Beauty Girl

Beauty Girl
Married


__ADS_3

Malam ini, Tia, Dio, dan keempat anak mereka menginap dirumah Reyan. Resa meminta mereka, supaya besok tidak terlambat. Akad nikah Azel dan Roni akan diadakan dirumah Reyan.


Azel, Alia, dan Aelie sedang mengobrol santai dikamar Azel. Resa dan Tia sedang didapur, untuk menyiapkan makan malam mereka semua. Reyan, Dio, Miu, Aron, dan Asiel sedang duduk di sofa ruang keluarga.


" Kak Azel udah siap buat besok?" tanya Alia, Azel mengangguk meskipun dia gugup.


" Kalian udah punya pacar belum?" tanya Azel, kedua adiknya itu memang terlihat seperti tidak mempunyai pacar.


" Kalau Aelie sih belum punya pacar, cuma ada gebetan."


"Beneran? siapa namanya?"


" Kalau namanya rahasia, Alia malu."


" Yaudah, cerita dong gimana kamu and your crush." Pinta Alia penasaran, dia sendiri tidak mengetahui adiknya itu sudah memiliki gebetan.


" Dia keren, juga idola disekolah Aelie. Tapi ya itu, kayaknya dia gak punya rasa sama Aelie, alias cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal demi deketin doi, Aelie sering ke perpustakaan. Dia itu nerd, tapi penampilannya keren banget. Gak kayak kutu buku biasanya, yang sering pakai kacamata gitu."


" Kamu yakin, dia gak suka sama kamu?" tanya Azel, Aelie mengangguk.


" Aelie pernah nanya sama dia, mau gak pacaran kalau ada cewek yang suka sama dia. Dia malah bilang, kalau dia gak suka sama cewek yang naksir doi duluan. Lagian katanya, dia udah punya cewek yang special."


" Siapa ceweknya?" tanya Azel penasaran.


" Gak tahu, tapi Aelie pernah dengar kalau doi lagi dekat sama adik kelas cantik."


" Kamu juga cantik, adikku sayang."


" Cewek itu lebih cantik dari Aelie. Makanya, Aelie mau banget mirip sama Kak Resa. Diakan cantik banget."


" Nanti Kak Azel bilangin sama Mommy Sa, kalau Aelie mau di make over."

__ADS_1


" Beneran kak?" tanya Aelie, Azel mengangguk.


" Makasih, kakakku sayang."


" Sama-sama."


" Kalau Kak Alia gimana kisah cinta kamu?"


" Kalau aku sih gak ada gebetan sebenarnya, tapi yang deketin banyak." Azel dan Aelie tertawa, mendengar jawaban narsis Alia. Memang sih Alia cantik banget, tapi dia rada-rada narsis gitu. Berbeda dengan Azel, dia idola disekolahnya tapi dia tidak pernah merasa dirinya cantik. Apalagi dia selalu menjadikan Resa sebagai role modelnya, dan mommynya itu tidak pernah sombong dengan kelebihannya.


" Narsis banget sih, Kak Alia. Lagian ya, Aelie sama Kak Alia juga cantikan aku kale."


" Enak aja, Kak Alia cantik loh. Buktinya, yang ngejar bukan Kak Alia tapi cowoknya. Kalau Aelie kan, kamu yang ngejar cowok itu."


" Sudah..Sudah, gitu aja ribut. Kalian berdua tuh sama-sama cantik."


" Seminggu lagi ada acara perpisahan gitu khusus murid, tapi malam. Jadi Aelie harus bisa mendapatkan kesempatan, untuk berdansa dengan gebetan Aelie."


" Kak Alia jahat, nanti aku malu."


" Biarin."


Azel hanya tertawa-tawa melihat tingkah kedua adiknya itu, dia sangat merindukan momen-momen seperti ini. Dan setelah menikah, dia pastinya akan semakin merindukan keluarganya.


****


Akad nikah sebentar lagi akan dilaksanakan, Roni sudah duduk berhadapan dengan Reyan. Azel masih dikamar dengan perasaan gugup, Resa dan Tia berusaha menenangkan putrinya itu.


