Beauty Girl

Beauty Girl
Berharap


__ADS_3

" Mommy Sa kenapa daddy?" tanya Azel kepada Reyan, ayahnya itu tidak juga menjawabnya. Namun dari sorot matanya, terlihat sekali, jika Reyan saat ini sedang menahan kesedihan. Azel kembali memeluk Reyan, untuk memberikan dukungan kepada laki-laki yang paling disayanginya itu.


" Apakah Adek bayinya sudah di adzani, Daddy?" tanya Azel, Reyan menggeleng. Dia bahkan lupa, untuk mengadzani putri keduanya itu.


Azel bangkit dan menggendong adik kecilnya itu, usia adiknya bahkan lebih muda dari kedua anaknya. Reyan mengadzani putrinya dengan mata berkaca-kaca, ada kebahagiaan disana juga kesedihan karena saat ini istrinya sedang kritis.


"Apa daddy sudah memberikannya nama?" tanya Azel lagi, Reyan menggeleng.


" Biar Mommy Sa yang akan memberikannya nama." Jawab Reyan dan diangguki oleh Azel.


Reyan segera ke masjid untuk menunaikan shalat, dia memohon kepada Sang Pencipta untuk memberikan kesembuhan kepada istri tercintanya. Reyan memanjatkan doa kepada Sang Pemilik segalanya, dia tidak sanggup jika harus kehilangan Resa. Air matanya tidak sanggup lagi ditahan, hatinya begitu sakit ketika mendengar keadaan istrinya seperti ini.


Azel menahan sesak di dadanya mengetahui keadaan Resa saat ini, dia tidak bisa membayangkan reaksi Reyan jika mengetahui hal itu. Reyan menghampiri putri sulungnya itu, Azel segera memeluk tubuh daddynya.

__ADS_1


" Azel, ada apa nak?" tanya Reyan lembut.


" Daddy, Mommy Sa...."


" Mommy Sa, kenapa?"


" Dokter tadi bilang, jika Mommy Sa..." Azel menarik nafasnya dan menelan salivanya untuk mengatakan hal itu.


" Mommy Sa tidak bisa diselamatkan." Sambung Azel dengan wajah menunduk, pikiran Reyan langsung berkecamuk.


" Aku tidak mungkin berbohong tentang kematian daddy. Ini seperti mimpi bagiku, yang bahkan dalam mimpi saja tidak aku harapkan." Jawab Azel, air matanya mengalir.


" Enggak, ini gak mungkin." Reyan langsung menemui dokter yang menangani istrinya, Azel segera menyusul daddynya.

__ADS_1


" Dokter, bilang kalau istri saya sudah pergi itu hanya lelucon bukan? ini mimpi kan?" tanya Reyan, dokter itu menunduk.


" Maaf tuan, tapi nyonya memang tidak bisa tertolong." Jawab sang dokter, kaki Reyan serasa tidak kuat lagi berdiri. Sekarang, istrinya sudah pergi meninggalkannya dengan putri mereka yang baru lahir. Hati Reyan mencelos, kerongkongannya terasa tersekat, hatinya serasa terkena ribuan sembilu.


" Daddy!" lirih Azel sambil memeluk daddynya, yang kini terduduk dilantai sambil menangis.


" Zel, kenapa mommy Sa secepat ini meninggalkan kita?" tanya Reyan, pertanyaan yang Azel tidak tahu jawabannya. Semua itu adalah takdir, tapi saat ini dia hanya bisa menenangkan Reyan yang sedang terpukul.


******


" Sayang, aku masih berharap ini sebuah lelucon darimu. Aku masih berharap, ini hanya sebuah mimpi tidur yang tidak aku inginkan terjadi. Kamu bilang sama aku, kamu cuma bercandakan?" Reyan berbicara disamping jenazah istrinya yang sudah ditutupi kain putih, dipeluknya tubuh istrinya erat-erat.


Azel melihat pemandangan yang sangat memilukan baginya, dia juga sangat terpukul karena kepergian Resa. Baginya Resa sudah seperti ibu sekaligus sahabat untuknya, apalagi jarak usia mereka hanya terpaut 2 tahun. Resa mampu mengisi kekosongan yang ada dihati Reyan maupun Azel, namun kali ini dia tidak bisa lagi menemani hari-hari suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


" Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini, sayang?" tanya Reyan lagi, dia juga sebenarnya tahu jika Resa tidak akan kembali lagi meskipun dia menangis.


" Daddy, Mommy Sa harus segera dimandikan." Kata Azel, Reyan mengangguk lemah.


__ADS_2