
Resa segera mengajak 3 orang anak kecil itu kekamarnya, Aron dan Asiel sangat senang hari ini mereka mendapat teman baru yaitu Miu.
" Yaudah kalian gosok gigi dulu, jangan lupa cuci muka,tangan dan kaki juga." Kata Resa dengan penuh senyuman, dia sangat senang melihat anak-anak itu. Miu, Aron, dan Asiel segera kekamar mandi, mereka tertawa-tawa disana.
" Daddy Rey mana, Kak Resa?" tanya Aron kepada Resa, ketiga bocah itu sudah keluar dari kamar mandi.
" Daddy Rey lagi diruang kerjanya, kalian tidur ya." Kata Resa, Miu, Aron, Asiel mengangguk dan naik keatas tempat tidur yang sangat luas. Resa menyelimuti mereka, dan merebahkan dirinya disamping Miu.
" Kak Resa cerita dong, please!" kata Asiel kepada Resa.
" Mau cerita apa, sayang?" tanya Resa, Asiel kelihatan berpikir.
" Cerita apa aja, Mommy Sa." Jawab Miu, Resa bingung harus bercerita tentang apa.
" Kalian mau cerita tentang apa?" tanya Resa lagi, dia memang bingung akan bercerita apa.
" Tentang Fatimah Az-Zahra, anak Rasulullah SAW." Jawab Miu, Resa mengangguk dan mulai bercerita bagaimana mulianya Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah. Miu,Asiel, Aron mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Hingga ketiganya ternyata sudah terlelap, Resa tersenyum dan mencium puncak kepala ketiganya.
Resa keluar kamar, dia ingin menemani Reyan yang sedang bekerja. Ada beberapa hal yang harus Reyan kerjakan, membuatnya mungkin malam ini begadang.
" Hubby !" panggil Resa, Reyan menoleh kearah istrinya itu dengan senyuman tampannya.
" Masuklah sayangku." Jawab Reyan, Resa mengangguk. Dia menghampiri Reyan, dan posisinya berhadapan dengan suaminya itu.
" Masih banyak kerjaan kamu?" tanya Resa, Reyan menggeleng.
" Sudah selesai, aku cepat-cepat menyelesaikannya. Supaya aku bisa baca buku ini."
" Buku tentang apa itu?" tanya Resa penasaran.
" Buku tentang bagaimana menjadi suami yang mengerti istrinya, dan bisa membimbingnya." Jawab Reyan, Resa tersenyum sambil menyuapkan buah kemulut Reyan.
__ADS_1
Reyan selalu bahagia jika didekat Resa, dia merasa tenang. Dia tidak membayangkan, bagaimana dirinya nanti jika Resa tidak ada disampingnya. Membayangkannya saja membuat Reyan sedih, dia berharap itu tidak akan terjadi.
Reyan menarik tangan Resa, dan mengarahkan istrinya itu untuk duduk dipangkuannya. Resa menurut saja, dia memang sudah terbiasa dengan sikap romantis dan kadang manja Reyan.
" Aku takut kamu meninggalkan aku." kata Reyan sambil mengusap-usap rambut Resa.
" Maksud kamu?" tanya Resa bingung, dia tidak pernah berniat meninggalkan suaminya itu.
" Aku gak mau kehilangan kamu, aku mau kita sama-sama hingga akhir hayat" Jawab Reyan dan menatap mata Resa dengan penuh cinta.
" Aku juga gak mau kehilangan kamu.
" I love you."
" I love you too, hubby."
*****
Aelie, dan Alia masuk kekamar yang sangat luas milik Azel. Meskipun kamar mereka juga luas, tapi tidak seluas milik Azel. Dengan dekorasi yang sangat indah, pemandangan balkon langsung menghadap taman rumah.
" Kak Azel pasti senang bangetkan, punya mommy kayak Kak Resa." Kata Aelie, kepada gadis itu. Azel mengangguk sambil tersenyum, dia memang bahagia tinggal dengan Reyan dan Resa.
" Kak Azel sangat bahagia, kalian juga bahagiakan? kita semua sama-sama bahagia."
