
Resa bangun dari tidurnya, ia menyadari kepergiannya akan membawa kesedihan yang mendalam untuk Reyan. Apa mungkin semua impiannya selama ini harus terkubur karena sekarang dia sudah menikah?
Resa turun kelantai dasar untuk mengelilingi kantor Reyan, dari tadi dia tidak memeriksa ponselnya lagi setelah membalas pesan Azel karena tertidur.
Azel: Mom dimana?
Resa: Dikantor Daddy.
Azel: Okay, aku kesana ya.
Azel: Mommy Sa, udah sampe nih.
Azel: Mom
Azel: Mom
Azel: Mommy Sa.
Azel turun dari mobil dan bertanya kepada recepsionis, dia sendiri tidak tahu dimana ruangan Reyan.
" Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya reception.
" Saya mau ketemu daddy."
" Boleh saya tahu nama ayah anda?"
" Daddy Reyan."
" Mohon maaf, bisa anda tunggu sebentar. Saya akan menelepon ke ruangan Pak Reyan."
" Saya mau keruangannya langsung, bisa kamu beritahu dimana?" tanya Azel, recepsionis itu bingung bagaimana mungkin, anaknya tidak tahu dimana ruangan ayahnya. Dia curiga dengan gadis ini, karena banyak wanita yang datang dan mengaku-ngaku pacar Reyan.
" Mohon maaf, Pak Reyannya lagi meeting. Bisa anda tunggu disana sampai beliau menyelesaikan meetingnya."
" Saya anaknya loh, kok gak boleh masuk?" tanya Azel.
" Mohon maaf, sekali lagi. Ini memang prosedur perusahaan, silahkan anda tunggu terlebih dahulu."
Azel kembali duduk di sofa yang tersedia di lobby. Dia berulangkali menelepon Resa dan daddynya, tetapi tidak ada yang mengangkat. Reyan akhirnya selesai meeting dan segera menuju lift untuk menemui Resa, tetapi dia mendengar suara keributan dari lobby.
" Lama banget,sih. Aku kan udah bilang, kalau Bapak Reyan Aditya Pratama itu ayah saya. Kamu gak percaya?"
" Mohon maaf, saya akan menghubungi Pak Reyan lagi."
__ADS_1
" Gak perlu, aku mau cari daddy."
Reyan mempercepat langkahnya menuju lobby, karena ia mendengar suara Azel seperti marah-marah.
" Ada apa ini?" tanya Reyan.
" Maaf,pak. Gadis ini ingin menemui bapak dan mengaku bahwa dia anak anda."
" Daddy, dia menyuruh aku menunggu sangat lama."
" Maaf,pak. Saya hanya menjalankan prosedur perusahaan."
" Terimakasih. Tapi perlu kalian ketahui bahwa ini putri saya."
Resa kemudian sampai dilantai dasar, ia melihat banyak orang disana. Karena penasaran, Resa segera ikut bergabung untuk mengetahui apa yang terjadi.
" Dan dia adalah istri saya yang baru, Resa Aditya Pratama." Kata Reyan memandang seorang gadis yang sedang berdiri diantara beberapa orang disana.
" Maafkan kesalahan saya, pak. Saya tidak mengetahui siapa putri anda dan menghalanginya mencari anda langsung."
Reyan mengangguk, Azel terlihat masih kesal dengan recepsionis kantor ayahnya itu. Azel segera menarik tangan ayahnya menuju lift, agar memberitahu dirinya dimana letak ruangan Reyan. Selama hidupnya, Azel tidak pernah kekantor ayahnya yang ada dikota ini.
" Maafkan saya, Bu Pratama atas kesalahan yang sudah terjadi."
Kemudian, recepsionis menceritakan kejadian tadi. Resa mengangguk mendengarnya, ia paham kenapa reception ini terlihat sangat takut. Karena Reyan akan memecat orang yang melakukan kesalahan fatal, apalagi sudah membuat Azel kesal.
" Ini bukan masalah yang harus kamu khawatirkan ,kok. Lagian kamu hanya menjalankan prosedur perusahaan, dan memang kamu tidak tahu siapa anak Pak Reyan kan?"
" Iya, Bu Pratama."
" Resa, panggil Resa aja. Lagian umur saya baru 17 tahun."
" Tapi anda kan istri Pak Reyan."
" Udah, santai aja. Lagian kalau dipanggil ibu saya merasa terlalu tua."
