Beauty Girl

Beauty Girl
Sakit


__ADS_3

Azel melongo mendengar pertanyaan Roni, dia tidak menyangka ada seseorang yang melamarnya saat ini. Apalagi, orang itu adalah Roni. Sahabat ayahnya, mereka bersahabat dari kecil. Meskipun usia Roni lebih tua daripada ayahnya, dia belum pernah menikah apalagi mempunyai anak.


" Maaf om lancang, Zel." Kata Roni dengan raut wajah yang sedih, dia tahu gadis itu pasti akan menolaknya. Tapi setidaknya, Roni sudah mengungkapkan perasaannya. Azel memandang wajah Roni, disana terlihat jelas raut kekecewaan.


" Om makasih ya, sudah mau berterus terang sama Azel." Kata Azel dengan senyuman indah dari bibirnya, Roni mengangguk sambil menunduk. Ia takut terpesona dengan senyuman gadis disebelahnya ini.


" Azel senang mendengar penuturan Om Roni, tapi....."


" Tapi apa?" tanya Roni tidak sabar.


" Tapi, Azel mau om langsung melamar aku kepada daddy dan mommy."


" Kamu serius, Zel?" tanya Roni tidak percaya lamarannya diterima oleh gadis berusia 18 tahun. Azel mengangguk dan tersenyum, dia juga sebenarnya sudah terpesona dengan Roni sejak laki-laki itu menjemput di bandara.


" Dan ada satu lagi!"


" Apa?"


" Sebaiknya, om sama Azel kita shalat istikharah dulu. Kita minta petunjuk, apa ini memang sudah jalan terbaik untuk kita berdua."


" Makasih ya, Zel. Om janji, akan membuat kamu bahagia."


" Iya, om. Aku perlu bukti dari om, bukan sekedar janji seperti kebanyakan laki-laki diluar sana."


" Kamu percayakan?"


" Insyaallah, jika om memang yang terbaik. Azel belum memberikan jawaban dari pertanyaan om, aku mau om dapat restu dulu dari daddy dan Mommy Sa juga dari mama."


" Azel kapan siap om lamar?" tanya Roni, dia memang terdengar sudah ngebet nikah. Wajar saja 39 tahun melajang, membuatnya ingin cepat-cepat menikah. Azel tersenyum dan menahan tawa, ketika mendengar pertanyaan Roni. Dia memang mencari laki-laki yang ngebet nikah.


" Terserah,om. Tapi lebih baik, ketika Mommy Sa sudah pulang. Bagaimanapun, dia adalah orang yang selalu ada buat Azel. Kalau mama nanti Azel akan meneleponnya, supaya datang ketika om melamar Azel."


" Mama kamu gak masalah Azel nikah muda?"


" Kayaknya, enggak sih. Bagaimanapun mama kepada daddy, dia adalah ibu yang hebat untuk Azel. Apalagi sekarang, Azel juga punya Mommy Sa. Dia adalah role model Azel selama ini."


" Kenapa Resa jadi role model Azel?"


" Karena Mommy Sa kan nikahnya muda banget, belum 17 kan saat itu. Dia cantik, cerdas, baik, pengertian sama daddy. Kalau Azel jadi cowok, Mommy Sa harus jadi istri Azel."


" Menurut om, Resa sama Azel memiliki kelebihan yang mirip. Kalian sama-sama cantik,cerdas, baik. "


" Makasih pujiannya,om."

__ADS_1


Mobil Roni berhenti didepan gerbang sekolah yang sangat elite, walaupun hanya dilihat dari luar saja. Disana Miu memang sampai sore, karena dia mengikuti beberapa les tambahan. Azel keluar dari mobil dan dia memeluk Miu. Mereka memang sangat akrab, seperti saudara kandung sendiri. Ditambah Resa selalu menanamkan kepada mereka, bahwa Miu dan Azel adalah saudara sekarang. Dia tidak pernah pilih kasih dengan kedua anaknya itu.


" Yuk, masuk! Om Roni yang jemput kita hari ini."


" Daddy dimana, Kak Zel ?" tanya Miu.


" Daddy paling sudah pulang, dia lagi sakit."


Reyan pulang diantar oleh supir perusahaannya, karena badannya terasa sangat sakit. Entah, apakah ini karena dia terlalu memikirkan Resa disana? hampir 4 tahun mereka membangunkan rumah tangga, namun hal itu tidak mengurangi rasa cinta Reyan kepada Resa. Siapa sih yang tidak mencintai istri seperti Resa? cantik, cerdas, baik, pengertian, dan yang pasti penyayang.