" Berapa umur Kak Resa sih, kok dia kayak seumuran sama kita?" tanya Alia kepada Azel.
" Umur dia 20 tahun, masih muda dan jangan lupa dia sangat cantik." Jawab Azel, Aelie dan Alia mengangguk setuju.
" Aelie jadi mau kayak Kak Resa, apalagi dia jago banget masak."
" Aku juga mau," sambung Alia. Azel tersenyum melihat kedua adiknya itu, dia juga sebenarnya mau seperti Resa. Mempunyai wajah cantik, otak cerdas, baik, jago masak, dan bisa jadi istri dan ibu yang luar biasa diusianya yang masih muda.
__ADS_1
" Kak Azel beneran mau nikah sama Om Roni?" tanya Alia, Azel mengangguk.
" Kenapa Kak Azel cinta sama Om Roni?" tanya Aelie juga.
" Entahlah, Kak Azel juga tidak tahu. Jatuh cinta tidak butuh alasan, jadi Kak Azel gak tahu. Tapi ketika didekat Om Roni, Kak Azel merasa sangat nyaman." Jawab Azel, kedua adiknya itu mengangguk. Mereka tidak percaya, jika Azel ingin menikah muda.
" Kenapa Kak Azel mau menikah muda?" tanya Alia lagi.
" Karena Kak Azel melihat Mommy Sa, meskipun dia menikah muda dengan jarak usia yang jauh, Mommy Sa dan Daddy Rey sangat romantis."
" Tapikan, Kak Azel bukan Kak Resa. Om Roni juga bukan Daddy Rey, jadi mungkin saja akan berbeda." Kata Alia, Azel mengangguk dia memang setuju dengan pernyataan adiknya itu.
" Tapi Kak Azel tetap mau menikah muda." Jawab Azel, kedua adiknya itu hanya tersenyum.
" Apapun keputusan Kak Azel, kami akan selalu mendukung selama itu tidak salah. Karena kebahagiaan kakak, juga kebahagiaan kami." Kata Alia, Azel memeluk kedua saudarinya itu. Mereka bertiga memang sudah lama tidak bertemu. Azel sangat merindukan Aelie dan Alia, begitupun sebaliknya.
" Yaudah, kita tidur sekarang. Kak Azel sudah ngantuk nih." Aelie dan Alia mengangguk setuju, mereka juga sudah menahan ngantuk dari tadi.
*****
Tia dan Dio masuk kesalah satu kamar tamu dirumah itu. Sebenarnya Resa sudah menyiapkan 2 kamar, dan mempersilahkan mereka berdua memilih. Tia dan Dio lebih memilih kamar yang lebih kecil, karena itu sangat nyaman untuk keduanya.
" Aku merasa lega sekarang." Kata Dio, dan memandangi wajah cantik istrinya.
" Lega?"
" Iya. Sekarang, hubungan kita dengan Reyan juga Azel semakin mencair. Meskipun aku tahu, kesalahan kita dimasa lalu tidak bisa dilupakan. Tapi setidaknya, mereka sudah memaafkan kita."
" Iya, aku juga sangat bahagia. Apalagi Azel mempunyai Mommy seperti Resa, dia bukan hanya sebagai ibu tetapi juga sahabat untuk Azel. Aku sendiri, belum bisa menjadi ibu sebaik Resa."
" Kamu adalah ibu terbaik untuk anak-anak." Kata Dio berusaha menghibur istrinya itu, air mata Tia mengalir. Dia sangat bersedih jika mengingat, bagaimana dia melukai perasaan Reyan dan Azel. Tapi sekarang, untunglah Resa ada untuk mereka berdua. Setidaknya Tia merasa, jika Reyan dan Azel lebih bahagia hidup dengan Resa.
Sebagai ibu kandung, Tia merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk Azel. Dio menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya, dia tahu ada rasa penyesalan mendalam dari Tia. Dia bukan menyesal berjodoh dengan Dio, tetapi bagaimana dia menghianati pernikahannya dengan Reyan.
__ADS_1