Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 19 ~ Pangeran Tampan


__ADS_3

Ken keluar dari kamarnya dengan membawa kipas angin. Dia mengatur setelan kipas itu tidak terlalu kencang, agar Michele tidak masuk angin. Setelah itu ia duduk bersama Michele untuk menikmati kue yang sudah dibeli tadi.


“Kamu juga minum teh hijau, Ken?” tanya Michele.


“Iya. Hanya saja aku jarang meminumnya.” Jawab Ken.


“Apa kamu tinggal sendiri di sini? maksudku dimana keluarga kamu?”


Ken meminum kopinya dengan tenang sebelum menjawab pertanyaan Michele. Sepertinya perempuan itu memang sangat penasaran dengan kehidupan Ken.


“Aku tinggal sendirian. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. kedua orang tua dan adikku sudah meninggal.” Jawab Ken.


“Maaf. Jika pertanyaanku membuat kamu ingat dengan keluarga kamu.” Ucap Michele merasa bersalah.


“Tidak masalah. Aku baik-baik saja.” jawab Ken lalu kembali makan brownies itu.


Keduanya sama-sama diam. hening, tidak ada lagi yang dibicarakan. Michele juga seperti kehabisan pertanyaan, karena sejak tadi hanya dirinyaah yang selalu bertanya.


“Apa kekasihmu tidak marah jika tahu kamu berada di sini?” tanya Ken tiba-tiba.


“Oh, itu. maaf, sebenarnya aku tidak punya kekasih, Ken.” Jawab Michele terbata. Dia teringat saat itu spontan mengatakan kalau ada janji dengan kekasihnya, padahal hanya beralasan saja untuk menghindari Ken setelah kejadian memalukan itu.


Mendengar jawaban Michele yang tidak mempunyai kekasih, entah kenapa ada rasa lega dalam hati Ken.


“Aku tidak percaya kalau perempuan secantik kamu tidak punya kekasih.” Ucap Ken.


Michele tersipu malu saat Ken memujinya. Dia jadi bingung bagaimana cara menjelaskan. Tapi memang benar adanya kalau saat ini dia sedang tidak emnjalin hubungan dengan siapapun. Akhirnya ia terpaksa mengaku pada Ken kalau saat itu hanya beralasan demi menghindari kejadian memalukan itu.

__ADS_1


Ken hanya tersenyum mendengar ucapan Michele. Dia pun sangat gemas melihat tingkah perempuan di depannya itu. tapi ia berusaha untuk tetap biasa saja.


Cukup lama mereka berdua ngobrol sambil menikmati kue brownies. Akhirnya Michele memutuskan untuk pulang, karena sudah malam. namun sebelum pulang, Michele menyodorkan ponselnya pada Ken agar pria itu menuliskan no ponselnya. Karena memang Michele belum tahu no ponsel Ken. Hanya tahu di data pribadinya saja. tapi ia memilih minta langsung pada orangnya.


“Tulis no kamu, kalau ada apa-apa biar aku mudah menghubungimu.” Ucap Michele.


Ken pun menerima ponsel Michele dan menuliskan nomornya. Setelah selesai, Ken mengantar Michele sampai pintu rumahnya.


“Ehm, aku pulang dulu, Ken. Terima kasih untuk hari ini.” ucap Michele sebelum Ken membukakan pintu untuknya.


Bukannya menjawab, Ken justru mengangkat sedikit dagu Michele lalu meninggalkan kecupan singkat di bibir perempuan itu.


Cup


“Aku harap kamu tidak menyesal karena telah dekat denganku.” Ucap Ken setelah memberi kecupan itu.


“Tidak akan. Aku tidak akan menyesal.” Jawab Michele dengan yakin.


Setelah itu Ken membukakan pintu rumahnya dan mengantar Michele sampai memasuki mobil. Michele melambaikan tangannya sebelum melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah, Michele langsung menuju dapur untuk meletakkan kue yang ia beli tadi ke lemari pendingin.


“Dari mana saja jam segini baru pulang?” tanya seseorang yang berhasil mengagetkan Michele.


“Ah, Mama ngagetin aja. Ini Ma, Michele belikan kue kesukaan Mama.” Michele kembali mengambil kue yang baru saja dimasukkan ke dalam lemari pendingin, lalu diberikan pada Silvia.


“Michele tadi lembur sebentar, setelah itu pergi ke apartemen Jessie. Sudah lama Michele tidak main kesana.” Lanjut Michele terpaksa berbohong.

__ADS_1


Silvia pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia duduk menikmati kue pemberian Michele. Wanita paruh baya itu sejak tadi di rumah sendirian tidak ada temannya, karena sang suami sedang pergi ke luar kota.


Michele yang sudah lelah hendak masuk ke kamarnya pun ia urungkan saat melihat Mamanya duduk menikmati kue. Akhirnya ia ikut bergabung, walau tidak ikut makan. Michele juga melihat raut wajah Mamanya yang seperti sedang menyimpan sesuatu.


“Ada apa, Ma? Apa Mama ingin bercerita dengan Michele?”


“Sayang, kamu tahu kan kalau Mama dan Papa ini sudah tua. Usia kamu juga sudah matang, kapan kamu ingin menikah?” tanya Silvia.


“Sebentar lagi kamu juga akan naik jabatan saat usia kamu genap dua puluh enam tahun. Kriteria pria seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan?”


Michele hanya bisa menghela nafasnya pelan. Pertanyaan ini bukan sekali dua kali dilontarkan oleh Mamanya. Kalau memang dirinya masih belum ingin menikah, atau lebih tepatnya belum menemukan pria yang cocok, buat apa dipaksakan menikah.


“Ma, bukankah Michele sudah berulang kali bilang kalau Michele ingin fokus dengan karir dulu. Mencari pasangan juga tidak semudah itu, Ma.” Hanya itu jawaban Michele. Jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama pula.


“Apa tidak sebaiknya kamu mencoba dekat dengan Noah? Mama sangat yakin kalau dia pria baik dan pintar. Dan satu lagi, menurut Mama Noah adalah pria yang setia.”


Michele tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Mamanya tentang Noah. Apalagi mengingat obrolannya tempo hari yang membuat pria itu berkeringat dingin.


“Michele lelah, Ma. Michele mau tidur dulu, siapa tahu nanti bertemu dengan pangeran yang akan menjadi suami Michele. Doakan bertemu dengan pangeran yang tampan ya, Ma.” Pungkas Michele lalu meninggalkan kecupan singkat di pipi Silvia.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2