
Gini deh nasib jadi orang jelek, mau jadi cantik harus tidur dulu. Lewat dijalan, tetangga selalu melihatku dalam waktu yang lama, bukan karena aku terlalu mempesona dan cantik, ya karena aku dekil, hitam, dan satu hal yang menambah deretan kekurangan ku yaitu jerawatan. Sebenarnya sih gak ada standar pasti setiap orang bisa dibilang cantik atau gak, tapi kalau dekil gini aku udah tahu jawabannya pasti jelek lah.
Ya, aku selalu saja mengeluh apabila didepan cermin, aku merasa tidak seberuntung yang lain. Pintar? gak biasa ja, bahkan pernah ada kuis bahasa Inggris, guruku menanyai tentang nama benda yang asing ditelingaku dalam bahasa Inggris dan aku tidak bisa menjawabnya.
" Makanya belajar, kamu gak usahanya sama sekali. Kuis gini aja gak bisa jawab,"
Dan kudengar suara teman-teman menertawakan aku. Aku udah berusaha kok, tapi sulit ini bukan bidang yang aku sukai. Selanjutnya apa kekuranganku lagi ? ya, bisa ditebaklah pasti jelek dan ini yang membuat aku paling insecure.
Namun selalu saja ada bisikan ketika aku sedang bercermin,"You are beautiful girl,"dan aku tahu yang memuji diriku, hanyalah diriku sendiri yang sedang menguatkan hati yang rapuh.
Dan lagi-lagi karena aku jelek, jadi gak bisa deh kayak teman-temanku, punya pacar yang cinta dan bucin sama mereka. Hal itu yang selalu aku khayalkan, pengen deh punya cowok ganteng, keren, baik, romantis, tapi khayalan itu juga gak boleh terlalu tinggi, sadar diri juga kalau jelek. Mimpi jadi Cinderella dapat pangeran sedang wajah aku aja gak kayak Cinderella.
" Coba dong kamu urus wajah sama muka,dekil banget, hitam, jerawat nya tuh besar-besar banyak lagi," kata mama
Udah biasa, selalu saja begitu. Hinaan itu memang selalu singgah di telinga ku. Aku berusaha menenangkan diri, emang bener yang mereka katakan, jadi kenapa aku harus marah? tapi ini juga tidak dibenarkan, aku selalu terlihat biasa-biasa saja ketika mereka menghinaku.
Siapa sih yang gak pengen cantik? semua orang mau, tapi aku belum tahu pasti deskripsi cantik menurut orang lain itu seperti apa? putih, langsing, mulus, glowing? tapi semua hal itu perlu modal. Diakan baru lulus SMP, uang jajan juga belum banyak, buat belanja aja masih kurang, terus ini disuruh buat perawatan demi mempercantik diri.
Sepertinya orang lain tidak tahu rasanya jadi seperti dia, setiap hari hanya dapat cacian karena jelek. Sebenarnya, Resa tidak jelek, dipandanginya wajahnya didepan cermin jika dipandang lebih lama, ada kecantikan yang terpancar dari wajahnya.
Resa tersenyum memandang dirinya sendiri,
Tuhan tidak sejahat itu Resa , yang kamu lakukan saat ini hanya terlalu memikirkan kekurangan dirimu tanpa berpikir sebenarnya Tuhan juga banyak menitipkan kelebihan pada dirimu. Tinggal bagaimana kamu mensyukuri dan menjaganya.
Resa mengambil air wudhu untuk shalat isya, rasanya tenang sekali, dia berdoa dan dicurahkannya segala kesedihannya. Saat semua orang menghinaku karena diriku tidak cantik, tapi masih ada Rabb nya yang akan mendengar segalanya.
"Haruskah aku berubah?" tanya Resa pada dirinya sendiri.
Resa mengambil buku-buku yang dibagikan kepada siswa yang masuk disekolah itu. Matematika dan bahasa Inggris, yang sudah tidak diragukan lagi kelemahan Resa pada mapel itu. Dibukanya halaman demi halaman, kepalanya memang pusing karena belajar hal yang tidak disukainya. Tapi semangatnya untuk berubah sudah sangat besar.
"Kita mulai!"
Setidaknya Resa berpikir dia harus menjadi orang pintar meskipun tidak cantik. Dia harus berubah, tidak ada orang yang bodoh. Hanya ada orang yang kurang berusaha. Semua akan lebih baik jika Resa berprestasi di sekolah. Setidaknya mamah akan bangga dengan prestasi nya.
