Beauty Girl

Beauty Girl
Dating 2


__ADS_3

Resa dan Reyan terus ber wefie ria dengan beberapa pose. Awalnya Resa memang tidak cinta kepada suaminya, namun semakin kesini cinta mereka semakin bertambah satu sama lain. Resa selalu ingin menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Reyan, dan begitupun sebaliknya. Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan itu membuat hubungan mereka semua erat.



Resa dan Reyan saling menyuapi ice cream mereka, sambil tertawa-tawa kecil. Rasanya Resa tidak menikah dengan laki-laki yang usianya 16 tahun lebih tua daripada dirinya, tetapi mereka seperti seumuran. Tentu saja didukung dengan wajah Reyan yang semakin tua, semakin tampan. Apalagi terkadang, sifat Reyan yang manja dan kekanak-kanakan saat bersama Resa.



" Hubby."


" Ada apa, sayangku?" tanya Reyan sambil menatap mata istrinya dengan lekat. Ada kebahagiaan dan ketenangan untuk Reyan, setiap melihat wajah istrinya.


" Apa kau akan merestui hubungan Azel dan Kak Roni?" tanya Resa bersungguh-sungguh, Reyan menarik nafas panjang. Dia sangat berat melepaskan putrinya itu menikah muda , bukan karena Roni terlalu tua untuk putrinya. Tapi Reyan takut, Azel belum bisa bersikap dewasa untuk menjadi seorang istri dan juga ibu.


" Aku masih memikirkannya, dia masih terlalu muda. Aku tidak ingin dia kehilangan masa mudanya. Dia masih terlalu manja, untuk menjadi seorang istri dan ibu. Kamu tahukan, aku takut dia merasakan kegagalan rumah tangga seperti aku dan Tia dulu." Jawab Reyan, sepertinya laki-laki itu masih tidak merestui hubungan anaknya dengan sahabatnya. Apalagi sebagai seorang ayah, Reyan takut anaknya mengalami hal yang sama dengan dirinya.


" Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendukung keputusan anak-anak kita, selama itu tidak menyalahi aturan. Azel sudah dewasa, dia berhak mengambil keputusannya sendiri. Aku sebagai istri dan ibu, akan mendukung apapun keputusan kalian. Tapi satu hal, kebahagiaan Azel adalah yang utama. " Jawab Resa sambil terus memandangi wajah Reyan, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Reyan sebenarnya masih gamang, dengan keputusannya. Lagi pula, dia ingin tahu seberapa serius Roni kepada Azel.


Dulu Roni memang pernah menjadi playboy, Reyan tidak ingin Azel hanya menjadi mainan untuk sahabatnya itu. Apalagi usia Roni sudah sangat matang, sedangkan Azel terlalu muda. Usia seperti Azel, memang masih sangat labil dalam mengambil keputusan.Tapi dia juga tidak bisa egois, karena Azel dan Roni nyatanya saling mencintai satu sama lain.


Resa memahami perasaan suaminya saat ini, pastilah seorang ayah ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Reyan belum mengambil keputusan, dia tidak ingin Azel terlalu terburu-buru untuk menikah muda. Karena pernikahan bukan hanya sekedar cinta, tapi juga kedewasaan dan komitmen kuat kedua belah pihak. Pernikahan Reyan dan Resa memang harmonis, itu karena keduanya sama-sama bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Mereka berdua tahu saatnya, kapan harus dewasa dan manja dengan pasangan.


" Aku akan meminta persetujuan Tia, bagaimanapun dia harus tahu hal ini. Apa kau keberatan, sayang?" tanya Reyan kepada istrinya itu. Resa menggeleng, karena bagaimanapun Tia adalah ibu kandung Azel. Tia berhak tahu keputusan Azel untuk menikah muda, mereka tidak bisa memutuskan begitu saja tanpa persetujuan dari Tia.


" Aku setuju, sebaiknya kita harus meminta pendapat dari Kak Tia." Jawab Resa sambil tersenyum. Dia tidak mungkin cemburu kepada Tia, karena memang Resa bukan pencemburu. Lagi pula Tia dan Reyan harus tetap berhubungan baik, meskipun sudah menjadi mantan suami istri. Karena masih ada Azel yang perlu kasih sayang mereka berdua, meskipun ada Resa.


