Beauty Girl

Beauty Girl
Pertanyaan


__ADS_3

Seperti biasanya, sepulang sekolah Azel menunggu jemputan dari ayahnya atau supir apabila Reyan sibuk dikantor. Tetapi hari ini dan seminggu kedepan supir mereka sedang cuti. Hari ini, badan Reyan terasa sakit dan suhu tubuhnya tinggi. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk pergi kekantor karena ada meeting penting.


" Ron, gue boleh minta tolong gak?"


" Minta tolong apa?"


" Tolong jemput Azel, hari ini gue janji sama dia mau jemput. Tapi kepala gue pusing."


" Ya udah, mending lo istirahat aja gih."


" Awas lo ya genit sama anak gue," kata Reyan dengan nada mengancam tetapi juga lemas karena sakit.


" Yaelah, ngapain suudzon mulu sama gue."


" Yaudah, makasih ya."


Roni segera mengambil mobilnya, dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Azel melihat-lihat jalanan menunggu jemputan, tumben kali ini daddynya menjemputnya lama. Tiba-tiba ada mobil berhenti didepannya, dan bisa dipastikan itu mobil Roni. Roni turun dari mobil dan menghampiri Azel.


" Zel, tadi daddy kamu sakit. Jadi om yang jemput kamu kesini, maaf lama."


" Iya gak papa,om. Daddy sakit apa?"


" Setahu om, sakit kepala sama demam. "


" Daddy sakit karena jauh dari Mommy Sa tuh kayaknya," jawab Azel sambil tersenyum. Roni terpesona dengan senyum gadis cantik dihadapannya itu.


Roni membukakan pintu mobil untuk Azel, dan segera membawa gadis itu kekantor Reyan. Reyan sedang video call dengan Resa, gadis itu kelihatan sangat khawatir tentang keadaan suaminya itu.


" Yang, kangen."


" Kamu sakit?"



" Enggak, kok. Aku sehat."


" Jangan bohong deh, kamu kalau sakit jangan ke kantor dulu."


" Emangnya kenapa?"


" Kalau kamu tambah sakit gimana? istirahat aja dulu dirumah, jangan memaksa diri kamu sendiri."


" Dirumah juga gak ada kamu, jadi mending aku ke kantor."


" Sebentar lagi aku selesai kuliah. Aku gak mau ya, kalau aku pulang kamu sakit. Pokoknya sekarang istirahat aja dirumah dulu."


" Kamu tahu aku sakit karena apa?"

__ADS_1


" Kenapa?"


" Kamu jauh dari aku, sayang."


" Udah deh, jangan gombal dulu. Lagi sakit juga."


" Beneran, aku kangen kamu. Tujuh bulan aku sama kamu gak ketemu. Kamu gak bolehin aku kesana, padahal aku kangen tahu."


" Aku bentar lagi juga pulang. Yaudah kamu pulang dan istirahat, jangan lupa makan sama minum obat."


" I love you, baby."


" I love you too, Assalamualaikum."


" Waalaikumsallam."


Reyan merasa sakitnya sedikit berkurang, karena melihat wajah dan suara istrinya. Reyan masih tidak menyangka, ia mendapat istri yang usianya hampir sama dengan anaknya. Namun sikap gadis itu sangat dewasa dan keibuan, membuat ia sangat bahagia bisa memilikinya. Resa bersiap-siap packing, karena sebenarnya kuliahnya sudah selesai. Ia akan kembali lagi ke London untuk acara kelulusannya. Resa juga sudah sangat merindukan Reyan, laki-laki memang kadang-kadang bersikap sangat manja pada dirinya.


" Bagaimana ujiannya Zel?" tanya Roni kepada gadis yang ada disebelahnya.


" Alhamdulillah lancar, om. Soalnya memang sulit, tapi aku bisa kok."


" Setelah ini melanjutkan kemana?"


" Gak ada rencana lagi."


" Mau kuliah sih, tapi aku pengen nikah juga."


Roni mengangguk, ia menelan salivanya mendengar jawaban yang mengecewakan dari Azel.


" Udah ada calonnya ya?"


" Belum, lagi nyari. Kalau om kapan nikah?" tanya Azel, Roni terdiam mendengar pertanyaan gadis itu.


