
Hari ini ulang tahun Resa yang ke-17 tahun, tentu saja Reyan menyiapkan sesuatu untuk istrinya.
Setiap hari minggu Resa jogging mengelilingi taman rumah Reyan yang luas, kecuali minggu kemarin dia ingin keluar komplek. Ternyata mereka bertemu Miu, yang sekarang sudah menjadi anaknya dan Reyan.
Resa mengajak Reyan untuk olahraga bersama. Tentu saja, Reyan tidak menolak. Reyan ingin tetap tampan dan awet muda, salah satu caranya adalah ia harus rajin berolahraga. Selama ini, Reyan selalu berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Apalagi sekarang setelah menikah dengan Resa, dia harus extra melakukan yang terbaik untuk tetap terlihat awet muda. Hal itu dilakukan, karena ia tidak ingin orang lain mengira dirinya adalah Ayah Resa.
" Apa sih keinginan kamu yang belum tercapai?" tanya Reyan dan Resa tersenyum kearahnya.
" Aku mau dapat beasiswa kuliah keluar negeri. Kamu tahu sepertinya sekolahku ingin aku yang mendapatkannya. Tinggal satu lagi yang harus aku dapatkan, jika ingin dapat beasiswa."
" Apa itu?"
" Nilai ujian aku minimal harus paling tinggi di sekolah. Persyaratan dari donatur sekolah kami harus seperti itu."
" Apa kamu sungguh menginginkannya?" tanya Reyan, sebenarnya ia sedang menahan sedih jika Resa benar-benar ingin pergi keluar negeri.
" Aku menginginkannya dari dulu. Aku sengaja sekolah disana, untuk mendapatkan beasiswa itu. Meskipun, saat SMP aku termasuk siswa yang tidak pernah masuk 5 besar. Tapi aku memiliki keyakinan, dimana ada keinginan, disitu ada jalan."
Resa menangkap ada rona kesedihan diwajah suaminya, ia mengerti hal itu. Namun, dia juga menginginkan bisa mengecap pendidikan kuliah keluar negeri. Apalagi yang Resa tahu, bila mendapat beasiswa tempatnya adalah salah satu universitas terbesar di dunia.
" Tapi aku juga gak bisa meninggalkan kewajiban aku jadi istri kamu." Kata Resa kemudian dengan menarik nafas yang panjang.
" Aku juga gak bisa menghalangi kamu untuk kuliah keluar negeri."
" Aku boleh kuliah keluar negeri?" tanya Resa dengan senang, namun kemudian dia terdiam. Reyan mengangguk mendengar pertanyaan Resa, ia harus mengikhlaskan istrinya mengejar cita-cita. Apalagi ini impian Resa dan istrinya sudah berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa. Sebenarnya, Reyan sangat sanggup membiayai kuliah istrinya. Namun, tentu saja banyak hal yang dia khawatirkan apabila Resa kuliah diluar negeri.
" Hubby, boleh aku minta sesuatu?" kata Resa mengalihkan pembicaraan.
" Apa itu, sayangku?"
" Bolehkah aku mengadakan acara di kantormu?"
__ADS_1
" Tentu, acara apa sayang?"
" Bentar lagi kan Hari Kartini, kita bisa mengadakan lomba untuk memeriahkannya."
" Apapun untukmu,sayangku. Lomba apa yang akan dilaksanakan nanti?" tanya Reyan.
" Lomba puisi, pidato, dan mungkin cerdas cermat untuk menguji pengetahuan nasionalisme karyawan di perusahaan kamu. Apa kamu ada saran?"
" Hanya 3 macam lombanya?"
" Mungkin. Aku ingin membuat lomba yang dapat menampilkan bakat mereka, sekaligus dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme. Tapi kalaupun ada tambahan, itu hiburan bukan pokok lomba dan hadiahnya juga lebih sedikit. Dan yang terpenting, aku ingin menumbuhkan kesadaran kepada setiap wanita untuk terus menggapai mimpinya." Kata Resa dengan membara, jiwa nasionalismenya bergejolak. Reyan tersenyum melihat tingkah istrinya, ia tahu jika Resa memiliki pengetahuan yang luas. Bahkan Resa selalu menghibur dan mendukung perempuan yang mengalami keterpurukan. Salah satu hal yang sering dilakukan istrinya itu adalah membuat perempuan yang mendapatkan body shaming untuk bangkit.
