
" Selama ini Arabel menahan rasa sakitnya sendirian, seandainya ini sudah ditangani sejak awal."
Miu menahan air matanya agar tidak menetes, saat mendengar ucapan Azel tentang kondisi Arabel. Rasa sakit yang Miu rasakan, seolah sirna begitu saja. Hatinya begitu sakit mengetahui, jika Arabel harus secepatnya melakukan transplantasi jantung.
" Kak Azel, boleh aku meminta selembar kertas?" pinta Miu, Roni segera mengambil kertas dan pulpen dari tas kerjanya.
Entah kekuatan dari mana, tangan Miu yang kaku dan terluka bisa menulis surat untuk Arabel. Miu meneteskan air matanya ketika menulis surat itu, persetan dengan pendapat orang lain tentang dirinya.
" Kak Azel, terima kasih selama ini kakak sudah merawat dan menyayangiku." Azel mengangguk dan tersenyum, dan tentu saja air matanya masih mengalir.
" Bisakah kakak memberikan surat ini kepada Ilea, jika dia sudah bangun?" tanya Miu, Azel mengangguk.
__ADS_1
" Kak Azel mungkin waktuku sudah tidak lama lagi, aku ingin kakak menyampaikan sesuatu kepada Ilea. Jika aku sangat mencintai dia. Untuk transplantasi jantung Ilea, biarkan aku yang akan mendonorkan jantungku untuk Ilea, jika cocok dengan miliknya." Ucapan Miu, semakin membuat Azel semakin menjadi-jadi menangis.
" Titan, Arya!!" panggil Miu, dua sahabat Ilea itupun datang mendekat.
" Aku titip Ilea, tolong jaga dia untukku. Dan satu lagi, tetaplah selalu ada untuk dia. Bahagiakan dia."
" Kakak tidak perlu khawatir, kami akan melakukan itu."Jawab Titan dan Arya.
" Kalian bertiga harus ingat satu hal, jangan pernah lagi bertengkar karena cinta. Helen, terima kasih karena selama ini kamu sudah mencintaiku." Helen mengangguk, dia dan Karin meneteskan air mata.
Roni menghampiri Miu yang kini detak jantungnya semakin tidak stabil. Miu memandangi wajah pucat Arabel, hatinya sangat sakit karena harus melihat gadis yang sangat dia cintai seperti ini.
__ADS_1
"Ilea, berbahagialah ketika kamu sudah terjaga nanti. Mungkin kamu bukan tulang rusukku, tapi aku ingin selalu ada didekatmu. Dengan jantung yang akan ku donorkan nanti, aku berharap kamu akan bisa kembali seperti sedia kala. Mungkin cinta kita tidak ditakdirkan untuk bersatu, meskipun aku sangat mencintaimu. Oleh karena itu, setidaknya aku berharap bisa menyelamatkan kamu. Jangan merasa bersalah, karena aku bahagia jika harus berkorban untuk kamu. Terima kasih telah membuatku merasakan jatuh cinta selama ini, sayangku. Meskipun hingga saat ini, aku belum mengetahui apakah kamu juga mencintaiku atau tidak. Yang terpenting saat ini, bukan aku dan kamu bisa bersatu. Tapi aku ingin, kamu menjalani hidupmu yang baru dengan lebih ceria lagi. Dengan jantung ini, aku ingin kamu merasakan jatuh cinta dan berdebar-debar. Meskipun aku tahu, orang itu bukanlah aku. Aku sangat mencintaimu." Miu terus memandangi wajah Arabel dan mengatakan semua itu didalam hatinya.
" Selamat tinggal, sayang. Ya Allah, berikanlah Ilea laki-laki yang mencintainya melebihi cintaku kepadanya. Berikanlah Ileaku, laki-laki yang selalu berusaha membahagiakannya." Air mata Miu menetes deras, Azel segera menghapus jejak air mata itu.
" Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersatu. Tapi aku bahagia, karena sudah diizinkan untuk bisa mengenal dan mencintaimu selama ini. Aku sangat mencintaimu."
Roni membisikkan sesuatu kepada Miu, dan dia mengikuti untuk mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Tidak lama kemudian, Miu pergi dengan senyuman mengembang dibibirnya. Roni segera memanggil dokter, dan memeriksa Miu yang kini sudah tiada. Para dokter kemudian segera bersiap untuk melakukan transplantasi jantung.
Sedangkan Azel, Helen, dan Karin kembali meneteskan air mata ketika mengetahui jika Miu sudah pergi untuk selama-lamanya.
Cerita Arabel selanjutnya ada di novel membuka lembaran baru.
__ADS_1