Beauty Girl

Beauty Girl
Awal pertemuan


__ADS_3

Liburan hampir habis, Resa menyiapkan peralatan sekolah dan lain-lain. Liburan selama 2 minggu terasa sangat sebentar, mungkin karena ia sangat menikmati saat-saat itu.


Mama mendekati Resa yang sedang menyiapkan perlengkapan sekolahnya dan memandang putrinya itu. Kini gadisnya sudah mulai beranjak dewasa, usianya tiga bulan lagi 17 tahun.


" Sa,"


" Mama,"


" Ada yang ingin mama bicarakan,"


" Ada apa, ma?"


" Senin ini mama bakal kembali keluar kota."


Resa menarik nafas yang panjang karena selama mama pergi ia merasa sendiri dan sangat kesepian. Tapi apa boleh buat mama pergi juga buat mereka,untuk memenuhi kebutuhan hidup. Resa mengangguk lalu tersenyum, ia harus lebih dewasa lagi karena itu juga demi kebaikan mereka.


" Iya,ma,berapa lama mama disitu?"


" Mungkin seperti biasa 4 bulan,Sa."


Hari itupun tiba, dimana Resa kembali sekolah dan ibunya akan berangkat keluar kota lagi untuk bekerja. Resa bersaliman dengan mamanya saat pergi ke sekolah.


" Resa berangkat,ma. Mama hati-hati dijalan,"


" Kamu juga hati-hati,"


Mama melepaskan anaknya dengan tatapan yang sangat lama hingga Resa hilang lagi penglihatannya. Entah kenapa? tapi seolah-olah ini adalah pertemuan terakhir bagi mereka. Mama terasa sangat berat melepaskan putrinya,selama ini Resa tinggal sendiri disini karena disana ia harus bekerja ditempat orang sebagai asisten rumah tangga.


Resa kembali melangkahkan kakinya kedalam gerbang sekolah. Sekarang ia sudah sekolah di semester terakhir dan itu mengharuskannya lebih giat lagi belajar. Apalagi mama sudah membanting tulang untuk menyekolahkan dan membayar les nya. Namun kenapa hari ini Resa tidak bersemangat sekolah ada hal yang seolah menghalanginya dan menyuruhnya kembali kerumah.


Resa terdiam ditempat duduknya dan membuat Rio mendekat. Meskipun Rio terus ditolak Resa tapi ia tidak patah semangat mengejar cinta cewek itu.


" Kenapa melamun?"


" Gak kok, lagi sakit kepala aja," jawab Resa.


" Mau ke UKS? kalau upacara kamu tetap maksain diri bisa pingsan loh,"


" Gak perlu, bentar lagi juga ilang pusingnya."


" Ra,"


" Ada apa?"


"Apa kamu gak mau mempertimbangkan keputusan kamu lagi buat nolak aku?"

__ADS_1


" Enggak, keputusanku udah bulat. Lagian kamu masih bisa cari cewek lain,"


Dulu sebenarnya Resa memang menginginkan kehadiran seorang pacar dihidupnya, tapi sekarang keinginan itu sudah terkubur lama setelah dirinya sudah berubah.


Banyak cowok disekolah yang menginginkan Resa menjadi pacarnya, namun selalu saja ditolak gadis itu.


Prioritas utama Resa saat ini adalah belajar dan ia tidak ada waktu untuk memikirkan masalah cinta yang bisa saja membuat perasaannya kacau. Ia ingin membahagiakan mamanya karena hanya ia satu-satunya yang Resa punya saat ini.


Saat pulang sekolah tiba-tiba telepon Resa berdering ia segera mengangkatnya.


" Halo Assalamualaikum,"


"Waalaikumsallam,apa benar ini Resa anak Ibu Rika?"


" Benar,ada apa ?"


" Ibu kamu sudah meninggal dan jasadnya sudah berada dirumah kamu"


" Kenapa mama saya meninggal? maksudnya apakah mama sakit?"


" Benar, nanti saya akan jelaskan lebih lanjut setelah sampai dirumah kamu."


Pikiran Resa mengawang-awang, bagaimana ini? ia sekarang hidup sendiri tanpa sanak saudara. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? air matanya pun tidak terasa mengalir begitu saja. Selama ini Resa hanya mempunyai ibunya, karena ayahnya sudah meninggal. Sedangkan sanak saudara yang lainnya bahkan Resa tidak mengenal mereka dengan jelas karena itu sudah 14 tahun yang lalu karena keluarganya merantau.


