Beauty Girl

Beauty Girl
Berjuanglah


__ADS_3

Arabel memutuskan untuk menjauhi Miu, apalagi ketika melihat interaksi Miu dan Helen yang semakin akrab. Mungkin ini adalah saatnya untuk dirinya mundur, dan membiarkan Miu untuk dimiliki Helen. Akhir-akhir ini, Arabel juga disibukkan dengan pembuatan tesisnya dan kini sudah selesai. Arabel tidak ingin memikirkan masalah cinta, apalagi sekarang sepertinya dia akan membiarkan Helen dan Miu bersama.


Sekarang, Azel mengetahui semuanya. Dia tidak ingin, karena Helen perjodohan Miu dan Arabel batal. Apalagi Azel sudah menanyakan kepada Miu, apakah dia mencintai Arabel? dan hingga saat ini, Miu sangat mencintai Arabel. Dia bingung, kenapa tiga bulan terakhir ini Arabel menjauhinya. Miu bahkan sudah berusaha untuk menanyakan semua ini kepada Arabel, namun gadis itu hanya tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban.


" Ada apa, Bunda?" tanya Arabel, kemudian dia duduk disamping Azel.


" Boleh Bunda menanyakan sesuatu kepada adek?" tanya Azel, Arabel mengangguk.


" Apa adek setuju dengan perjodohan adek dengan Miu?" tanya Azel, Arabel menghela nafas panjang.


" Adek menolak perjodohan ini, Bunda." Jawab Arabel sambil memejamkan kedua matanya, terasa sangat berat ketika dia harus mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


" Kenapa? bukankah ini permintaan terakhir daddy?"


" Karena adek tidak mencintai Kak Miu." Jawab Arabel ragu, benarkah dia tidak mencintai Miu? kenapa hatinya terasa sakit, ketika melihat Miu dengan Helen.


" Apa adek yakin? tapi Miu selama ini sangat mencintai adek." Arabel tidak menjawab, Azel memandang wajah gadis cantik dihadapannya ini.


"Bunda tahu, alasan kenapa adek menolak perjodohan ini. Jika alasan itu karena Helen, maka bunda tidak setuju dengan keputusan adek. Bunda juga tahu, kalau adek mencintai Miu. Hanya saja, mungkin adek belum menyadari jika sudah jatuh cinta kepada Miu. Tanyakan pada hati adek? apakah benar apa yang bunda katakan?"


" Miu mencintai adek, begitupun sebaliknya. Bukankah seharusnya kalian memperjuangkan cinta ini? Miu tidak mencintai Helen, tapi dia mencintai adek. Kalian berdua saling mencintai, apalagi memang ini juga pesan terakhir Daddy untuk menjodohkan kalian."


" Tapi adek dan Miu juga sudah saling cinta. Jika Helen masih memaksakan keinginannya, dia yang menjadi egois karena harus memisahkan kalian berdua. Perjuangkan cinta kalian. Untuk urusan Helen, biar bunda yang mengurusnya."

__ADS_1


" Makasih, Bunda." Arabel memeluk tubuh Azel, dia sangat bersyukur memiliki bunda seperti Azel yang tidak pernah membedakannya dengan Karin dan Helen.


Arabel menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya, namun tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit. Rasa sakit yang memang selama ini dia tahan, namun kali ini berkali-kali lipat lebih sakit. Arabel memegang dadanya, berharap rasa sakit itu berkurang. Namun tidak lama kemudian, Arabel sudah tumbang dilantai kamarnya.


Titan dan Arya datang kerumah Arabel untuk mengajaknya jalan-jalan, tapi sejak tadi telepon mereka tidak diangkat.


" Bunda, adek ada dirumah?" tanya Arya, Azel mengangguk.


" Adek lagi dikamar, kalian naik aja kekamar adek."


Titan dan Arya mengangguk dan segera menaiki tangga. Beberapa kali mereka mengetuk pintu, namun tidak ada juga jawaban dari Arabel.

__ADS_1


" Ada apa?" tanya Azel kepada dua sahabat Arabel.


" Dari tadi adek belum membuka pintu, Bunda." Titan dan Arya khawatir sesuatu terjadi kepada sahabatnya itu. Azel langsung mencari kunci cadangan untuk membuka kamar Arabel.


__ADS_2