Resa menyadari perubahan itu tidak mungkin sekaligus, harus melewati step by step yang tidak jarang membuat diri kita jemu. Ditulisnya harapan dikertas dan digantung di kamarnya yang sempit.
__ADS_1
*Amandemen hidup Resa Ayudia Fantasi
1.) Aku bakalan jadi murid yang berprestasi
2.) Aku harus jadi cantik
3.) Pengen deh dapat pangeran yang mengerti aku*
3 harapan yang harus ia gapai, memang tidak mudah tapi juga bukannya tidak mungkin semua hal itu akan terjadi pada dirinya.
" Semua akan berubah, Sa," katanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
Mika mengetuk pintu rumah Resa dan mama Resa segera membukakan pintu. Dia tersenyum menyambungkan gadis yang satu itu.
" Ternyata si cantik yang datang,"
"Resa ada Tante?"
" Ada di kamarnya, masuk aja !"
" Sa, aku masuk ya!"
"Iya, masuk aja gak dikunci kok,"
"Kamu kenapa?'
" Kenapa maksudnya?" kata Reza balik bertanya.
" Kenapa mata kamu sembab kayak habis nangis?"
" Oh iya, tadi aku kelilipan debu, maklum lagi bersih-bersih, hehehehe," jawab Resa sekenanya.
" Kamu kok bisa secantik ini, Mi?"
"Emang aku cantik?" tanya Mika, dia hanya merendah pikir Resa. Mika tahu sahabat nya itu memang kadang insecure, tapi sebenarnya Resa itu cantik cuman dia belum bisa merawat dirinya sendiri.
__ADS_1
"Gue mau pindah,Sa,"
" Beneran? kapan?"
" Lusa,"
" Kok mendadak banget sih?"
" Aku juga baru diberitahu pagi tadi sama mamah, ayah harus pindah kerja."
" Entar aku gak bakalan bisa ketemu kamu lagi dong, kamu kan sahabat aku satu-satunya, Mi,"
" Semoga kita bakalan ditemukan nanti lagi,Sa,"
"Amin."
Resa merenung sesaat saat kepulangan Mika, sahabatnya itu akan pindah sebentar lagi. Padahal cuman Mika yang gak pernah menghina dirinya, meski dia cantik tetapi dia sangat menghargai siapapun orang yang dikenalnya.
Sebelum Mika pergi, Resa mau membuat sesuatu yang berharga untuk sahabat nya itu.
Ya, sebuah pesta kecil didalam kamarnya yang sempit namun sangat berarti untuknya. Kamar ini dibuatkan ayahnya untuk Resa saat ia masih berusia 5 tahun. Betapa bahagianya dulu saat memiliki kamar sendiri, namun tidak lama setelah itu ayah pergi untuk selamanya. Sejak saat jiwa ibu tergoncang, dia sangat sensitif dan pemarah pada Resa. Entah apa salah Resa? ia menjadi pelampiasan amarah ibunya. Resa tetap tumbuh menjadi gadis yang periang, meskipun saat sendiri ia sering insecure pada dirinya sendiri. Gadis itu selalu merindukan kehadiran ayahnya juga sikap lembut mama seperti dulu.
Resa mengundang Mika kedalam kamarnya untuk membuat pesta perpisahan, disana tersedia makanan seadanya untuk mereka. Kamar yang sempit itu dihias dengan warna-warni yang cantik dan cerah.
" Aku mau memberikan sesuatu buat kamu," kata Mika.
" Apa?" tanya Resa bingung, dikeluarkan Mika sesuatu dari tas ranselnya.
" Ini buat kamu, Ra," sebuah tas make up kecil dari kain, disana tersedia berbagai macam skincare.
"Makasih,Mi. Kamu seharusnya gak usah repot-repot gini."
" Kamu cantik,Ra. Tetapi alangkah baiknya jika kecantikan yang sudah Tuhan anugerah kan itu kita jaga. Jangan lupa pakai dan yang hemat jangan terlalu boros belanja, sisihkan sedikit buat beli skincare."
" Makasih,Mi."
__ADS_1
Resa melepaskan Mika dengan pelukan, mata mereka berkaca-kaca. Resa bersyukur punya sahabat seperti Mika. Mika sangat baik kepada Resa, bahkan saat terakhir sebelum pindah ia masih membuat hal yang sangat berkesan buat Resa.