Beauty Girl

Beauty Girl
Mencintai tanpa dicintai


__ADS_3

Karin sedang memandangi pemandangan kota dari lantai atas rumah Titan. Gadis itu seperti memikirkan sesuatu, entah apa yang sedang dia pikirkan selama ini. Titan menghampiri Karin yang tengah melamun, dan mengagetkan gadis itu.


" Lagi mikirin apa sih? kok ngelamun malam-malam gini?" tanya Titan, Karin hanya menggeleng.


" Pemandangannya cantik banget ya dari sini."


" Iya, sama kayak kamu. Sama-sama cantik." Sahut Titan, wajah karin memerah mendengar pujian dari sahabat Arabel ini.


" Boleh aku menanyakan sesuatu kepada kamu?" tanya Karin dengan mimik wajah serius, Titan mengangguk.


" Sebenarnya kamu punya perasaan lebih gak sama adek?" tanya Karin ragu-ragu.


" Maksudnya?" Titan balik bertanya.


" Ehmmm, maksud aku, apa kamu selama ini memendam perasaan untuk adek? karena kata orang, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan juga perempuan." Titan tersenyum samar mendengar pertanyaan dari Karin, jika boleh jujur tentu saja dia dan Arya memang memiliki perasaan lebih kepada Arabel.

__ADS_1


" Kamu tahukan? tidak ada laki-laki yang tidak menyukai gadis kecil itu. Dibalik sifat manjanya, dia adalah gadis yang sangat cantik, cerdas, dan juga luar biasa. Menurutku, tidak ada laki-laki yang tidak menyukainya. Bahkan, ODGJ tadi sore saja langsung mengejarnya." Jawab Titan sambil bercanda dikalimat terakhirnya.


" Apa kamu mencintai adek?" tanya Karin lagi.


" Entahlah, Rin. Seandainya, aku dan Arya memiliki perasaan cinta kepada Arabel. Aku tidak yakin, salah satu diantara kami akan menjadi pemenangnya. Lagi pula, sejak kecil kami bertiga sudah menjadi sahabat. Namun, jika kamu bertanya apakah aku mencintai Arabel, kemungkinan besar jawabannya adalah iya." Jawab Titan, Karin hanya tersenyum getir mendengar penuturan laki-laki dihadapannya ini. Karin harus menelan pahitnya perasaan ketika orang yang dicintai, mencintai orang lain.


Tapi Karin bisa apa? ketika kita mencintai seseorang, kita tidak berhak untuk memintanya memiliki perasaan yang sama. Bisa dibilang, mencintai tidak harus memiliki. Karin hanya bisa berdoa kepada Sang pemilik hati, agar dia mendapatkan laki-laki terbaik. Tidak bisa dipungkiri, dia juga selalu berharap jika laki-laki dihadapannya ini akan menjadi jodohnya dimasa depan.


" Kamu bakal merestui aku dan adekkan?" tanya Titan lagi, Karin mengangguk sambil memaksakan senyumannya. Bibirnya sudah kelu, tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata lain.


Karin menghapus air matanya, lalu tersenyum samar. Dia memang tidak pernah mengatakan kepada Titan, jika dia menyukai laki-laki itu sejak dulu. Karena dia tahu, jika cintanya tidak terbalaskan.


" Kak!" panggil Arabel, Karin tersenyum kearah gadis yang ada didepannya. Arabel menangkap ada sesuatu yang salah dengan Karin, dia sendiri juga tidak mengetahui hal itu. Namun dari sorot mata Karin, terlihat jelas dia sedang bersedih. Karena mulut bisa tersenyum, tapi mata tidak bisa berbohong.


" Kakak tadi lagi baca novel loh, ceritanya seru."

__ADS_1


" Oh ya? apa judulnya?" tanya Arabel semangat.


" Kakak lupa, tapi ceritanya sedih."


" Sedih? sedih kenapa?" tanya Arabel.


" Ya begitulah, ada perempuan yang mencintai seorang laki-laki. Tapi laki-laki itu mencintai perempuan lain. Cinta beda perasaan." Jawab Karin lesu, Arabel tersenyum.


" Akhirnya bagaimana?" tanya Arabel.


" Ceritanya masih on going, jadi belum tahu akhirnya. Tapi sepertinya, mereka tidak mungkin bersatu."


" Kenapa gak? bukannya cerita itu belum selesai? Mungkin saja, laki-laki itu akan mencintai perempuan itu juga. Tapi mungkin bukan saat ini. Karena hati manusia itu sangat mudah berubah. Jika Tuhan berkehendak, maka mungkin saja mereka akan bersama. Tapi, kalau didunia novel sih, terserah authornya." Jawab Arabel, dia tahu jika cerita itu bukan novel.


Sebuah senyuman merekah dari bibir Karin. Benar kata Arabel, dia masih memiliki harapan.

__ADS_1


__ADS_2