
Reyan diam-diam melihat interaksi Resa dan Azel, ia bersyukur karena keduanya saling menyayangi seperti ibu dan anak kandung. Kisah cintanya dulu memang pernah kandas, tapi sekarang Reyan sangat bersyukur karena kehadiran Resa untuk dia dan Azel. Azel setidaknya, tidak terlalu bersedih dan terpuruk karena perceraiannya dengan Tia. Memang sebagai orang tua, mereka terlihat egois karena membuat Azel sakit hati karena perceraian keduanya. Namun memang saat itu, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Bahkan keempat anaknya yang lain, ternyata bukan anak biologis Reyan.
Resa menghapus air mata Azel, dan tersenyum menatap wajah gadis itu. Dia memang sangat mengerti bagaimana perasaan seorang anak broken home seperti Azel, walaupun dia tidak mengalami hal itu.
" Azel, jangan sedih lagi. Kamu anak hebat, jadi Mommy Sa yakin, Azel bisa ikhlas menghadapi ini semua. Memang terkadang, kenyataan tidak seperti apa yang kita bayangkan. Tapi satu hal yang harus Azel yakini, Tuhan tidak pernah menguji hambanya diluar kesabaran kita. Mommy Sa tahu, Azel pasti sangat berat menghadapi kenyataan ini. Tapi ada mommy, daddy, dan Mama Tia yang selalu ada buat Azel. Meskipun daddy dan Mama Tia sudah berpisah, tapi kasih sayang mereka tidak pernah berkurang untuk Azel."
Reyan masuk kekamar putrinya, dan menghampiri Resa dan Azel. Dia memeluk dua gadis itu, Reyan merasa bersalah kepada putrinya. Dia sudah menyakiti hati putri tunggalnya itu. Namun keputusan beberapa tahun lalu, memang menurutnya sudah jalan yang terbaik. Diantara dirinya dan Tia memang sudah tidak cinta dari dulu. Reyan selama ini bertahan untuk anak-anaknya, namun ternyata Tia terus saja mengkhianati dirinya.
" Maafin daddy, sayang." Kata Reyan mencium puncak kepala Azel, dia menahan tangisnya. Reyan merasa sangat bersalah, walaupun saat ini mereka semua sudah bahagia. Tapi tetap saja, karena perceraian itu perasaan Azel yang paling dilukai.
Resa mengusap-usap bahu Reyan, dan memandangnya dengan senyuman. Dia ingin menguatkan suaminya, dia tahu Reyan sangat menderita ketika pernikahan suaminya dengan Tia. Karena itu tidak bisa disalahkan, jika memang mereka harus berpisah.
" Daddy gak salah. Aku bahagia sekarang, daddy sudah menikah dengan Mommy Sa. Wanita yang sangat Daddy cintai, begitupun sebaliknya."
Reyan kembali mengeratkan pelukannya, untuk dua perempuan yang paling dicintainya itu. Pernikahannya dengan Resa tidak hanya membuat dirinya bahagia, tapi Azel juga merasakan apa yang dia rasakan. Resa sangat tulus menyayangi Azel. Mereka berdua bahkan lebih akrab, daripada Azel dengan mamanya. Resa selalu menanamkan kepada Azel untuk tidak membenci Tia, karena perceraian Reyan dan mantan istrinya itu.
" Azel sangat bahagia mempunyai Mommy Sa, daddy, dan juga Mama Tia. Azel hanya tiba-tiba sedih, karena mengingat perceraian daddy dan Mama Tia."
Reyan dan Resa mencium pipi Aze,l dengan penuh kasih sayang. Resa ingin Azel tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu, meskipun dia besar dikeluarga broken home.
" Mommy, daddy, juga Mama Tia juga sayang banget, sama putri cantik kami, Azel. Sekarang, Azel mau apa?" tanya Reyan kepada anaknya.
__ADS_1
" Boleh Azel minta sesuatu sama kalian?" tanya Azel ragu.
" Tentu. Apa itu, sayang?" tanya Resa.
" Boleh gak Azel video call sama Mama Tia, tapi Mommy Sa dan daddy juga ikut?"
