Beauty Girl

Beauty Girl
Menceritakan


__ADS_3

Arabel seperti biasanya, dia akan kerumah pohon bersama kedua sahabatnya. Titan dan Arya sudah menjemputnya sejak tadi. Arabel berniat, untuk menceritakan tentang dirinya dan juga Miu kepada kedua sahabatnya itu. Mungkin saja, Titan dan Arya memiliki pendapat yang bagus tentang hubungannya


dengan Miu.


" Ilea, mau kemana?" tanya Miu yang sudah siap-siap pergi kekantor.


" Biasa, mau santai sama Titan dan Arya." Jawab Arabel, dia sangat bersemangat hari ini karena sudah lebih seminggu mereka bertiga tidak bertemu.


Miu memandang punggung gadis itu yang mulai menghilang. Dia memikirkan sesuatu, dia tidak yakin diantara Arabel dan dua sahabatnya itu tidak memiliki perasaan cinta. Kendati, hanya salah satu yang merasakan itu.


" Adek mau cerita sesuatu dengan kalian berdua." Kata Arabel, Titan dan Arya mengangguk.


" Adek bisa cerita apapun dengan kami." Jawab Arya yang diangguki oleh Titan.

__ADS_1


" Nanti adek ceritanya, kalau kita sudah sampai dirumah pohon."


Sesampai dirumah pohon, mereka bertiga langsung merebahkan tubuhnya. Harapan ketiga sahabat itu hanya satu, mereka akan tetap saling menyayangi seperti ini hingga nanti. Meskipun tidak dapat dipungkiri, jika ada perasaan cinta dari Arya dan Titan untuk sahabat mereka itu.


" Bukannya adek tadi mau cerita? mau cerita apa?" tanya Titan kepada Arabel.


" Kalian tahukan kalau Daddy dan mommy adek sudah meninggal ketika adek masih bayi?!! Lebih tepatnya, Mommy Sa meninggal ketika melahirkan adek. Sedangkan Daddy Rey pergi, saat usia adek sekitar satu minggu. Dan ternyata sebelum meninggal, Daddy meninggalkan pesan terakhir untuk Kak Miu dan adek."


" Ternyata, adek dijodohkan dengan Kak Miu saat itu."


" Apa!!!" Kedua sahabat Arabel terlihat shock mendengar penuturan sahabatnya itu.


" Iya, adek dan Kak Miu dijodohkan dan itu menjadi pesan terakhir Daddy Rey."

__ADS_1


" Adek menerima perjodohan itu?" tanya Titan, jujur dia tidak rela melihat Arabel harus bersama laki-laki lain.


" Adek tidak menerima dan juga menolaknya, adek mau mengenal Kak Miu dulu."


" Adek akan menerima semua ini, jika kami sudah saling jatuh cinta." Sambung Arabel sambil menatap langit-langit rumah pohon.


Titan tidak bisa berkata-kata lagi, kerongkongannya terasa tersekat. Titan memalingkan wajahnya Kedinding, sambil tersenyum samar. Setetes air mata mengalir ketika mendengar Arabel sudah dipilihkan calon suami oleh daddynya sejak bayi. Perasaan yang selama ini dia pendam, apa masih ada peluang untuk menaklukkan hati gadis yang ada disampingnya ini? Memang terdengar sangat cengeng, ketika seorang laki-laki menangis karena wanita. Namun ini berbeda, perasaan Titan kepada Arabel sudah tumbuh sejak lama. Perasaannya semakin lama, semakin tumbuh subur.


Ada rasa takut kehilangan dari hati Titan yang paling dalam, dia tidak sanggup. Tidak sanggup, jika Arabel akan menerima perjodohan ini.


" Jujur, aku masih bingung. Bagaimanapun, ini adalah pesan terakhir daddy. Mungkin kami tidak pernah bertemu, ketika aku sudah bisa mengingat wajah orang lain. Tapi aku pikir, jika Daddy memilihkan Kak Miu untukku mungkin dia adalah laki-laki special."


" Mendengar tentang kisah cinta Daddy Rey dan Mommy Sa, membuatku ingin seperti mereka. Aku ingin seperti Mommy Sa, bisa menjadi istri yang pengertian dan dewasa. Dan aku juga ingin, mendapatkan jodoh seperti Daddy. Dia mencintai Mommy Sa dengan sangat tulus dan tidak pernah mengkhianati cinta mereka." Arabel tersenyum ketika memikirkan keinginannya itu.

__ADS_1


__ADS_2