Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 15 ~ Tidak Diragukan Lagi


__ADS_3

Sebenarnya Ken sendiri juga tidak ahli dalam hal berciuman. Ini juga pertama kali baginya. Termasuk bagi Michele juga. namun menuruti nalurinya, Ken terlihat seperti pencium handal. Bahkan Michele terlihat sangat menikmatinya. Secara reflek ia pun memeluk pinggang Ken dengan erat.


Ciuman itu berlangusng cukup lama. Hingga akhirnya Michele menepuk dada Ken sebagai pertanda bahwa ia hampir kehabisan pasokan oksigen.


Nafas mereka berdua saling memburu. Wajah mereka juga sama-sama memerah. Ken yang paling merasa bersalah. Dia hanya bisa pasrah jika setelah ini akan dipecat oleh Michele karena telah lancang menciumnya.


“Nona, maafkan saya. saya-“


“Cukup! Jangan bicara apapun!" Sahut Michele dengan cepat. Setelah itu ia meninggalkan Ken dengan degupan jantung yang masih menggila.


Michele meraih vas bunga yang ada di rak itu dengan tangan gemetar. Bukan marah karena niat jahat Barrack terhadap Papanya, melainkan masih merasakan manis bibir Ken yang tertinggal di bibirnya.


“Alat apa ini?” tanya Michele pada Ken dengan memperlihatkan sebuah benda kecil yang sangat asing baginya.


Michele berusaha melupakan kejadian baru saja. dia memilih fokus dengan alat yang sedang ia pegang.


“Itu alat penyadap suara, Nona.” Jawab Ken.


Michele mengerutkan kening lalu menatap tajam pada Ken. Sedangkan yang ditatap merasa bingung. Apalagi Ken justru fokus dengan bibir perempuan itu.


“Jangan lihat aku seperti itu!” ucap Michele memalingkan muka.


Ken hendak saja menjawab, namun Michele menarik tangan Ken keluar dari ruangan Papanya menuju ruangannya sendiri.


Kini Michele duduk di kursi kerjanya. Ia meminta Ken berdiri di sampingnya seolah sedang menginterogasi Ken.


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau ini adalah alat penyadap suara?” tanya Michele dengan suara tegas.


Dalam hati Ken merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia sampai keceplosan memberitahu nama alat itu. padahal tidak semua orang tahu mengenali alat itu. dan hanya orang-orang tertentu saja. mendadak Ken cemas. Takut jika identitasnya diketahui oleh Michele.


“Oh, itu saya pernah melihatnya di salah satu film genre action yang pernah saya tonton, Nona.” Jawab Ken cukup logis.

__ADS_1


Michele hanya menganggukkan kepalanya saja. meskipun jawaban Ken bisa diterima, namun ia masih mencurigai OB-nya itu. Michele sangat yakin kalau Ken bukanlah orang sembarangan.


“Baiklah. Kamu boleh keluar dari ruanganku.” Ucap Michele kemudian.


Ken mengangguk. Setelah itu ia keluar. Namun saat meraih handle pintu, tiba-tiba saja Michele memanggilnya.


“Terima kasih, Ian.” Ucap Michele ambigu.


“Untuk apa, Nona?” tanya Ken bingung.


“Ciuma- ah maksudku untuk alat ini. karena kamu telah memberitahukan padaku.” jawab Michele dengan gugup.


“Sama-sama. Saya permisi.”


Setelah Ken keluar dari ruangannya. Michele segera menyandarkan unggungnya pada kursi yang sedang ia duduki. Kemudian ia memegangi bibirnya. sangat jelas terasa bekas ciuman Ken tadi. Michele masih belum bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa ia mencium bibir OB-nya itu. bahkan Ken tak segan-segan membalas ciuman tadi. ciuman yang telah membuatnya candu. Karena ini adalah pertama kali baginya.


“Kenapa Ian membalas ciumanku? Apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?” gumam Michele. Namun setelah itu ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. dia sangat malu saat teringat kejadian itu, bahwa dirinyalah yang mengawalinya.


“Tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya.” Gumam Ken sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Entah mengapa ia berusaha kuat agar tidak jatuh cinta pada Michele. Namun yang pasti dia tahu dampaknya jika ia jatuh cinta pada perempuan cantik itu.


***


Sementara itu di sebuah kota terpencil tampak dua orang pria sedang duduk menikmati tequilla. Kedua pria itu sudah lama bersahabat. Namun statusnya sebagai bos dan anak buah.


“Aku ada informasi penting kalau Magana ternyata masih memiliki anak yang sejak dulu disembunyikan.” Ucap pria bertubuh kekar dengan tato yang terletak pada lengannya.


“Apa informasi itu akurat? Cepat cari kebenarannya. Setelah itu, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?”


“Ya ya aku tahu. Kamu tunggu saja kabar dariku. Lalu untuk apa kamu memintaku datang kesini?”

__ADS_1


Pria itu mengambil ponselnya lalu membuka galeri foto dan menunjukkan pada sahabatnya sekaligus sebagai anak buahnya.


“Bunuh dia! Dia telah banyak berbuat curang denganku. Aku kasih kamu waktu satu bulan, karena dia termasuk orang yang sangat licik.” Jawab pria itu.


“Baiklah. Kamu jangan khawatir.” Jawab si anak buah.


Tak lama kemudian pria bertato itu beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Panggilan itu sudah berulang kali ia lakukan. Namun ternyata tidak juga mendapat jawaban. Hingga di panggilan yang kelima akhirnya mendapat jawaban.


“Bagaimana kabar kamu anak muda?” sapanya basa-basi.


“…..”


“Aku punya tugas untuk kamu.”


“…..”


“Tunggu saja, lusa aku akan datang.” Pungkasnya setelah itu menutup panggilannya.


Pria itu kembai duduk bersama bosnya dan melanjutkan minumnya.


“Bagaimana?”


“Tenang saja. orang suruhanku pekerjaannya tidak diragukan lagi. setiap tugas yang kamu berikan selalu ia kerjakan dengan baik dan bersih tanpa meninggalkan jejak sama sekali.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2