Reyan menoleh kearah istrinya meminta persetujuan, Resa mengangguk dan tersenyum. Itu yang membuat Reyan semakin cinta dengan Resa, dia selalu ingin agar Azel tidak kehilangan kasih sayang dirinya dan juga Tia. Resa juga tidak pernah egois, ketika Azel meminta izin membuat group WA hanya untuk Reyan,Tia, dan Azel. Namun ternyata, Azel malah memasukkan mommynya itu dalam group mereka.
Azel meminta Tia untuk melakukan video call dengan mereka, tentu saja mamanya itu tidak menolak. Mereka semua memang masih berhubungan baik, walaupun setelah perceraian Reyan dan Tia sedikit renggang.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
" Enggak, sayang. Azel kenapa, nak?" tanya Tia karena mata anaknya terlihat sembab, karena habis menangis.
" Nggak kok, ma. Azel cuman tadi ingat sesuatu aja, mama lagi ngapain!" tanya Azel mengalihkan pembicaraan. Tia memandang wajah putri cantiknya itu, bagaimanapun dia seorang ibu jadi memiliki ikatan batin dengan anak-anaknya. Dia tahu, anaknya itu sedang mengingat perceraiannya dengan Reyan dulu. Tia merasa sangat bersalah dengan Reyan dan juga Azel, karena perilakunya dimasa lalu.
Tanpa Tia sadari, air matanya menetes karena mengingat kesalahannya. Apalagi dia membuat Azel menjadi korban perceraian, antara dirinya dan juga Reyan. Untunglah sekarang, Azel mempunyai ibu sambung yang sangat menyayangi putrinya itu.
" Maafin mama, sayang." Kata Tia, yang memang tak sanggup lagi membendung air matanya.
" Mama Tia, don't cry. Itu sudah masa lalu. Sekarang, Mama Tia sudah bahagia dengan Papa. Daddy juga sudah bahagia dengan Mommy Sa. Azel hanya tiba-tiba teringat semua itu. Azel bahagia sekarang punya Mama Tia, Mommy Sa, daddy, dan juga papa. Tidak ada yang perlu kita salah-salahkan lagi, kita semua sudah bahagia." Kata Azel yang menahan tangisannya, suaranya terasa berat. Resa dan Reyan memeluk Azel dari samping, untuk menguatkan putrinya itu.
__ADS_1
" Sa, makasih ya sudah menyayangi Azel seperti putri kamu sendiri. Aku sebagai mama Azel merasa gagal, untuk menyayangi putriku sendiri."
" Kak Tia, aku juga berterima kasih. Karena kakak, mempercayakan Azel dengan aku. Bagaimanapun, Azel juga putriku. Putri kita. Jadi itu, sudah kewajibanku untuk menyayanginya."
" Sekarang kita jangan sedih-sedih lagi." Kata Reyan kepada 3 perempuan itu.
" Mama Tia, Azel boleh minta sesuatu?" tanya Azel kepada Mamanya.
" Azel, mau apa sayang?"
" Azel mau, Mama Tia minggu ini kesini."
" Okay, nanti mama kesana ya."
" Makasih, Mama Tia. Azel sayang mama."
" Mama sayang Azel, sangat sayang." Kata Tia menekankan setiap kata-katanya.
" Ya udah, Azel mau siap- siap berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
" Waalaikumsallam."
Tia menarik nafas panjang, dia bahagia dan sedih setiap melihat wajah putrinya itu. Bahagia karena Azel sekarang semakin bahagia, dia tidak pernah kehilangan kasih sayang seorang ibu lagi. Sedih karena Tia pernah membuat putrinya itu sangat terluka. Dibalik sifat Azel yang periang itu tersimpan kesedihan yang mendalam, karena perceraian kedua orangtuanya. Namun, Resa, Reyan, dan Tia selalu berusaha untuk membuat putri mereka tidak bersedih. Walaupun itu tentunya, tidak pernah menyebuhkan luka yang pernah tergores.
__ADS_1
Azel juga bersyukur, takdir memang selalu yang terbaik untuk semuanya. Dia tidak kehilangan kasih sayang, malah sekarang bertambah banyak orang yang menyayangi dirinya. Dia juga merasa masih beruntung, karena mempunyai ibu sambung seperti Resa. Yang bisa menjadi ibu sekaligus sahabat, karena usia mereka hanya terpaut dua tahun.