" Tenang semua bakalan lancar kok." Kata Tia, berusaha menenangkan putri sulungnya itu. Azel hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau Roni Hendrayan bin Kevin Hendrawan dengan putri saya Azel Putri Aditya Pratama binti Reyan Aditya Pratama dengan mahar...... dibayar tunai."

__ADS_1


" Saya terima nikah dan kawinnya, Azel Putri Aditya Pratama binti Reyan Aditya Pratama dengan mahar.... dibayar tunai."


Setelah Roni selesai melakukan ijab kabul, Azel datang dengan Resa dan Tia disebelahnya. Tiga orang perempuan yang membius semua orang, karena kecantikan mereka. Terutama Resa, memang banyak yang diam-diam menjadi secret admirer gadis itu. Mereka juga minder, jika harus dibandingkan dengan Reyan yang tampan, dan juga crazy rich.


Azel mencium tangan Roni, dan suaminya itu mencium kening istrinya. Resa dan Tia tersenyum melihat pemandangan itu, tidak terasa Azel sudah menikah. Waktu sangat cepat berlalu, kini gadis itu sudah menjadi istri orang.


Reyan juga tersenyum, meskipun dia masih belum sepenuhnya mengikhlaskan putrinya menikah muda. Tapi demi kebahagiaan Azel, dia hanya bisa mendukung keputusan putrinya itu.


Setelah selesai, Azel masuk kamarnya untuk berganti pakaian rumahan. Karena resepsinya akan diadakan malam hari, dan hanya orang terdekat dan kolega bisnis Roni yang datang. Roni memang bawahan Reyan, tapi dia juga mempunyai perusahaan meskipun tidak sebesar milik sahabatnya itu. Usaha Roni mungkin besarnya hampir sama dengan milik Dio, tapi masih lebih besar milik suami Tia itu. Maklumlah, Roni baru merintis beberapa tahun ini.


" Selamat ya, bro!!" kata Dio dengan tulus, Roni mengangguk.


" Makasih, bro. Sekarang gue panggil lo Papa Dio dong?" tanya Roni bercanda, dia tidak ada niat memanggil laki-laki dihadapannya itu ada embel-embel Papa. Karena memang usia mereka hanya berbeda 2 tahun.


" Serah lo." Roni tertawa mendengar jawaban Dio.


" Okay, Papa Dio." Dio merasa canggung jika Roni memanggilnya papa, padahal mereka sama-sama sudah tua. Reyan menghampiri Roni dan Dio yang sedang mengobrol.


" Eh ada Daddy Rey!!" Reyan menatap Roni tajam, dia tidak mau dipanggil daddy oleh sahabatnya yang bahkan lebih tua daripada dirinya.


" Jangan daddy dong, gue lebih muda daripada lo."


" Tapikan gue nikah sama anak Lo."


" Gak mau, gak boleh panggil gue daddy kalau lo gak mau gue panggil kakek." Jawab Reyan, Roni tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu. Mana mungkin dia memanggil Reyan dengan sebutan itu, dia bahkan sudah menganggap sahabatnya itu sebagai anaknya sendiri. Dari dulu, Roni memang merasa jika dia yang menjadi ayah untuk Reyan. Apalagi Pak Aditya( ayah Reyan) sangat sibuk, jadi Reyan seperti kehilangan figur ayah dihidupnya. Ditambah, bunda Reyan sudah meninggal ketika Reyan berusia 6 tahun.


" Dio aja mau gue panggil papa, masa Lo gak mau sih?" tanya Roni, Reyan menoleh kearah Dio, laki-laki itu memperlihatkan wajah jika dia juga tidak ingin dipanggil papa oleh Roni.


" Dio gak mau juga kale, lo udah tua, Ron. Jadi gak pantes, manggil kita berdua daddy dan papa."


Roni hanya tertawa melihat kedua laki-laki dihadapannya ini, yang tidak ingin dipanggilnya dengan sebutan daddy dan papa. Apalagi Reyan, sangat memperlihatkan dia tidak suka dipanggil begitu.

__ADS_1


" Yaudah enggak, lagian mana mungkin sih gue panggil kalian daddy dan papa?"


__ADS_2