
Sekolah dimulai hari ini, semua siswa datang dengan wajah yang ceria. Wajah-wajah baru yang akan menjadi penerus bangsa Indonesia. Resa menginjakkan kakinya dihalaman sekolah yang baru dan masih sangat terasa asing. Ia ingin memulai semua hal yang baru, tidak ada lagi air mata atau luka yang mengiris-ngiris hatinya dan membuat air matanya jatuh.
" Bismillah," ucapnya dalam hati.
" Seluruh siswa baru diharapkan menuju keruang aula sekolah," suara itu terdengar dari reception sekolah. Resa buru-buru menuju aula karena saat mendaftar ia sudah mengetahui ruangan itu. Semua anak baru tampak duduk diruang aula yang bersih itu dan ruangannya masih terasa dingin meskipun banyak manusia saat ini didalamnya. Kepala sekolah memberi kata sambutan kepada siswa baru mereka dan memberi tahu detail tentang peraturan sekolah beserta sanksinya. Kemudian nama mereka ditampilkan dilayar beserta kelasnya dan akan diantar kakak kelas mereka menuju kelasnya masing-masing.
Sebuah kelas ditengah-tengah sekolah yang didepannya tampak bunga warna-warni. Kemudian ada seorang siswa berlari-lari menuju ruang keluarga kelas dan memasukinya.
" Maaf terlambat, boleh masuk?" tentu saja mereka tidak marah karena siswa itu adalah anak kepala sekolah. Resa tampak terkejut melihat siswa itu ternyata Rio. Rio adalah teman SMP nya, ia pernah membuat malu Resa karena mengumumkan bahwa ia ditembak olehnya dan menghina Resa didepan murid lainnya.
Rio duduk didekat Resa dan tentu saja itu membuatnya berpikir siapa gadis disebelahnya ini? struktur wajah tampak mirip seseorang dan tentu saja dia jauuuuuuuuuh lebih cantik dari orang yang dipikirkannya. Satu persatu siswa yang berjumlah 30 orang itu memperkenalkan dirinya dan tibalah Resa mendapat giliran tersebut.
" Nama Resa Ayudia Fantasi,hobi membaca buku,alamat Jl. Cempaka."
Rio tersadar bahwa gadis didepannya ini benar adalah temannya saat SMP dulu. Gadis yang dulunya dekil dan jelek kini berubah menjadi bunga yang sedang mekar. Setelah perkenalan selesai, semua siswa diperbolehkan untuk istirahat. Resa masih belum memiliki teman untuk diajak ke kantin tetapi ia tetap pergi untuk membeli makanan dan minuman. Ketika akan menuruni tangga, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya.
" Tunggu!"
Resa segera membalikkan badannya dan melepaskan tangannya.
"Rio?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu,"
" Ada apa? bukankah kamu sudah tahu tentang aku?"
" Aku ingin kamu menjadi pacarku," tembak Rio dan berlutut dikaki Resa dan ia lakukan ditangga. Adegan yang sama seperti dimimpikan Resa hanya kurang bunga mawar berwarna pink.
"Aku tidak bisa,"
__ADS_1
" Kenapa ? bukankah dulu kamu sangat menyukai aku?"
Resa pun tersenyum memandang Rio dan dibalas cowok itu dengan hal yang sama. Ia menyangka bahwa cintanya akan diterima oleh gadis itu.
" Apa kamu yakin dulu aku menyukaimu? sekalipun aku menyukaimu, mungkin hanya sekedar aku suka melihat kamu, tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu...."
" Apa?" tanya Rio tidak sabar.
" Aku tidak mungkin pacaran dengan laki-laki yang tidak pernah menghargai wanita. Sekalipun kamu menghargai seorang gadis itu hanya karena cantik. Sedangkan aku akan mencari seseorang yang bisa menghargai aku dan memiliki attitude yang baik. Jika dulu kamu mungkin adalah tipeku tapi tidak dengan sekarang."
