
Kini Michele sudah berada di unit apartemen Ken. Setelah tadi memberitahu pada Ken kalau ia sedang berada di apartemen Jessie, Ken pun segera pergi meninggalkan taman dengan menaiki taksi.
“Aku tadi sangat takut terjadi sesuatu denganmu, Chel.” Ucap Ken sambil meletakkan dua botol softdrink di atas meja.
“Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Michele.
“Ada apa, Chel? Apa ada sesuatu yang menggaanggu pikranmu?” tanya Ken penasaran saat melihat sikap kekasihnya.
“Ken, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Michele hati-hati. Dan Ken pun menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Siapa pria yang kamu temui tadi?”
“Bukankah tadi aku sudah mengatkan padamu kalau kamu tidak perlu tahu tentang pria yang aku temui tadi. maaf, aku tidak ingin membawa kamu dalam masalahku. Informasi dari kamu cukup membuatku le-“
“Tapi aku kenal dengan pria tadi, Ken, dia adalah pria yang beberapa tahun silam mengancamku setelah aku memergokinya menculik Angel.” Michele memotong ucapan Ken dan bicara dnegan nafas memburu seolah sedang ketakutan sekaligus tidak ingin menyimpan rahasia itu sendirian.
Ken sungguh terkejut mendengarkan ucapan Michele baru saja. antara percaya dan tidak. Namun melihat mimik wajah Michele seperti itu rasanya ucapan Michele tidaklah bohong.
Ken mendekati Michele lalu memegang kedua bahu perempuan itu. wajah Michele masih sama dengan menujukkan raut ketakutan.
“Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan melindungi kamu apapun yang terjadi. Apa kamu tidak percaya denganku, Chel?” tanya Ken dengan suara selembut mungkin.
“Maaf, Ken. Aku sangat percaya denganmu. Tapi aku benar-benar takut.” Jawab Michele lalu ia memeluk erat tubuh Ken.
__ADS_1
Ken mengusap lembut kepala Michele. Jika memang benar Hiro adalah pembunuh adiknya, sunggu dia tidak menyangka. Namun kenapa semua petunjuk itu berasal dari kekasihnya. Jujur saja Ken sebenarnya tidak ingin membawa Michele masuk ke dalam masalahnya.
“Sekarang ceritakan padaku tentang Hiro. Pria yang tadi aku temui. Kamu tenang saja, aku yakin dia tadi tidak melihatmu.” Ucap Ken setelah merasa bahwa Michele sudah lebih tenang.
“Apakah pria tadi memiliki tato di tangan sebelah kanan, Ken?” tanya Michele ingin memastikan terlebih dulu.
“Iya. tapi bukankah banyak pria yang memiliki tato seperti itu. apalagi di tangan.” Jawab Ken masih berusaha menyangkal.
Mendengar tanggapan Ken seperti itu Michele merasa bahwa kekasihnya tidak mempercayainya. Jadi percuma saja mau menjelaskan seperti apa, kalau Ken tetap tidak percaya tidak akan ada gunanya juga.
“Memang aku sempat mengatakan padamu kalau aku lupa dengan wajah pria yang menculik Angel. Itu semua karena aku tidak punya buktinya. Tapi dengan melihat langsung pria itu, aku sangat yakin kalau dialah yang memnculik Angel sekaligus mengancamku, Ken. Hanya saja rambut pria itu sudah memutih dan wajahnya sedikit keriput.” Papar Michele panjang lebar.
Ken masih diam. tapi apa salahnya jika ia mencari informasi dulu tentang Hiro. Atau mungkin Hiro juga bekerja dengan seseorang yang memerintahnya untuk menghancurkan keluarganya. Tapi sepertinya itu akan sulit. Menghadapi musuh yang selama ini menjadi bosnya.
“Kamu mau kemana, Chel?” Ken terkejut saat melihat kekasihnya hendak pergi.
“Lebih baik aku pulang saja. memang sangat sulit bagimu untuk mempercayai semua ceritaku tadi, Ken. Apalagi pria tadi mungkin adalah teman baikmu. Tapi aku tekankan sekali lagi kalau aku sama sekali tidak mengarang cerita. Tidak ada untungnya juga buat aku.” pungkas Michele lalu keluar dari unit apartemen Ken.
***
Hari ini Michele memulai rutinitasnya seperti biasa. Tapi kali ini ia memilih berangkat ke kantor sedikit lebih siang daripada biasanya.
Setelah memberi informasi tentang pembunuh Angel pada Ken, dan pria itu tidak mempercayainya, Michele memilih untuk menghindari Ken. Dia masih kecewa dengan kekasihnya. Dan dengan berangkat lebih siang, ia sangat yakin tidak akan bertemu dengan Ken.
__ADS_1
Pukul setengah sembilan Michele baru saja memasuki ruang kerjanya. Di atas meja sudah ada segelas teh hijau yang pastinya sudah disiapkan oleh Ken. Tapi Michele tidak peduli. Lebih baik fokus dengan pekerjaan saja.
Sedangkan Ken sejak tadi tampak heran karena sudah pukul delapan kekasihnya tak kunjung datang. Ia sengaja menunggu dan membuatkan teh hijau kesukaan Michele jika di pagi hari, namun sayangnya yang ditunggu tak juga datang.
Ken juga sudah mengirim pesan permintaan maaf pada Michele tapi sayangnya ponsel kekasihnya tidak aktif. Mau masuk langsung ke ruangan Michele juga takut mengganggu pekerjaannya. Ken benar-benar bingung.
Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas dan sebentar lai waktunya makan siang, Ken pun berinisiatif mendatangi Michele ke ruangannya. Karena bisa dipastikan di jam-jam seperti ini Michele sedang bersiap untuk istirahat makan siang.
Cklek
Ken baru saja membuka pintu pantry. Dan ternyata ia berpapasan dengan Michele yang hendak keluar entah kemana bersama seorang pria yang tidak ia kenal. Bahkan Michele memalingkan muka saat Ken menatapnya. Sedangkan pria berkaca mata itu tetap berjalan di samping Michele tanpa memperhatikan Ken.
“Siapa dia?” gumam Ken.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1