
Reyan kembali kekamarnya, dia membuka surat yang diberikan Resa kepadanya. Surat terakhir yang akan disimpannya, sebagai kenang-kenangan istrinya.
***Dear suamiku,
Hari- hari yang telah aku lewati bersamamu, adalah tahun-tahun terindah dihidupku. Aku bersyukur kepada Allah, karena telah memberikan suami seperti kamu. Yang bisa menjadi imam yang baik untukku dan anak-anak kita. Jika ditanya, apakah aku pernah melewati hari-hari yang membosankan denganmu, tentu aku akan menjawabnya tidak.
Kamu tahu, betapa bahagianya dan bersyukurnya aku mendapatkan suami seperti kamu. Aku merasa wanita yang paling bahagia, bisa memiliki suami seperti kamu, sayang. Walaupun kamu sudah tua, wkwkkwkww, bercanda ya sayang, tapi kamu masih sangat tampan***.
Reyan tertawa kecil dan menghapus air matanya kasar, inilah yang dia rindukan tawa canda dengan Resa. Gadis cantik yang telah memikat hatinya, bahkan Reyan selalu merasa jatuh cinta lagi dan lagi setiap saat.
***Hari-hari yang telah aku lewati bersama kamu , adalah saat terindah dalam hidupku. Entah kenapa dengan hatiku, seakan-akan ada firasat jika aku akan segera pergi. Oleh karena itu, aku menulis surat ini untukmu. Mungkin saat kamu membaca ini, aku masih ada disamping kamu atau... Aku harap, saat ini kita masih bersama. Saling mencintai satu sama lain.
Jika aku lebih dulu pergi, kamu harus jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan, dan jaga kesehatan. Kita masih punya putri kecil yang akan menemanimu, jaga dirimu dan juga dia, Miu, dan Azel. Aku selalu mencintai kamu, dan jangan pernah ragukan itu.
__ADS_1
Jika aku pergi, dan suatu saat nanti kamu bertemu dengan wanita yang baik dan mampu membuatmu jatuh cinta. Menikahlah dengannya, asalkan dia bisa menerima putra dan putri kita.
Terima kasih sudah menjadi suami paling baik untukku. Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Maafkan aku, yang banyak kekurangan dan salah kepadamu. I love you hubby***.....
" I love you more." Gumam Reyan, sambil melipat surat itu lagi. Surat dari perempuan yang paling dicintainya.
" Kenapa kamu pergi secepat ini, sayang?" lirih Reyan dengan air mata yang semakin banyak mengalir, dia benar-benar sedih saat ini. Saat ini, dia seperti mendapat kebahagiaan juga kesedihan terbesar baginya. Kehadiran bayi cantiknya adalah rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasa bahagianya seperti saat Azel dilahirkan ke dunia ini, saat Reyan pertama kali menjadi seorang "ayah".
" Daddy!!" Reyan membalikkan tubuhnya, disana sudah ada Miu yang sedang berdiri di pintu kamar.
" Jagoan daddy, kemari sayang." Jawab Reyan, dengan senyum tipis diwajah tampannya. Miu menghampiri Reyan, dia tahu daddynya saat ini sangat terpukul atas kepergian Mommynya.
Reyan menatap remaja dihadapannya, Miu sangat tampan diusianya yang sudah 13 tahun. Reyan sangat menyayangi putranya itu, meskipun hanya sekedar anak angkat. Tapi dia tidak pernah membedakan rasa sayangnya kepada Azel, Miu, dan bayi cantiknya.
__ADS_1
" Jagoan daddy semakin tampan. Apa ada hal yang ingin Miu sampaikan kepada daddy?" tanya Reyan, Miu menganggukan kepalanya.
" Terima kasih daddy sudah sangat menyayangiku." Reyan menatap wajah putranya itu, lalu dia tersenyum.
" Daddy akan selalu menyayangi kalian."
" Siapa nama dedek cantik ini, daddy?" tanya Miu sambil mencium pipi bayi lucu itu.
" Daddy masih memikirkannya, apa Miu ada saran?"
" Bagaimana kalau Ileana? bukankah itu nama yang cantik untuk si dedek cantik ini?"
" Nama yang sangat cantik. Baiklah, namanya adalah Arabella Ileana Putri Reypratama. Apa itu bagus?" tanya Reyan, Miu mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1