Beauty Girl

Beauty Girl
Selalu ada


__ADS_3

" Beneran?" tanya Reyan lagi memastikan.


" Iyalah, ngapain bohong."


" Aku kira, kamu bakal ninggalin aku."


" Kamu takut aku tinggalin?" tanya Resa dan membalikkan badannya menghadap Reyan. Suaminya itu memeluknya dengan erat.


" Iya. Jangan pergi."


" Enggak. Sekarang lepasin dulu, aku mau cuci pakaian."


" Nggak mau."


Resa menarik nafas panjang, saat ini Reyan sedang ingin dimanjakan olehnya. Dia menarik kopernya, dengan posisi Reyan memeluknya dari belakang. Tiba-tiba perut Resa keroncongan, mungkin cacing-cacing diperutnya sedang kelaparan. Reyan tersenyum mendengar suara perut istrinya.


" Kamu lapar, sayang?" tanya Reyan, sambil mengelus perut istrinya. Resa mengangguk, dia memang sedang lapar. Karena pagi tadi, dia lupa sarapan hanya memakan cemilan sedikit. Karena ketiga orang dirumah ini, ingin bermanja-manja dengan dirinya.


" Aku masakin kamu." Kata Reyan kemudian, dan membalikkan tubuh istrinya.


" Kamu bisa masak?" tanya Resa meragukan suami tampannya itu.


" Tentu."


" Kok aku nggak tahu?"


" Karena selama ini, istri cantik aku yang selalu masak buat aku. Makasih ya, sayang."


" Makasih buat apa?"


" Makasih karena kamu sudah menjadi istri dan ibu terbaik, untuk aku dan anak-anak."

__ADS_1


" Makasih juga, kamu sudah menjadi suami terbaik untuk aku."


Reyan mencium kening istrinya lama, kemudian dia menuju dapur untuk memasak makanan untuk istrinya. Resa sebenarnya, masih meragukan kemampuan suaminya itu ketika memasak. Bagaimanapun rasanya nanti, Resa akan mungkin akan menghabiskan makanan buatan suaminya itu. Kemudian setelah selesai mencuci pakaian, Resa menghampiri Reyan yang sedang fokus memasak.


" Hmmmmm, harum."


" Sebentar lagi selesai, sayang. Sabar ya."


" Masak apa kamu?" tanya Resa sambil memeluk Reyan dari belakang.


" Masak nasi goreng." Jawab Reyan, Resa menghembuskan nafas lega. Setidaknya ada harapan masakan Reyan enak, karena itu tidak terlalu sulit.


Resa kemudian duduk dimeja makan, Reyan membawakannya nasi goreng spesial. Dari harumnya dan tampilannya sih okay. Kalau rasa........


" Aku makan ya?" kata Resa sedikit ragu, tidak lupa dia mengungkapkan basmallah. Wajahnya berubah, ternyata masakan suaminya tidak kalah enak dengan makanan buatannya.


" Enak banget, hubby. Makasih ya." Kata Resa dan menyuapi Reyan, tentu saja ia tidak menolak suapan dari istrinya itu.


Ketika Reyan terus mengelus-elus perutnya, Resa merasa ada sesuatu yang suaminya inginkan. Tiga tahun lebih mereka membina rumah tangga, namun hingga saat ini belum diberikan kepercayaan untuk memiliki anak. Setelah menghabiskan makanannya, Resa menatap wajah suaminya. Reyan juga menatap istrinya dengan penuh cinta. Tatapan mereka beradu, ada cinta dan sayang terlihat jelas disana.


" Maaf ya!" kata Resa.


" Buat apa, sayang?"


" Maaf aku... belum bisa memberikan kamu anak." Kata Resa, lalu menunduk sedih. Reyan merasa bersalah dengan kebiasaannya, dia memang suka mengelus perut istrinya itu.


" Aku gak papa kok. Kita diberikan kepercayaan untuk mempunyai anak, Alhamdulillah. Tapi jika belum, kita tetap bersabar. Lagian, sekarang kita punya Azel dan Miu. Yang terpenting buat aku, kamu tetap disini menemani aku. Jangan pergi. Mau kita diberi kepercayaan untuk memiliki anak atau tidak, itu bukan masalah, sayang. Maaf kebiasaan aku mengelus perut kamu, aku suka melakukan itu." Kata Reyan, kemudian mencium kening istrinya lama. Resa memegang tangan Reyan, dan mereka mengelus-elus perutnya. Dia tahu, Reyan memang mengharapkan buah hati dari dirinya. Namun hingga kini, Tuhan belum memberikan kepercayaan untuk mereka memiliki buah hati.