" Baik, Nona Resa."
" Nona?"
" Saya rasa panggilan itu terdengar lebih sopan, jika berkenan boleh saya memanggil anda seperti itu?"
Resa mengangguk, padahal dirinya merasa canggung apabila dipanggil seperti itu. Tapi bagaimanapun, ini dikantor, jadi mereka harus menghormati dirinya yang sekarang menjadi istri CEO mereka. Resa sudah mengetahui nama resepsionis itu dari name tag yang digunakannya.
__ADS_1
" Saya mau keliling kantor dulu, tenang, kamu gak bakal dipecat,kok."
" Terimakasih, Nona Resa."
Resa naik tangga perusahaan dan menuju lantai dua, disana ada kantin khusus karyawan. Dia menaiki tangga dengan cepat dan bersemangat. Karena ini jam istirahat, banyak karyawan makan di kantin dan mengobrol santai disana. Orang-orang disana bingung dengan kedatangan Resa, apalagi penampilannya saat ini tidak seperti pekerja kantoran. Mungkin karena yang ada disana tidak mengetahui Resa adalah istri Reyan. Apalagi yang menyaksikan kejadian di lobby hanya para atasan dikantor itu, dan karyawan yang melihat dirinya dengan Reyan pagi tadi tidak ada di kantin.
" Hallo, boleh gabung, gak?" tanya Resa ramah. Mereka hanya mengangguk, karena tidak mengetahui siapa gadis yang didepannya ini. Para karyawan juga terpesona dengan kecantikan Resa yang sangat menawan. Salah satu penjaga kantin mendekati Resa, seorang ibu-ibu berusia kira-kira setengah abad.
" Neng, karyawan baru ya disini?"
" Bukan, saya keluarga Pak Reyan."
Mereka sedikit canggung ketika mendengar gadis ini adalah keluarga bos mereka. Sebenarnya, dari penampilan sudah terlihat dia dari kalangan berada.
" Mau makan apa, neng?"
" Ada apa lagi,bu?"
" Panggil bibi aja neng."
" Oh, iya. Ada apa aja,bi?"
" Ada soto, lalapan, sate dan pepes,neng."
" Ya udah, soto sama sate aja,bi."
Reyan bingung kemana Resa pergi, dia sebenarnya tahu istrinya sedang berkeliaran kantornya. Tapi, ini sudah saatnya makan siang. Reyan turun kelantai dua untuk menemui Roni agar mencari tahu keberadaan istrinya lewat CCTV.
Ketika sampai kelantai 2, Reyan melihat Resa sedang makan di kantin. Kantin di kantor itu bisa dibilang mewah, dengan pembatas kaca seperti di restoran. Reyan menghampiri istrinya, dan karyawan disana tidak sadar kehadiran CEO mereka karena terlalu lahap makan.
" Sayang," kata Reyan memeluk Resa dari belakang. Bibi kaget karena Reyan sudah dihadapannya, bagaimana tidak, pengusaha itu memang terkenal dingin dan perfectionist. Karyawan yang ada disana juga langsung berhenti makan, karena kedatangan Reyan.
" Kamu mau?" tanya Resa sambil mengangkat sendok untuk menyuapi suaminya itu. Tentu saja Reyan tidak menolak, bagaimanapun rasa makanannya.
" Enak?" tanya Resa. Dijawab dengan anggukan Reyan, bibi kantin terlihat cemas dan khawatir karena ia takut dimarahi masakannya tidak enak oleh bos besar itu.
" Makan aja lagi kalian, Pak Reyan gak bakal marah-marah,kok." Kata Resa yang melihat para karyawan kantor canggung dan takut.
Resa menyuapi suaminya kembali, setiap suapan dari tangan gadis itu kedalam mulut Reyan menimbulkan kekhawatiran untuk bibi kantin. Reyan terlihat santai bahkan bahagia karena mendapat suapan dari istrinya, namun ekspresi karyawannya tetap terlihat sangat canggung. Kemudian Reyan mencium puncak kepala istrinya beberapa kali karena sangat bahagia, walaupun dengan makanan yang sederhana.
__ADS_1
Reyan mengambil tisu untuk membersihkan saus kacang yang menempel disamping bibir istrinya. Mereka yang ada disana tidak percaya, bahwa laki-laki sedingin Reyan bisa sangat tulus mencintai dan romantis kepada Resa.