
Pulang dari kantor, Miu mampir terlebih dahululu ke cafe didekat rumah Arya. Ada rasa lega dihatinya, karena sudah menceritakan semua pesan terakhir Reyan. Jujur, didalam lubuk hatinya pasti ada kata berharap agar Arabel menerima semua ini.
Helen yang harus saja datang ke cafe melihat Miu, laki-laki itu sedang duduk melamun sambil ditemani segelas kopi. Helen menghampirinya, namun sepertinya Miu tidak menyadari kehadiran gadis itu.
" Kak Miu!!" Panggil Helen, Miu langsung tersadar dari lamunannya.
" Helen? kamu ngapain disini? mau ngumpul sama Terre dan Clara?" tanya Miu, Helen menggelengkan kepalanya dan duduk berhadapan dengan Miu.
" Tadi aku baru shoping, kak. Kak Miu sendiri ngapain disini? ngelamun lagi dari tadi."
" Biasalah ada sedikit masalah kantor." Jawab Miu sekenanya, mana mungkin dia mengatakan tentang dirinya dan juga Arabel. Meskipun Helen kakak Arabel, tapi Miu belum yakin ini waktu yang tepat untuk mengumumkan semuanya. Apalagi saat ini Arabel belum menjawab secara pasti, bagaimana kelanjutan hubungan mereka.
" Kak Miu sudah punya pacar?" tanya Helen, Miu menatap gadis itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Maaf lancang, tapi aku beneran mau tahu." Sambung Helen lagi, Miu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Masa sih Kak Miu belum punya pacar?Kakakkan tampan, cerdas, mapan. Apalagi, usia Kak Miu sudah matang. Jadi mana mungkin Kak Miu belum punya pacar?" tanya Helen, dia memang mengetahui perjodohan Miu dan Arabel. Tapi Helen ingin tahu, apakah mIu sebenarnya sudah punya pacar atau belum.
" Ada seseorang yang selama aku tunggu." Jawab Miu kemudian, dia tersenyum samar.
" Kak Miu tunggu?" tanya Helen, Miu mengangguk.
" Aku ingin menikah dengannya, hingga aku harus menunggu belasan tahun hanya untuk bertemu kembali dengan dia." Jawab Miu, Helen semakin penasaran siapa yang sebenarnya Miu tunggu selama ini.
" Apa dia juga mencintai Kak Miu?"
" Wah, aku jadi penasaran seperti apa gadis itu. Pasti dia sangat cantik, jadi bisa membuat Kak Miu jatuh cinta kepadanya." Helen tersenyum samar, dia sendiri sedang merasakan sesak di dadanya karena harus mendengarkan Miu yang ternyata mencintai wanita lain.
" Dia bukan hanya sekedar cantik, tapi juga cerdas dan baik hati. Jadi sangat wajar, jika ada banyak laki-laki yang mencintai dia."
Helen memaksakan senyuman dibibirnya. Ternyata sesakit ini rasanya, ketika orang yang kamu cinta mencintai orang lain.
__ADS_1
" Siapa perempuan beruntung itu, kak?" tanya Helen penasaran.
" Nanti, kamu juga akan tahu siapa dia." Jawab Miu tersenyum, sekilas bayangan Arabel terlintas dibenaknya.
" Kamu kesini naik mobil?" tanya Miu ketika mereka sudah diluar cafe.
" Aku kesini tadi diantar Arya."
" Yaudah, bareng aku aja."
" Bolehkah?" tanya Helen, Miu mengangguk sambil terkikik kecil.
" Tentu, kamukan adikku juga. Apalagi kita satu rumah, jadi tidak perlu sungkan denganku." Jawab Miu, Helen mengangguk dan tersenyum sumringah.
" Tidak apa-apa jika dia mencintai orang lain saat ini, tapi setidaknya kami bisa pulang bersama."
__ADS_1
Arabel melihat Helen dan Miu masuk mobil, dia ingin memanggil mereka berdua. Namun urung, karena sepertinya Helen sangat bahagia ketika bersama dengan Miu.