Resa tersenyum kepada Reyan, dia ingin membuat suaminya itu bahagia dengan kehadiran buah hati mereka. Selama ini, Resa memang sudah melakukan yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya. Hingga dia lulus kuliah saat ini, Resa memutuskan untuk tidak bekerja. Karena dia, tidak ingin anak-anak dan suaminya terabaikan.


" Makasih ya, nasi gorengnya. Enak banget." Kata Resa sambil mengangkat kedua jempol tangannya.

__ADS_1


" Tentu, sayang. I love you."


" I love you too."


Mereka berdua memang sering romantis, Miu dan Azel sudah terbiasa dengan sikao romantis dari mereka berdua. Tapi tentu saja, Reyan dan Resa sewajarnya saja romantis dihadapan kedua anaknya.


Azel baru merasakan keluarga yang harmonis, ketika Reyan menikah dengan Resa. Sebelumnya, Azel sering mendengar daddynya dan Mama Tia bertengkar. Mungkin itu juga karena kesalahan mamanya, hingga daddynya tidak bersikap romantis dan lebih cenderung dingin. Azel juga melihat kedewasaan berumah tangga dari Resa, dia sangat ingin seperti mommynya itu. Azel tidak pernah membenci mamanya, walaupun dia pernah membuat daddy dan dirinya kecewa. Tapi ternyata dibalik semua itu, Tuhan mengirimkan Resa untuk melengkapi keluarga mereka.


" Hubby, aku mau kekamar Azel dulu ya."


" Iya, sayang."


Terkadang, Azel tiba-tiba bersedih karena perceraian kedua orang tuanya. Meskipun saat ini, dia sangat bahagia memiliki Resa sebagai ibu sambung untuk dirinya. Namun perasaan seorang anak yang besar dari keluarga broken home, tidak bisa dia bohongi. Dia sedih, karena Reyan dan Tia bercerai saai itu. Namun kini, mereka juga sudah bahagia dengan hidup masing-masing. Begitupun Azel, dia sangat bahagia tinggal dengan Reyan dan Resa. Sosok ibu tiri yang kejam, tidak ia temukan dari Resa. Mommynya itu, selalu memperlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Tidak pernah membentak, walaupun dia berbuat kesalahan. Selalu ada, ketika Azel perlu seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.


Tanpa Azel sadari air matanya menetes, dan Resa sudah melihat gadis itu terlihat bersedih. Dia bisa merasakan apa yang Azel rasakan. Meskipun gadis itu sudah mengikhlaskan mama dan daddynya bercerai, tetap saja dia kadang menangis. Resa menghampiri dan memeluk gadis itu.


" Azel, ada apa? cerita sama mommy."


" Nggak kenapa-napa, Mommy Sa. Azel cuma kelilipan, kok."


" Zel, jangan bohong. Mommy tahu kamu sedang sedih."


" Mommy Sa, Azel sedih kalau ingat daddy dan Mama Tia bercerai. Maaf, bukan maksud Azel tidak bersyukur dengan kehadiran mommy. Azel malah sangat bahagia, mempunyai ibu seperti Mommy Sa. Tapi Azel sedih, karena tumbuh dikeluarga broken home."


" Azel, mommy mengerti perasaan kamu. Maaf kalau selama ini, Mommy Sa belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Azel. Tapi mommy akan belajar lagi, supaya bisa jadi ibu yang lebih baik untuk Azel dan Miu."



" Azel bahagia dan bangga punya ibu kayak Mommy Sa. Azel janji, bakal bahagiain Mommy Sa, daddy, dan Mama Tia."


" Azel, kami sebagai orang tua, sangat bangga dan bahagia punya anak seperti Azel. Mommy Sa, Daddy Reyan, dan Mama Tia sudah sangat bahagia memiliki anak seperti Azel. Yang terpenting, kamu harus berguna untuk orang lain nanti."

__ADS_1


__ADS_2