Resa mempercepat laju sepedanya dan air matanya masih tetap mengalir meskipun ia berusaha menahannya. Hingga ia sampai dirumahnya dan disana ia sudah ditunggu sebuah ambulance yang mungkin membawa mamanya kesini. Perlahan Resa mendekati mobil jenazah itu dengan kerongkongan yang terasa tersekat, ia berusaha menahan air matanya.


" Apakah kamu Resa anak ibu Rika?"


" Iya benar,"


" Saya Bimo asisten pribadi Pak Reyan"


Resa berusaha mengingat siapa Pak Reyan itu, karena jujur saja nama itu masih asing ditelinganya.


" Pak Reyan?"


" Pak Reyan adalah boss kami dan ibu kamu,"


Resa mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.


" Silahkan masuk," kata Resa kemudian.


Kemudian jenazah Mama Resa segera dimakamkan, karena ia sudah disholatkan sebelum Resa datang.


Saat ini pikiran Resa berkecamuk karena banyak hal yang harus ia lakukan untuk kedepannya dan saat ini ia juga harus kehilangan orang yang disayanginya.

__ADS_1


Setelah acara pemakaman selesai,Resa masih duduk disamping makam ibunya sambil mengelus-elus nisannya. Matanya tampak berkaca-kaca karena harus kehilangan ibunya secepat ini.


" Mama yang tenang disana, Resa akan berusaha semaksimal mungkin."


Kemudian Resa melangkah tanpa semangat menuju Bimo.


" Terima kasih, saya merasa berhutang jasa pada anda,"


" Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya, karena seharusnya kepada Pak Reyan."


" Sampaikan terima kasih saya kepada beliau,"


" Mohon maaf tapi kamu harus datang menghadap beliau, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan."


Resa mengangguk dan masuk kedalam mobil bersama Bimo menuju rumah mewah disekitar tempat les nya.


" Pak Reyan dari seminggu lalu sudah pindah kesini, dirumah tempat ibu kamu bekerja saat ini hanya ada anak-anak beliau dan asisten lainnya


Resa hanya menganggukkan kepala meskipun ucapan lelaki itu saat ini tidak masuk ke otaknya, pikirannya saat ini sedang bercampur aduk. Kemudian mobil itu masuk ke pekarangan yang sangat luas dihiasi taman-taman yang sangat indah.


Resa dipersilahkan masuk sendiri oleh Bimo, disana ia bertemu dengan satu laki-laki yang terlihat sangat dingin.


" Kamu Resa?"


" I..iya pak,"


" Silahkan duduk,"


" Terima kasih, ada apa pak?"


" Apa ibu kamu pernah mengatakan kepada kamu tentang sebuah perjanjian?"


" Perjanjian? perjanjian apa yang bapak maksud?" tanya Resa bingung dan Reyan pun menyerahkan sesuatu kepada gadis itu.


" Silahkan baca sendiri!"


Kemudian Resa membaca surat perjanjian itu dan ia sangat terkejut melihat isinya. Surat itu berisi tentang perjanjian ibunya dengan Reyan, apabila ia tidak bisa membayar hutangnya maka Reyan boleh menikahi putrinya itu.


" Ta.. tapi saya masih sekolah," kata Resa.


" Itu bukan masalah bagi saya, berapa usia kami?"


" Tiga bulan lagi tujuh belas," jawab Resa dan laki-laki dihadapannya itu mengangguk.


" Kamu harus menaati perjanjian itu, karena itu dilakukan oleh kemauan ibumu sendiri. Selama ibu kamu bekerja dengan saya, ia juga sedang melakukan pengobatan karena ibu kamu mempunyai penyakit serangan jantung."

__ADS_1


Resa bingung harus bagaimana saat ini, ia baru saja kehilangan ibunya tetapi harus dihadapkan dengan sebuah perjanjian yang tidak diketahuinya. Apalagi ia harus menikah dengan seseorang yang bahkan belum dikenalnya.


" Usia saya baru 33 tahun, saya mempunyai 5 orang anak yang pertama berusia 15 tahun, kedua 14 tahun, ketiga 12 tahun, keempat 3 tahun dan yang terakhir beberapa bulan,"


__ADS_2