
Titan tanpa sengaja melihat Arabel dan Miu di restoran, dia ingin datang menghampiri. Namun urung, ketika mendengar percakapan mereka berdua. Hatinya sakit, ketika harus melihat Arabel dengan laki-laki lain. Apalagi mendengar, jika gadis itu tidak keberatan dinikahi oleh Miu. Membuat hatinya semakin sakit, mungkin karena selama ini dia terlalu berharap.
Miu dan Arabel pulang kerumah, selama diperjalanan keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Arabel segera kekamarnya, ketika sudah sampai dirumah. Arabel sudah memakai baju tidurnya, tiba-tiba ponselnya berdering.
" Hallo!!"
Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara musik yang terdengar sangat kencang.
" Titan, kamu lagi dimana?" tanya Arabel khawatir.
" Jemput aku!!" terdengar suara samar-samar dari suara musik yang menggema.
__ADS_1
" Kamu dimana?" tanya Arabel, namun sambungan teleponnya dimatikan. Arabel segera melacak keberadaan sahabatnya itu.
Arabel buru-buru berlari keluar rumah, dan meminta supir untuk mengantarnya. Ketika sudah sampai, Arabel meminta supirnya menjemput Titan kedalam. Arabel menunggu dengan harap-harap cemas, dia sebelumnya tidak pernah melihat Titan mabuk-mabukan seperti ini.
Tiga puluh menit kemudian....
Supir pribadi Arabel sudah memapah seorang laki-laki yang kelihatan sangat mabuk. Titan duduk disebelah Arabel yang bertanya-tanya mengapa sahabatnya itu sampai mabuk-mabukan seperti ini?
" Kamu tanya aku kenapa? apa kamu khawatir denganku?" tanya Titan masih mabuk.
" Kenapa kamu menanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya, Tan? kamu sahabat aku, tentu aku akan mengkhawatirkan kamu." Jawab Arabel sambil memandang lekat-lekat Titan.
__ADS_1
" Kamu mau tahu aku kenapa?" tanya Titan, Arabel mengangguk.
" Aku cinta sama kamu, dan itu fakta yang tidak pernah kamu sadari. Selama ini, kita bertiga adalah sahabat. Kamu tidak pernah memiliki perasaan lebih kepadaku dan juga Titan. Selama ini, kami berdua harus menyembunyikan perasaan kami kepada kamu. Dan kami harus menahan pahitnya penantian, ketika ternyata kamu sudah dijodohkan. Hatiku sakit, Arabel!!! kamu gak akan pernah tahu rasa itu." Titan mengatakannya dengan air mata mengalir, meskipun mabuk tetapi perasaannya tidak pernah berbeda kepada Arabel dalam keadaan apapun.
" Sejak kapan kamu mencintaiku, Gan?" tanya Arabel lembut, dia selama ini bahkan tidak mengetahui jika kedua sahabatnya memendam perasaan cinta untuknya.
" Sejak lama, mungkin ketika kita masih kecil. Aku kira ini semua hanya cinta monyet, tapi ternyata aku salah. Aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau kamu dimiliki orang lain." Arabel mengembuskan nafasnya, ada kesedihan ketika mendengar jika sahabatnya terluka karena cinta. Apalagi, jika dirinyalah yang menjadi alasan kenapa Titan mabuk-mabukan seperti ini.
Titan memeluk tubuh Arabel, gadis itu membeku ketika dipeluk tiba-tiba seperti ini. Titan terisak saat memeluk Arabel, dia benar-benar mencintai gadis ini.
" Arabel, aku cinta sama kamu. Kamu maukan jadi istriku?" tanya Titan, Arabel menganggap jika kali ini Titan hanya ngawur berbicara.
__ADS_1
Arabel tidak menjawab pertanyaan Titan, dia mengantar sahabatnya itu. Titan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, hari ini rumahnya sangat sunyi. Karena, kedua orangtuanya dan juga kakaknya keluar kota. Arabel menyelimuti Titan, dia memang sangat menyayangi Titan namun itu hanya sebatas sahabat. Tidak lebih. Tapi Arabel juga melihat jelas, dimata Titan ada cinta yang mendalam untuk dirinya. Ada ketulusan yang teramat dalam.