
Miu sedang duduk ditaman rumah, dia sedang memandangi bintang-bintang yang ada di langit. Arabel mendekati Miu, yang terlihat sedang menengadahkan kepalanya.
" Novelnya sudah kamu baca?" tanya Miu, Arabel mengangguk.
" Kemarin aku selesai membacanya."
" Bagaimana menurutmu?"
" Novelnya bagus, tapi harus berakhir tragis bukan happy ending." Jawab Arabel, Miu tersenyum memandangi Arabel.
" Ilea, tidak semua kisah cinta harus berakhir bahagia. Ada kalanya kita harus bertemu dengan seseorang dan sama-sama saling mencintai, namun harus dipisahkan oleh takdir. Karena Tuhan ingin menemukan kita dengan orang yang tepat, dan mungkin saja dia bukan orangnya. Bukankah saling mencintai saja tidak ada jaminan dia adalah orang yang tepat untuk kita?" Miu kembali menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang yang bersinar.
__ADS_1
Arabel dan Miu kembali terhanyut dalam pikiran masing-masing. Miu sebenarnya ingin mengetahui perasaan Arabel kepadanya. Namun dia tidak ingin buru-buru, Miu ingin memberikan Arabel lebih banyak waktu lagi untuk berpikir.
" Apa Kak Miu suka melihat bintang?" tanya Arabel, Miu mengangguk.
" Tentu, aku sangat menyukainya." Jawab Miu menoleh kearah Arabel, lalu tersenyum.
" Ilea..." Miu menggenggam tangan Arabel sambil menatapnya.
" Aku mungkin bukan sirius, bintang yang paling bersinar di langit malam. Tapi aku mau, menjadi seseorang yang kamu cintai. Aku mungkin juga bukan bintang-bintang yang bersinar indah dilangit malam. Aku mungkin hanyalah katai hitam, yang sudah tidak mempunyai energi panas dan cahaya lagi. Apakah kamu akan menerima aku yang hanya seorang black dwarf, dan tentunya itu bukan sirius?" tanya Miu, Arabel hanya tersenyum kearah Miu.
" Aku akan menunggu jawaban dari kamu, Ilea."
__ADS_1
" Ilea!!"panggil Miu lembut, gadis itu menoleh kearah laki-laki yang ada disampingnya.
" Ada apa, kak?"
" Kalau kamu sedang merindukan seseorang, keluarlah dan tatap bintang-bintang itu. Dan juga jangan lupa berdoa, untuk seseorang yang sedang kita rindukan."
" Aku akan tetap mencintai kamu, Ilea. Apapun jawabanmu nanti. Aku ingin seperti bintang, meskipun jauh, tapi aku selalu ada untuk kamu. Aku tidak pernah tahu, apa yang telah Tuhan takdirkan untuk kita. Apakah aku yang akan menjadi imammu nanti? dan apakah kamu adalah tulang rusukku? Aku hanya menjalani semua ini, yang aku tahu satu hal. Aku mencintaimu, aku tidak pernah menyesali selama ini harus menunggumu. Dan jika kamu bukan takdirku, aku akan tetap berbahagia untuk kamu. Jika ada seseorang yang mampu membuatmu bahagia, dan cintanya lebih besar daripada aku. Aku akan mengikhlaskan dirimu bersamanya."
" Apa Kak Miu menyerah?" tanya Arabel, Miu menggeleng.
" Aku bukannya menyerah, Ilea. Karena aku mencintaimu, oleh karena itu aku akan melepaskanmu jika kamu mencintai orang lain."
__ADS_1
" Aku juga tidak mengetahui, sampai kapan aku akan tetap bisa menjagamu seperti ini? Semua itu masih menjadi rahasia Sang Ilahi, tapi satu hal yang ingin aku katakan. Selama aku masih hidup, aku tidak ingin melihat siapapun melukaimu. Maka berjanjilah Ilea, kamu harus bisa menjaga dirimu sebaik-baiknya. Aku tidak ingin, ada seseorang menggoreskan luka untukmu." Sambung Miu lagi, Arabel mengernyitkan dahinya.
" Kakak seperti ingin pergi saja." Celetuk Arabel sambil tertawa kecil, Miu hanya membalasnya dengan senyuman.