Roni masih gelisah dengan hubungannya dengan Azel, sebenarnya dia tahu akan seperti ini. Tidak mungkin, Reyan langsung merestui hubungan mereka berdua. Usia Azel masih sangat muda, mungkin itu yang memberatkan restu keduanya. Apalagi dulu, Reyan mengetahui kelakuannya sebagai playboy. Tapi kali ini, Roni benar-benar serius dengan Azel. Gadis kecil itu, membuat dirinya jatuh cinta sejak melihatnya pertama kali setelah Azel tinggal diluar negeri.

__ADS_1


Mungkin jika Roni menjadi Reyan, dia juga akan lama mempertimbangkan hal ini. Usia Roni bahkan lebih tua daripada Reyan. Tapi dia akan tetap memperjuangkan Azel, untuk menjadi istrinya. Roni benar-benar, tidak pernah merasa secinta ini kepada wanita sebelumnya. Meskipun banyak gadis-gadis yang pernah menjadi pacarnya, namun hatinya akhirnya berlabuh kepada anak sahabatnya.


Roni meneleponnya Azel, dia merasa tidak tenang sejak kejadian semalam. Dia ingin memastikan, apakah Reyan memang benar-benar tidak merestui hubungan mereka berdua.


" Assalamualaikum, om."


" Waalaikumsallam, Zel."


" Ada apa, om?" tanya Azel, dia penasaran ada apa Roni meneleponnya. Biasanya, Roni hanya mengirimkan pesan kepada Azel.


" Zel, om mau tanya sesuatu boleh?" tanya Roni ragu-ragu, dia tidak siap dengan jawaban yang bisa membuat dirinya semakin terpuruk.


" Mau tanya apa, om?"


" Apa Reyan masih tidak merestui kita?" tanya Roni, Azel menarik nafas panjang.


" Apa Azel benar-benar ingin menikah dengan om?"


" Apa om hanya main-main dengan Azel?"


" Bukan begitu, Zel. Om akan memperjuangkan Azel, jika kamu memang benar-benar ingin menikah dengan om. Kita sama-sama berjuang, untuk meminta restu kepada daddy Azel." Jawab Roni, dia akan melepaskan Azel jika gadis itu mengubah keputusannya. Meskipun itu sangat menyakitkan untuk dirinya, tapi jika memang Azel sudah mengubah keputusannya, Roni akan mundur.


" Apa om meragukan aku?" tanya Azel lirih, Roni segera membantah itu.


" Zel, om hanya tidak ingin terobsesi memiliki kamu. Om sangat mencintai Azel, tapi om juga memikirkan jarak usia kita terlalu jauh. Om tidak ingin memaksakannya, tapi om sangat bahagia mengetahui kamu memang benar-benar ingin menikah dengan om. Kita akan berjuang sama-sama untuk mendapatkan restu. Maaf, bukan maksud om meragukan Azel. Karena om benar-benar serius untuk menikahi kamu, dan om juga ingin kamu memang mencintai om."


Azel menatik nafas panjang, dia tahu Roni memang benar-benar mencintainya. Tatapan mata laki-laki itu benar-benar membius Azel, dia begitu terpesona melihat sorot mata Roni. Entah itu memang karena Roni adalah playboy dulunya, sehingga dia bisa memikat hampir setiap wanita yang melihatnya.

__ADS_1


" Iya, om."


" Hari ini om akan datang kerumah Azel, untuk menemui ayah Azel dan juga meminta restunya."


" Makasih,om."


" Untuk apa?"


" Karena om mau berjuang, untuk kita."


" Tentu, karena kita memang saling mencintai. Jadi om akan berjuang untuk mendapatkan restu, agar kita bisa membangun rumah tangga berdua."


" Amin.Ya udah om, aku tutup ya. Assalamualaikum."


" Waalaikumsallam."


Reyan dan Resa pergi ke mall untuk membeli baju couple berdua, dan juga untuk Azel dan Miu. Mereka berdua tersenyum bahagia, Reyan mengambil baju dan berdiri didepan cermin. Mereka berdua menilai, apakah sweater itu cocok untuk mereka berdua.



" Kamu cantik pakai ini, sayang."


" Apa sekarang aku tidak cantik?"


" Kamu selalu cantik dan mempesona, tapi akan lebih cantik jika kamu memakai pakaian couple dengan aku."


Resa menoleh kearah Reyan, lalu tersenyum. Reyan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang, dia tidak ingin kehilangan Resa. Gadis itu sangat berarti untuk Reyan. Sejak kehadiran Resa, Reyan percaya keluarga harmonis itu memang ada. Karena Reyan dan Tia memang memiliki masalah, yang membuat mereka jauh dari kata harmonis dan romantis.

__ADS_1



__ADS_2