
" Kak Miu kok ngelamun sih?" tanya Arabel kepada Miu.
" Ilea, boleh Kak Miu bicara serius?" tanya Miu kepada Arabel, gadis itu mengangguk.
Deg!!!
" A.. Ada apa Kak?" tanya Arabel, meskipun dia bisa menebak apa yang akan Miu katakan. Tapi hingga sampai saat ini, Arabel masih belum bisa memutuskan.
Miu mengambil nafas panjang, dia belum siap mengatakan semua itu. Tapi menunggu siap, bukankah dia selama ini sudah menyiapkan mental? tapi tetap saja, Miu tidak akan pernah siap. Miu mengumpulkan keberaniannya, Arabel harus tahu. Cepat atau lambat, itu hanya masalah waktu. Bukankah lebih baik Arabel cepat diberitahu semua ini?
" Ilea, aku mau memberitahukan sesuatu kepada kamu. Sebelum..." Belum selesai Miu menyelesaikan ucapannya, Arya dan Titan datang memanggil Arabel.
" Adek!!" Panggil kedua sahabat Arabel itu, Arabel langsung melambaikan kedua tangannya.
" Kak Miu tadi mau ngomong apa?" tanya Arabel, Miu menggeleng. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, menurut Miu.
" Mangganya sudah matang, dek?" tanya Titan, Arabel mengangguk.
__ADS_1
" Kalian mau?" kedua sahabat Arabel itu mengangguk.
" Yaudah, adek ambilin dulu ya." Arabel beranjak dari duduknya, namun Titan dan Arya menghentikan gadis itu.
" Biar kami yang panjat pohonnya."
" Memangnya kalian bisa?"
" Wah meragukan kami, ya bisalah." Arya dan Titan mencubit pipi Arabel dengan gemas.
" Aduh, sakit tau." Arabel mengusap-usap kedua belah pipinya.
" Adek, hati-hati!!" teriak Azel dari bawah, Arabel hanya mengacungkan jempolnya.
Helen duduk disebelah Miu, dia diam-diam mencuri pandang kepada laki-laki disebelahnya itu. Ketika kamu jatuh cinta, melihat orang lain memakai baju yang sama dengan seseorang yang kita itu saja mampu membuat bahagia. Apalagi sekarang, Helen duduk berdekatan dengan Miu. Jarak mereka berdua sangat dekat.
Ketiga sahabat itu turun dari pohon mangga dan membawa banyak buah manis itu. Arabel duduk ditengah-tengah antara Azel dan Roni. Azel mengusap buah mangga itu dan Arabel juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Karin memandang wajah Titan, wajah tampannya berkeringatan. Tapi itu justru membuat Karin semakin terpesona, ketampanan Titan meningkat dua kali ketika dia berkeringat seperti ini. Arabel memergoki Karin, yang sedang mencuri pandang kepada sahabatnya itu hanya tersenyum.
Selesai mengupas buah, Azel dan Roni saling menyuapi buah itu. Sedangkan yang lainnya, hanya tersenyum melihat pasangan itu. Mereka memang sudah lama menikah, tapi Azel dan Roni tetap berusaha mempertahankan keromantisan keduanya.
" So sweet banget sih." Azel tersenyum menoleh kearah Arabel, gadis itu tersenyum kepada bunda dan ayahnya. Azel mencium pipi Arabel, dia begitu menyayangi gadis itu.
" Anak bunda sekarang sudah besar." Kata Azel sambil menatap mata gadis cantik dihadapannya.
" Padahal perasaan baru saja ayah dan bunda gendong, sekarang sudah dewasa." Sahut Roni, Azel mengangguk. Helen dan Karin mendekati ayah dan bundanya, Roni dan Azel tersenyum.
" Kakak juga sekarang sudah lebih 20 tahun, gak kerasa ya, Yah." Azel mengusap rambut kedua anaknya lembut, lalu mencium pipi Helen dan Karin.
Azel tersenyum mengingat-ingat masa kecil ketiga putrinya, sekarang Arabel, Helen, dan Karin sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
" I love you ayah, bunda." Arabel, Helen, dan Karin memeluk Azel dan Roni.
" I love you too, my princesses." Jawab Roni, dan mencium puncak kepala ketiga gadis itu. Miu, Arya, dan Titan tersenyum melihat kehangatan mereka.
__ADS_1