
Resa bangun dari tidurnya, dilihatnya wajah Reyan masih tertidur pulas. Dipegangnya kepala suaminya itu, demamnya juga sudah turun. Resa bernafas lega, akhirnya bisa kembali bersama suami dan anak-anaknya disini. Resa memandang wajah Reyan sambil tersenyum, jemari lentiknya menyentuh wajah tampan suaminya. Walaupun Reyan sedang sakit, tapi ketampanannya tidak pernah berkurang. Kemudian Resa mencium pipi Reyan, lalu beranjak ke kamar mandi.
Beberapa lama kemudian, Reyan sudah terbangun. Resa keluar dari kamar mandi tersenyum kearah suaminya. Gadis itu memang selalu tersenyum kearah suaminya, dia tahu laki-laki yang suka istrinya apabila istrinya selalu menyenangkan dan menentramkan hatinya. Apalagi ketika pulang bekerja, mereka kelelahan. Jadi Resa sebagai istri harus memahami keadaan suaminya.
" Hubby," kata Resa sambil mendekati Reyan yang juga tersenyum kearahnya.
" Sayang, aku kira malam tadi bermimpi. Ternyata, kamu benar-benar ada disini."
" Aku mengkhawatirkan kamu, maaf aku tidak bisa merawat kamu selama beberapa bulan ini. Sehingga kamu sakit seperti ini, aku merasa bersalah." Kata Resa tertunduk, dia memang sangat merasa bersalah kepada suaminya itu.
" Ini salah aku, sayang. Ini bukan kesalahan kamu, sama sekali bukan. Aku bahagia kamu disini. I love you."
" Love you too. Apa kamu masih sakit?" tanya Resa kemudian. Reyan mendengar pertanyaan dari istrinya hanya tersenyum. Sakitnya memang sudah hampir sembuh, tapi dia masih ingin bermanja-manja dengan istrinya itu.
" Ehmmmmm, aku mungkin tidak kekantor hari ini."
" Ya udah, lebih baik kamu istirahat. Sekarang, kita shalat dulu." Reyan mengangguk dan tersenyum, kemudian mencium kening istrinya.
Resa segera kekamar Azel untuk membangunkan gadis itu. Dia tampak tertidur pulas, Resa mengusap-usap rambut Azel dengan penuh kasih sayang. Usia mereka memang hanya terpaut dua tahun, tapi Resa bisa memposisikan dirinya sebagai ibu sekaligus sahabat untuk Azel. Dia tidak ingin, Azel tumbuh kehilangan kasih sayang seorang ibu.
" Azel, bangun sayang." Kata Resa membangunkan gadis itu. Azel pelan-pelan membuka matanya, dia mengusapnya dan memastikan apakah benar gadis didepannya ini adalah Resa.
" Mommy Sa?" tanya Azel masih tidak percaya, Resa tersenyum sambil mengangguk.
" Kapan mommy datang?"
" Malam tadi."
" Kenapa aku gak dengar ya mommy datang?"
__ADS_1
" Kamu sudah tidur, lagian mommy datangnya tengah malam."
" Aku kangen Mommy Sa." Kata Azel memeluk Resa dengan eratnya.
" Mommy juga kangen Azel." Jawab Resa sambil mengusap-usap rambut Azel. Mereka memang bukan ibu dan anak kandung, tapi Resa tulus menyayangi Azel. Dia ingin Azel tetap tumbuh seperti anak lainnya, meskipun keluarganya broken home. Dia seolah-olah bisa merasakan perasaan gadis ini, meskipun Azel memang tidak pernah bercerita tentang kesedihannya karena perceraian kedua orang tuanya.
Sebagai gadis biasa, terkadang Azel memang menangis diam-diam dikamarnya. Tapi sejak kehadiran Resa, pelan-pelan dia mulai menerima keadaan. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya, apalagi itu sudah keputusan kedua orang tuanya. Awalnya Azel ragu, apakah Resa bisa menyayangi dirinya. Apalagi, usia mereka yang pastinya lebih cocok menjadi kakak beradik.
" Zel mandi dulu, mommy mau bangunin Miu dulu." Kata Resa beranjak dari tempat tidur Azel. Gadis itu mengangguk, dia sangat senang kehadiran mommynya itu. Dia akan menceritakan segalanya, tentang rencana pernikahannya kepada Resa.