" Aku ingin menyadarkan mereka, kita hatus meraih mimpi walaupun banyak yang menghina. Sukses bukan hanya milik orang yang pintar, kaya, cantik, tapi sukses adalah milik orang yang terus berusaha. Kesuksesan setiap manusia berbeda dan untuk itulah kita harus menggapainya."
Hal itulah yang menghalangi Reyan untuk tidak mengizinkan Resa pergi keluar negeri, karena ia ingin istrinya bisa meraih mimpinya.
Reyan dan Resa kembali kedalam rumah dan sarapan dengan kedua anaknya. Resa bahkan lupa hari ini dia ulang tahun, karena Senin ini ia ujian nasional. Resa belajar lebih keras daripada biasanya, karena dia ingin mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan karena ingin keluar negeri, ia juga masih bimbang dengan keputusannya nanti. Tapi, Resa ingin mewujudkan impian almarhum ayahnya agar dia bisa menjadi juara umum 1 di sekolah. Ayahnya dulu sangat ingin Resa naik panggung dan menerima penghargaan seperti anak temannya.
" Kemana?" tanya Resa bingung.
" Udah ikut aja!" jawab Reyan dan menutup mata Resa dengan kedua tangannya. Mereka menuju ruangan tersembunyi dirumah yang luas itu. Disana sudah ada Azel dan Miu menunggu keduanya.
" Kemana kita, hubby?" tanya Resa penasaran.
" Udah nurut aja, nanti juga bakalan tahu."
Resa mengangguk dan berjalan didepan Reyan yang menutupi matanya dengan kedua tangan laki-laki itu. Mereka melangkah menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Reyan membuka mata Resa, dan istrinya itu tampak kebingungan.
" Kok gelap banget sih?"
Tiba-tiba Lampu di ruangan itu dinyalakan, disana Azel dan Miu menyambutnya dengan senyuman bahagia.
__ADS_1
" Surprise!" kata mereka.
Resa merasa sangat bahagia di ulang tahunnya kali ini, ia bisa merayakannya dengan orang yang disayanginya. Resa bahkan melupakan ulang tahunnya sendiri, karena fokus dengan ujian nasional yang akan dihadapinya.
" Happy milad, my wife. Doanya yang terbaik untuk kamu dan keluarga kita, selalu setia dengan aku. Barakallah fi umrik." Kata Reyan, kemudian mencium puncak kepala istrinya.
" Makasih, hubby."
" I love you." Kata Reyan, Resa hanya tersenyum mendengar hal itu. Kemudian, Azel dan Miu mendekati mereka dan memeluk Resa.
" Happy birthday, mommy Sa. Harapannya mommy bisa membalas perasaan daddy yang tulus dan bucin." Kata Azel kepada Resa.
" Makasih,sayang," kata Resa masih memeluk Azel.
" Happy birthday,mommy," kata Miu juga.
" Makasih,boy." Resa membungkukkan tubuhnya,hingga sejajar dengan anak itu. Resa mencium dan memeluk Miu, hal itu dilakukannya juga dengan Azel.
Kemudian, Reyan menggenggam tangan Resa dan merangkulnya menuju birthday cake yang telah disiapkannya.
Resa memotong kue dibantu oleh Reyan yang memegangi tangannya dengan posisi dibelakangnya. Kemudian, tentu saja first cake untuk Reyan.
" First cake for my hubby."
" Thank you, baby. I love you."
" I love you too," jawab Resa sambil berbisik ditelinga suaminya. Reyan tersenyum memandangi istrinya yang masih tampak malu-malu membalas kata cinta darinya. Kemudian, Resa menyuapi birthday cake nya kepada Reyan lalu Azel dan Miu.
Tidak ada make a wish dihadapan birthday cake miliknya. Lagi pula, menurut Resa, harapannya ada didepannya saat ini. Ya, Reyan. Dia adalah harapan bagi dirinya, Resa berharap cinta Reyan kepadanya tidak pernah berubah. Kemudian, Resa mengajak suami dan kedua anaknya sholat ashar. Sejak menikah, Resa selalu berdoa agar Allah menjaga hati suaminya.
__ADS_1