Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 33 ~ Blazer


__ADS_3

Pagi ini keadaan Michele sudah lebih baik. Saat ini ia sedang menuju ruang makan untuk sarapan bersama Mama dan Papanya sebelum berangkat ke kantor.


Sejak bangun tidur sampai sekarang Michele tak henti-hentinya mengulas senyum. Mamanya sampai heran melihat perubahan wajah putrinya yang tidak seperti biasanya.


“Ada apa nih anak Mama kok sejak tadi senyum-senyum terus?” goda Silvia.


“Nggak ada apa-apa, Ma. Memangnya nggak boleh? Apa Michele harus memasang wajah jutek, kaku, dan dingin gitu seperti Papa?” jawab Michele.


“Ehm..”


Tiba-tiba orang yang dibicarakan muncul dan mendengar apa yang diucapkan oleh Michele baru saja. Sedangkan Silvia dan Michele langsung diam setelah mendengar suara Xander.


“Pagi-pagi sudah membicarakan orang. Memangnya Papa seperti itu?” ujar Xander tak terima.


Michele hanya nyengir tanpa dosa.


“Kata Mama dulu Papa seperti itu. sangat jarang tersenyum.” Lanjut Michele dan mendapat tatapan tajam dari Mamanya.


Kini tatapan Xander beralih pada sosok wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya. Silvia jadi salah tingkah mendapat tatapan menakutkan dari sang suami. sedangkan Michele memanfaatkan kesempatan untuk segera kabur dari pertikaian yang sebentar lagi akan terjadi.


“Michele berangkat dulu, Ma, Pa!” ucap Michele sambil mengecup pipi Mama dan Papanya sekilas. Setelah itu berjalan tergesa meninggalkan ruang makan.


“Sayang, apa benar yang dikatakan Michele baru saja? apa saja yang kamu ceritakan pada Michele tentang aku di masa lalu?” tanya Xander pada Silvia dengan tatapan penuh intimidasi.


Silvia menelan ludahnya kasar. Dia sangat geram pada putri sulungnya itu. bisa-bisanya Michele mengadu domba Mama dan Papanya. Kini dia pun jadi bingung mau menjawab apa. Pasalnya dia sendiri juga lupa apa yang pernah diceritakan pada Michele tentang Papanya.


Tiba-tiba saja Silvia merasa ada hawa panas di sekitar telinganya. Betapa terkejutnya dia saat melihat sang suami sudah duduk di sampingnya dan kini bibir pria itu sudah mulai menggigit telinganya.


“Jangan seperti ini, nanti ada yang lihat.” Silvia mencoba menjauhkan tubuhnya dari sang suami.

__ADS_1


“Kamu jangan pernah sekalipun menolakku. Apa kamu lupa kalau sudah satu minggu kita tidak melakukannya?” tanya Xander dengan suara serak seperti menahan sesuatu.


“Eh, tapi kan kita lagi sarapan.-“


Silvia tidak sempat melanjutkan kalimatanya karena ia merasa tubuhnya melayang. Ternyata Xander langsung menggendongnya dan membawa sang istri ke kamar yang paling dekat dengan ruang makan.


Ya, meskipun usia mereka berdua sudah tidak muda lagi, nyatanya keduanya masih sama-sama kuat untuk saling memberi kenikmatan.


***


Sementara itu kini Michele sedang dalam perjalanan ke kantor. senyumnya juga masih terus mengembang. Dan penyebabnya tak lain adalah Ken.


Semalam saat sedang berteleponan dengan Ken, Michele memang sudah ngantuk berat. Bahkan dengan tidak sopannya ia tidur begitu saja saat Ken sedang mengajaknya bicara. Namun tiba-tiba saja Michele sadar dan hendak menutup panggilannya. Ia kira Ken juga sudah tidur. Namun betapa terkejutnya dia saat Ken mengucapkan selamat tidur dan pria itu juga mengungkapkan perasaannya kalau mencintai dirinya.


Michele tahu kalau Ken adalah sosok pria yang tidak mudah mengungkapkan perasaannya. Jadi lebih baik ia pura-pura tidak tahu saja tentang ucapan Ken semalam. Yang penting dirinya tahu kalau Ken juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.


Beberapa menit kemudian Michele sudah sampai kantor. dan pagi ini Michele lagi-lagi berangkat terlalu pagi. karena tadi memang sengaja menghindar dari pertikaian Mama dan Papanya. Andai saja Michele tahu kalau pertikaian itu berujung pertempuran di atas ranjang, pasti Michele akan sangat kesal.


Michele memasuki ruangan kerjanya. Sepertinya Ken belum membersihkan ruangan itu. karena melihat kordennya belum terbuka.


“Ini sudah jam tujuh lebih sepuluh. Kenapa Ken belum ada di sini? apa dia tidak masuk?” gumam Michele sambil melihat jam tangannya.


Baru saja diibicarakan, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu. Siapa lagi kalau bukan OB kesayangan Michele.


Ken terkejut saat melihat kekasihnya sudah berada di sana. Memang pagi ini ia datang sedikit terlambat. Tapi kenapa Michele berangkat sangat pagi sekali.


“Selamat pagi, Nona!” sapa Ken dengan sopan dan menunduk hormat.


“Ish… kita ini sedang berdua loh. Aku nggak suka kamu bicara formal seperti itu.” gerutu Michele dengan mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Ken sangat gemas melihat tingkah manja Michele. Pria itu segera menghampiri kekasihnya lalu menangkup pipi Michele.


“Apakah Nona Michele yang cantik ini sudah sembuh? badannya tidak panas, tapi kenapa pipinya memerah?” Goda Ken dan berhasil membuat Michele salah tingkah.


Cup


Ken mendaratkan kecupan singkat di bibir Michele. Wajah Michele pun semakin memerah akibat perlakuan manis Ken.


Posisi mereka berdua masih berhadapan. Namun Michele membuang muka karena sangat malu ditatap intens oleh Ken. Kemudian pandangan Ken beralih pada pakaian yang dikenakan oleh Michele. Pakaian yang sangat sek si dan selalu menujukkan lekuk tubuhnya.


“Tunggu sebentar!” ucap Ken lalu tiba-tiba saja keluar dari ruangan Michele.


Michele tampak heran dengan sikap Ken baru saja. dia meneliti seluruh pakaiannnya dan mencium bau badannya, takut jika membuat Ken tidak nyaman.


“Wangi kok.” Gumam Michele.


Tak lama kemudian Ken datang dengan membawa sebuah paper bag pakaian dari brand terkenal. Michele masih bingung kenapa Ken membawa paper bag itu.


Ken mengeluarkan isi paper bag yang tak lain adalah sebuah blazer dengan ukuran yang sangat pas di badan Michele, namun tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bahkan Ken langsung memakaikannya, karena sejak tadi Michele hanya memakai kemeja saja. sedangkan blazernya hanya ia tenteng di lengan.


“Apa tujuan kamu memperlihatkan lekuk tubuhmu seperti ini? mulai sekarang tutuplah! Aku tidak suka banyak kaum adam melihat lekuk tubuh ini.” ucap Ken dengan suara tegas.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2