." Kata Resa sambil tersenyum menatap Reyan, suaminya itu ikut tersenyum. Reyan sadar, jika Resa sebenarnya sangat ingin memiliki anak. Hingga saat ini, Allah belum memberikan mereka kesempatan untuk memiliki buah hati.


__ADS_2