Resa sedang bersiap-siap menuju bandara, karena dia akan pulang hari ini. Mungkin besok tengah malam, dia baru sampai di Indonesia. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan suaminya disana. Laki-laki itu memang pekerja keras, tapi Resa tidak ingin Reyan sampai sakit gara-gara pekerjaan.



Ketika sampai didepan gerbang rumahnya, Reyan melihat mobil lain yang ada didepan gerbang yang luas itu. Tidak salah lagi, pasti itu Roni dengan anak-anaknya. Disana, masih ada Roni yang sedang mengobrol dengan Azel.


" Daddy sakit apa?" tanya Azel ketika melihat Reyan kelihatan sangat pucat.


" Gak papa, Zel. Daddy cuma perlu istirahat aja."


Setelah itu Roni pamit pulang, karena saat ini belum tepat untuk menyampaikan keinginannya kepada Reyan. Sahabatnya itu terlihat lemas dan juga pucat. Reyan segera masuk kekamarnya, dan mengganti pakaian.


Resa menelepon Azel, dia ingin tahu keadaan suaminya saat ini. Tadi, Reyan terlihat sangat bahagia ketika mereka sedang berbicara lewat telepon.


" Waalaikumsallam, Mommy Sa."



" Bagaimana keadaan daddy sekarang,Zel?"


" Daddy kayaknya demam tinggi juga sakit kepala. Wajahnya pucat banget tadi, badannya juga lemas."


" Zel, mommy minta tolong. Bilang ke bibi, minta buatin bubur. Juga minta dokter Kenan datang kerumah."


" Siap, mommy."


" Yaudah makasih, sayang."


" Mommy aku mau cerita sesuatu.."


" Ada apa,Zel?"


" Nanti deh, aku mau bilang ke bibi dulu buatin bubur. Juga mau ngajarin Miu, mommy."

__ADS_1


" Yaudah. Assalamualaikum."


" Waalaikumsallam."


Azel segera menelepon dokter Kenan, agar datang kerumahnya. Kenan adalah dokter pribadi Reyan. Reyan, Roni, dan Kenan adalah sahabat dari dulu. Oleh karena itu, dulu mereka sering hang out bareng. Tapi setelah Reyan menikah dengan Resa, dia jarang bahkan tidak pernah pergi hang out sendiri. Bukan karena Resa melarang, tapi memang Reyan ingin selalu cepat-cepat pulang kerumah. Reyan merasa sangat nyaman saat dirumah, disambut dengan senyuman dari gadis cantik bernama Resa.


" Assalamualaikum, om."


" Waalaikumsallam, Zel. Ada apa?"


" Om bisa kesini gak? daddy lagi sakit nih, tolong ya om."


" Iya, om sekarang kerumah kamu."


Setelah menelepon dokter Kenan, Resa segera mendatangi bibi didapur. Bibi memang menginap dirumahnya, sedangkan asisten lain pulang kerumah. Karena Resa kurang nyaman, apabila terlalu banyak orang didalam rumah.


" Bi, tolong buatin bubur untuk daddy."


" Tuan, kenapa non?"


" Daddy lagi sakit, Bi."


Setelah itu, Azel masuk kekamar Miu. Adiknya itu sedang mengerjakan PR dari sekolahnya. Azel mendekat dan mengelus rambut anak kecil itu. Miu terlihat sangat serius ketika menjawabnya soal.


" Banyak PR nya hari ini?" tanya Azel dengan senyum merekah dari bibirnya.


" Enggak kak, cuma ini."


" Mau ikut kekamar daddy gak?" tanya Azel kepada Miu.


" Mau, PR nya juga sudah selesai."


Azel dan Miu segera mendatangi Reyan yang sedang berbaring dengan wajah pucat. Melihat kedua anaknya datang, Reyan tersenyum. Azel memegang tubuh ayahnya, demamnya tinggi sekali.



" Daddy kenapa?" tanya Miu mendekati Reyan sambil memeluk. Reyan tersenyum dan mencium pipi putranya itu.


" Daddy gak kenapa-napa, sayang. Cuma lagi demam aja."


" Daddy, Azel sudah menghubungi Om Kenan."


Reyan mengangguk mendengar perkataan putrinya.

__ADS_1


" Makasih ya, sayang."


__ADS_2