
Hari baru dimulai, wajah semua yang ada disana terlihat segar. Arabel dan kedua kakaknya menghampiri Azel, yang sedang memasak untuk sarapan mereka.
" Bunda."
" Anak-anak bunda sudah cantik, kalian mau kemana?" tanya Azel dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
" Gak kemana-mana Bun, paling adek yang mau jalan-jalan." Jawab Helen, yang diangguki Arabel.
" Adek mau kemana, sayang?" tanya Azel kepada gadis dihadapannya.
" Biasalah Bun, adek pasti mau jalan-jalan dengan Arya dan Titan." Bukan Arabel yang menjawab, tapi Karin.
Miu turun dari tangga, disana dia melihat seorang gadis yang diam-diam selalu ia perhatikan. Hingga saat ini, Arabel belum mengetahui jika dirinya dan Miu dijodohin.
" Morning semua!!" Sapa Miu, mereka tersenyum menoleh kearah Miu.
" Morning juga."
__ADS_1
" Kak Miu mau kemana? kok ganteng banget sih?" tanya Helen kepada Miu.
" Emang biasanya gak ganteng gitu?" sahut Miu dengan senyum tampannya.
" Ganteng banget, tapi kali ini 2 kali lipat kegantengan Kak Miu." Jawab Helen, Miu hanya tersenyum mendengarnya.
Sejak tadi, Arabel masih asik dengan makanan yang ada dihadapannya. Dia tidak sadar, jika Miu diam-diam memandangnya. Sejak pertama bertemu, Arabel memang tidak tertarik dengan Miu. Apalagi usia mereka terpaut jauh, Arabel hanya menganggap laki-laki dihadapannya ini sebagai saudara.
" Bunda, Karin mau tanya sesuatu deh."
" Apa itu?"
" Memangnya kakak mau dijodohkan juga?" tanya Arabel kemudian, Karin berpikir sejenak lalu mengangguk.
" Kenapa tidak? Kalau cowoknya keren sih gak masalah." Sahut Helen, Arabel lantas menggeleng.
" Kalau aku sih gak mau, setiap orang berhak memilih laki-laki untuknya sendiri. Karena menikah itu satu kali untuk seumur hidup, jadi aku mau memilih pasanganku sendiri." Jawab Arabel, Miu dan Azel lantas berpandangan saat mendengar jawaban gadis itu. Bagaimana tidak? ini adalah jawaban dari pertanyaan yang ada dikepala Miu, apa mungkin Arabel akan menerimanya menjadi suami Arabel.
__ADS_1
" Semisalnya, itu pesan terakhir dari seorang ayah sebelum meninggal? apa adek juga akan menolaknya?" tanya Azel penasaran.
" Hmmmmm, adek gak suka berandai-andai hal yang memang adek tidak inginkan." Jawab Arabel, suasana disana sunyi seketika.
" Kalau misalnya adek diposisi perempuan itu, anggap saja ini benar-benar terjadi. Apa adek bersedia?" tanya Karin kepada Arabel.
" Mungkin iya, mungkin juga tidak. Karena itu pesan terakhir seorang ayah, jadi adek akan mempertimbangkannya jika diposisi itu. Asalkan, jarak usia adek sama cowoknya terpaut tidak terlalu jauh." Jawab Arabel, Azel dan Miu menghela nafas lega. Setidaknya, Miu masih ada kesempatan untuk mewujudkan keinginan Reyan.
Tidak lama kemudian, Titan dan Arya datang menjemput Arabel. Mereka berdua terlihat sudah sangat tampan dengan gaya casualnya.
" Kalian sudah makan?" tanya Azel, kedua sahabat Arabel itu lantas menggeleng.
" Belum, Bun."
" Yaudah, makan dulu gih."
Tanpa banyak basa-basi, Titan dan Arya langsung duduk disamping Arabel. Miu menatap dua sahabat Arabel, dia tahu jika dua orang itu memiliki perasaan lebih kepada gadis itu.
__ADS_1
" Adek bisa masak?" tanya Arya, Arabel mengangguk.
" Pasti dong, waktu kuliahkan adek masak sendiri."