
Selama ini memang Tia belum pernah bertemu dengan Resa secara langsung, dia harus mengakui wajah gadis itu lebih cantik aslinya daripada di video call.
" Pantas saja Reyan sangat cinta dengan gadis ini, dia cantik, cerdas, baik, dan banyak kelebihannya lagi." Batin Tia, lalu dia tersenyum menatap wajah Resa.
" Apa kabar, ya?" tanya Reyan, mereka masih canggung apabila bertemu secara langsung seperti ini. Dulu Tia memang istrinya, tapi setelah perceraian mereka tidak pernah bertemu lagi.
" Alhamdulillah, baik." Jawab Tia, Resa tersenyum melihat kedua orang itu yang terlihat sangat canggung satu sama lain.
" Hubby, Kak Tia, kalian jangan canggung gitu dong." Goda Resa sambil tersenyum, Tia hanya mengangguk. Bagaimana mungkin mereka tidak canggung, setelah perceraian yang membuat Azel sangat bersedih itu. Anak gadis tersayang mereka, yang menjadi korban dari keduanya.
Mereka mengobrol di ruang keluarga, meskipun Tia dan Reyan masih sangat canggung untuk sekedar mengobrol.
" Ada apa? apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Tia, Azel menatap bingung kearah daddynya.
" Azel mau menikah, Ya." Jawab Reyan, dan itu sukses membuat Tia terkejut.
" Menikah?" tanya Tia memastikan, Reyan mengangguk. Resa hanya diam saja, dia memandangi wajah Azel yang menahan malu.
" Kamu beneran mau menikah, sayang?" tanya Tia kepada anak gadisnya itu, Azel mengangguk.
" Siapa laki-laki yang beruntung mendapatkan hati anak mama?" tanya Tia kepada Azel.
" Roni." Jawab Reyan, dia tahu Azel tidak akan menjawabnya karena malu.
" Roni? sahabat kamu?" tanya Tia sambil mengingat-ingat tentang Roni, jarak usia mereka sangat jauh. Tapi Tia juga tidak bisa melarang begitu saja, karena selama ini dia sudah menelantarkan anaknya. Azel kurang kasih sayang dari dirinya, untunglah ada Resa sebagai ibu sambung untuk anaknya itu.
__ADS_1
Seringkali Tia menyesali perbuatannya dimasa lalu, tapi melihat Reyan dan Azel sekarang sangat bahagia membuatnya senang. Setidaknya, dia merasa Reyan bisa mendapatkan perempuan yang lebih darinya. Air mata Tia menetes tanpa permisi, Resa, Reyan dan Azel bingung kenapa Tia menangis.
" Kak Tia, ada apa?" tanya Resa, Tia menggeleng sambil tersenyum.
" Aku sangat bahagia, karena Reyan dan Azel sekarang lebih bahagia hidup dengan kamu. Aku tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka berdua." Jawab Tia, Resa menggelengkan kepalanya.
" Tia, kamu adalah alasan kenapa Azel dilahirkan ke dunia ini. Masa lalu biarkan kita kubur, meskipun tidak bisa dilupakan karena kenangan itu tidak bisa dihapuskan. Aku dan Azel sudah memaafkan kamu, kita semua sudah sama-sama bahagia. Mungkin ini cara Tuhan untuk membuat kita, mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Dan aku akan terus berterima kasih kepada kamu, karena kamu sudah melahirkan Azel untuk kita." Jawab Reyan, Tia mengangguk sambil tersenyum.
Mereka memang sudah sama-sama bahagia dengan kehidupan baru, kesalahannya Tia masa lalu membawa Reyan mendapatkan cinta Resa. Jika dirinya dengan Tia tidak bercerai, mungkin Reyan tidak akan menikah dengan gadis itu. Resa adalah kebahagiaan untuk Reyan, dia tidak ingin mereka terpisahkan.
Kemudian ada bunyi bell, Resa segera membukakan pintu. Roni sedang berdiri disana, dengan kemeja batik berwarna hitam dan merah. Roni menampilkan senyumannya kepada Resa, gadis itu membalas senyuman itu.
" Kak Roni, silakan masuk. Ada Kak Tia juga didalam."