" Aku minta maaf, aku akan membuat kamu bahagia,"
" Minta maaf ketika semua sudah berubah itu tidak lagi sama. Kamu tidak tulus minta maaf
Ketika aku dipermalukan oleh kalian dan kamu datang kembali untuk meminta cinta. Aku sudah memaafkan kamu tapi jangan ganggu aku lagi."
" Tidak ada, aku tidak ingin dengan laki-laki yang telah mempermalukan aku didepan banyak orang."
Resa buru-buru turun kebawah, kemudian masuk kedalam toilet yang tampak sepi. Ia tidak sanggup menahan air mata lagi. Kejadian saat itu memang sangat memalukan, Rio menarik tangannya dengan paksa dan menuju kantin sekolah. Semua orang melihat Resa dengan sinisnya."
" Gadis disampingku ini ternyata diam-diam menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Apa kalian setuju dengan itu?"
" Enggak!"
" Enggak, dasar cewek gak tahu malu!"
Teman-teman disekolah menertawakan Resa dan mengejeknya saat itu. Resa tertunduk malu dan menangis menahan malunya.
" Ini cermin buat kamu, biar ngaca wajah jelek dan dekil gitu siapa yang mau? gak ada, apalagi aku, najis!" kata Rio sambil menyerahkan kaca kepadanya dengan mata sinis.
__ADS_1
" Astaghfirullah," ucap Resa menenangkan hatinya saat itu.
Namun sepertinya luka itu dapat ditutupi oleh Resa dihadapan mama dan sahabatnya Mika karena ia beda sekolah. Memang sejak saat itu tingkat insecure pada diri Resa melonjak drastis, apa iya hanya karena ia jelek pantas untuk dipermalukan seperti itu?
Tiba-tiba ada siswi masuk dengan mata menangis dan ia berusaha menutupinya dari Resa. Cewek itu adalah tetangga barunya itu,Resa mendekatinya.
" Hey, ada apa?" tanya Resa lembut, Tia hanya menggelengkan kepalanya.
" Coba cerita, apa ada yang menyakitimu?" tanya Resa dan Tia mengangguk sambil menangis.
" Sudah jangan membuang air matamu terlalu banyak, apa kamu ingin ikut aku ke perpustakaan?" tanya Resa dan gadis itu pun segera mengangguk. Diperpustakaan mereka sibuk mencari buku yang akan dibaca dan duduk berhadapan.
" Kamu tahu dulu aku juga dihina, bahkan dipermalukan lebih daripada kamu."
Tia menatap wajah Resa dengan bingung, apa yang membuat orang lain menghina gadis itu. Dia cantik,baik dan kelihatan cerdas.
" Karena apa mereka kamu? tidak ada yang kurang dari kamu," tanya Tia dan Resa tersenyum.
" Dulu aku dipermalukan oleh seorang cowok dihadapan semua murid yang ada di kantin sekolah. Dia mengatakan aku tidak pantas untuk dirinya karena aku jelek. Dulu aku hitam, dekil, jerawatan,dan satu hal aku sangat lemah dalam pelajaran matematika dan bahasa Inggris."
" Sejak saat itu aku merasa menjadi orang paling jelek dan tidak ada harapan bagiku menjadi cantik," kata Resa sambil tersenyum, sekilas Tia terpesona karena sebagai wanita ia mengakui bahwa Resa sangat cantik.
" Tapi ada satu hal yang aku lupa bahwa cantik tidak hanya apa yang terlihat dari luar. Jika kamu ingin berubah itu semua perlu proses dan dukungan dari orang lain, dulu sahabatku yang membuat penampilan ku berubah."
" Aku ingin berubah," kata Tia cepat.
" Jika kamu ingin berubah aku akan mendukungmu dan satu hal yang kamu ingat ketika sudah berubah. Jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain yang mengalami body shaming tapi dukunglah mereka."
" Semangat dari kita untuk orang lain mungkin adalah hal biasa, tapi bagi yang merasakan itu adalah sesuatu yang luar biasa," kata Resa, disambut anggukan Tia dan senyumannya.
__ADS_1