" Maaf bukan maksud aku menyinggung perasaan, om. Tapi kan, Om Roni udah dewasa udah menikah."


" Tua gitu?"


" Mungkin, tapi om awet muda kok."


" Daddy kamu udah ngijinin Azel nikah muda?"


" Boleh kok, tapi aku harus cari laki-laki yang sesuai persyaratan."


" Memangnya apa persyaratannya, Zel?"


" Aku pengen yang lebih tua daripada aku."

__ADS_1


Roni merasa terbang, karena ia memang lebih tua daripada gadis yang disampingnya ini. Selisih usia mereka bahkan 21 tahun, kurang tua apa coba?


" Tapi jangan jauh jauh amat juga jaraknya."


Ekspresi Roni berubah seketika, dia kira gadis itu akan mencari laki-laki yang jarak usianya jauh. Sejak kepulangannya Azel beberapa bulan lalu, Roni memang sudah menaruh hati dengan gadis itu. Tapi malang jarak usia mereka terpaut sangat jauh,21 tahun. Dan mungkin ada satu halangan terbesar, yaitu mendapatkan restu dari Reyan. Roni tidak bisa membayangkan, bagaimana laki-laki itu menjadi mertuanya. Dia sangat menyebalkan bagi Roni, tapi juga kadang sangat baik kepada dirinya.


" Azel tahukan menikah itu tidak semudah yang dibayangkan?" tanya Roni.


" Iya, Azel tahu kok. Tapi Azel mau kayak Mommy Sa kalau jadi istri."


" Kenapa Azel mau kayak Resa?"


" Dia itu masih muda tapi dewasa, cantik,cerdas, dan pastinya penyayang."


" Om kita jemput Miu dulu ya," kata Azel.


Reyan mengangguk dan tersenyum melihat gadis yang ada disampingnya ini. Azel memang cantik, selama ini Roni baru sekali terpesona dengan wanita. Yang pertama dengan Resa, dan yang kedua kepada gadis ini. Wajar sih sebenarnya dia terpesona dengan Resa, walaupun dia sudah menikah. Dia sangat cantik, baik, dan juga cerdas. Tapi semua itu dia kubur, karena Resa sudah milik Reyan. Sekarang ada gadis yang juga membuatnya terpesona, yaitu Azel.


" Kalau ada yang ngajak Azel menikah, mau?"


" Siapa dulu orangnya, kalau cocok sih gak masalah."


" Kalau tua bagaimana"


" Tua? gak tahu sih om. Kalau terlalu tua juga aku gak mau. Aku gak mau jadi janda diusianya muda."


Roni bingung harus bagaimana caranya menjelaskan kepada Azel, sebenarnya dia ingin menjadi pasangan gadis itu. Sebenarnya, usianya memang tua,tapi bukan setua kakek-kakek.


Azel sebenarnya mengerti bahwa Roni ingin mengatakan pada dirinya, bahwa laki-laki itu ingin melamarnya. Daddynya bilang kepadanya, bahwa laki-laki disebelahnya ini pernah mengigau tentang Azel. Dia sebenarnya, tidak masalah dengan jarak usia mereka yang terpaut sangat jauh. Apalagi wajah dan style Roni yang memang seperti anak muda, malah lebih keren. Laki-laki itu tidak jauh berbeda dengan daddynya yang semakin tua, semakin tampan dan keren.


Azel merasa Roni memang tulus kepada dirinya, meskipun laki-laki itu belum pernah mengatakan secara gamblang. Namun ia tahu, Roni memang menaruh hati kepada dirinya. Ini bukan kepedean loh, tapi memang fakta.


" Kalau om, mau cari istri bagaimana?"


" Yang menerima om apa adanya, kan aku udah tua nih."


" Iya sih, tapi kan om makin tua, makin ganteng."


" Beneran, Zel?"


" Iya. Om itu kayak daddy, makin tua makin ganteng dan keren."


" Om boleh ngomong serius sama kamu?"


" Ada apa,om?"


" Kamu mau gak jadi istri om?"

__ADS_1


Azel terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaan Roni, karena itu sangat mendadak. Ia memang juga menaruh hati untuk laki-laki disampingnya ini. Apalagi Roni lebih tampan dan keren, daripada laki-laki seumuran Azel.


__ADS_2