" Miu, bangun sayang." Kata Resa membangunkan anak laki-laki itu.
" Mommy? kapan mommy datang?"
" Malam tadi sayang." Kata Resa sambil mencium puncak kepala Miu.
" Miu mandi dulu, habis itu kita shalat bareng." Kata Resa, dan diangguki oleh Miu.
Setelah itu mereka berempat melakukan shalat shubuh berjamaah, tentunya Reyan sebagai imam. Hari ini, suasana hati laki-laki itu sedang sangat baik. Dia sangat merindukan kehadiran Resa dan senyumannya, yang mampu membuat dirinya merasa tenang.
" Mommy masak apa hari ini?" tanya Miu mendekati Resa yang sedang asik dengan kegiatan masaknya.
" Mommy masak makanan yang kalian suka."
" Asik, makasih mommy."
" Sama-sama, sayang."
Setelah selesai memasak, mereka berempat duduk di meja makan. Tapi Reyan dan Azel ingin makan diruang keluarga, sambil menonton televisi. Resa membawakan makanan untuk suami dan anak-anaknya.
" Suapin aku, sayang."
" Suapin Azel juga , mommy."
__ADS_1
" Miu juga, mommy."
Resa hanya tersenyum melihat kelakuan 3 manusia ini, mereka memang sering minta disuapi oleh Resa. Resa sebenarnya sudah menyiapkan empat piring untuk mereka, tapi ternyata hanya satu piring yang akan terpakai. Dimulai dari Reyan, Azel, kemudian Miu. Mereka sangat manja hari ini, mungkin karena sudah lama tidak bertemu.
" Azel, hari ini kamu sekolah?"
" Enggak, mommy. Kan udah ujian, Miu juga udah libur sekolah." Jawab Azel yang sedari tadi memeluk Resa dari samping kiri . Hal yang sama dilakukan Reyan, yang memeluknya dari samping kanan. Sedangkan Miu memeluknya dari depan. Resa hanya bisa membiarkan 3 tubuh itu memeluk dirinya. Dia mencium puncak kepala mereka satu persatu.
Walaupun menikah muda, Resa merasa sangat bahagia. Dia bersyukur karena sudah memiliki suami seperti Reyan, dan anak-anak seperti Azel dan Miu.
Setelah selesai mereka bertiga bermanja-manjaan, Resa kembali kedalam untuk membuatkan cemilan. Dia tidak ingin tiga orang yang sangat berarti untuknya, menjadi sakit karena jajan sembarangan. Apalagi sekarang, suaminya itu sedang sakit.
Tiba-tiba Reyan datang dan memeluknya dari belakang, Resa tidak terlalu terkejut melihat kelakuan suaminya itu. Reyan selalu ingin dimanjakan, apalagi sekarang dia sedang sakit. Azel dan Miu sedang dikamar mereka masing-masing, hari ini semua asisten sengaja diliburkan. Bibi juga diperbolehkan pulang, Resa tahu mereka juga perlu istirahat.
" Kamu gak capek?" tanya Reyan kepada Resa.
" Aku menikmati dan bahagia setiap momen dengan kalian, jadi kalau capek juga bakal hilang dengan sendirinya."
" Makasih ya, sayang."
" Makasih buat apa?" tanya Resa yang masih sibuk membuat cake dan beberapa cemilan lain.
" Makasih kamu sudah mau menikah dengan aku. Makasih karena kamu sudah menerima aku, walaupun suamimu ini sudah tua."
" Kamu gak tua, sayang. Makasih juga ya."
" Buat apa?"
" Karena kamu mau menerima aku sebagai istri, meskipun aku banyak kekurangan."
" Kamu sempurna bagi aku, sayang." Kata Reyan dengan romantisnya, Resa tersenyum malu mendengar gombalan suaminya itu.
" Gombal !"
__ADS_1
" Beneran, sayang."
" Kamu istirahat dulu dikamar, kan masih sakit. Aku mau buat cake dan cemilan buat kalian, gak selesai-selesai nanti kalau kamu manja-manjaan terus. Aku mau kamu cepat sembuh, jadi istirahat dulu gih. Nanti kalau makanannya sudah selesai, aku panggil kamu."