Mereka berdua keruang keluarga, disana Azel, Reyan, dan Tia melihat kearah tamu yang baru datang. Resa tersenyum memandang wajah suaminya, Reyan terlihat kesal dengan kehadiran Roni. Reyan belum tahu, apakah dirinya sudah merestui hubungan sahabatnya dengan putrinya itu.
" Kamu serius sama Azel, Ron?" tanya Tia, dia tidak ingin putrinya itu hanya menjadi mainan untuk Roni.
" Aku serius, Tia. Aku mencintai Azel, begitupun sebaliknya. Kami saling mencintai. Jadi aku harap, kalian akan merestui hubungan kami. Aku ingin segera menikah, apalagi usiaku tidak lagi muda."
Reyan terus menatap Roni, kemudian matanya beralih kearah Azel. Putrinya itu menatapnya dengan tatapan memohon, Reyan tidak tega untuk menolak Roni. Tia berpikir, dia melihat Roni dan Azel memamg saling mencintai dari tatapan mata mereka berdua. Tapi bukankah ini terlalu cepat, untuk putrinya itu menikah diusia 18 tahun.
" Aku terserah Reyan, keputusan ada ditangannya." Jawab Tia, Roni mengangguk.
" Rey, gue beneran mau menikah dengan Azel karena cinta. Bukan buat mainin perasaan anak lo." Kata Roni kepada sahabatnya itu, Reyan hanya membalasnya dengan tatapan.
__ADS_1
Azan maghrib berkumandang, mereka shalat berjamaah. Reyan menyuruh Roni menjadi imam, dia tidak ingin anaknya menikah dengan orang yang tidak paham masalah agama. Roni sedikit gugup, karena kali ini dia datang bukan sebagai sahabat atau bawahan Reyan. Tapi kali ini, dia akan meminta restu kepada sahabat itu.
Setelah selesai, Reyan mengambil Al-Qur'an dan menyuruh Roni membacanya. Dia ingin mendengar sahabatnya itu mengaji, Reyan tidak menerima Roni sebagai menantunya apabila laki-laki itu tidak bisa mengaji. Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an terdengar merdu, Roni memang bisa mengaji dari kecil. Mungkin Reyan lupa, jika mereka berdua mengaji sama-sama.
Reyan menatap Roni, dia sebenarnya tidak ingin merestui hubungan Azel dengan sahabatnya itu. Masa menantu lebih tua daripada mertua? tapi hal itu sudah berubah, karena Reyan yakin Roni bisa menjadi imam yang baik untuk putrinya itu
Miu duduk dipangkuan Reyan, dia mencium puncak kepala anak berusia 8 tahun itu. Reyan tidak membayangkan, jika dirinya harus menjadi kakek ketika usianya masih muda seperti ini. Azel menatap Reyan dengan tatapan memelas, hal itu membuat dirinya semakin luluh untuk merestui hubungan mereka berdua.
" Ron, gue bakal merestui lo sama Azel. Tapi kalau lo berani nyakitin dia, siap-siap aja lo." Kata Reyan, Roni menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Reyan menerima dirinya sebagai menantu, Roni merasa sangat bahagia.
" Makasih, Rey. Gue janji, gak bakal nyakitin Azel."
Resa dan Tia tersenyum, mereka bahagia karena Reyan merestui hubungan Azel dan Roni. Azel memeluk daddynya, Reyan membalas pelukan putrinya itu.
" Makasih, daddy."
" Sama-sama, Zel. Kalian mau nikahnya kapan?" tanya Reyan, dia hanya ingin mengetahui apakah Roni dan Azel sudah menentukan tanggal.
" Secepatnya, mungkin minggu depan." Jawab Roni, Reyan ternganga dengan jawaban calon menantunya itu.
" Enggak kecepatan tuh?" tanya Reyan, menurutnya mereka sangat buru-buru.
Roni menggeleng, Azel tersenyum memandang wajah ayahnya. Reyan masih keberatan, jika putrinya itu akan secepat itu menikah. Tapi apa boleh buat, dia juga setuju jika Azel dan Roni tidak lama-lama pacaran.
" Jadi istri yang baik untuk suami kamu, Zel. Jaga kepercayaan kalian satu sama lain."
__ADS_1