
Tiga tahun kemudian.
Sore ini tampak seorang pria paruh baya ditemani oleh sang istri yang sedang mendorong kursi rodanya. Apalagi mereka berdua baru saja turun dari pesawat yang mengantarnya ke sebuah kota kecil dimana anak dan cucu mereka tinggal.
“Apa kamu memberitahu Michele kalau kita akan datang?” tanya Xander.
“Tidak. Bukannya kamu sendiri yang meminta untuk memberi kejutan mereka?” jawab Silvia sambil mendorong kursi roda suaminya.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Tristan.” Ucap Xander dengan mata berbinar.
Silvia hanya diam saja dan terus mendorong kursi roda suaminya. padahal tiga hari yang lalu Xander baru saja keluar dari rumah sakit, tapi kini sudah memaksa ingin bertemu dengan cucunya. Akhirnya terpaksa pria itu harus menggunakan kursi roda, karena badannya masih belum kuat sepenuhnya.
Tak lama kemudian mereka berdua menaiki taksi yang akan mengantar ke rumah Vano, adik Silvia. Karena di rumah Vano lah saat ini Michele tinggal bersama anaknya. lebih tepatnya sejak tiga tahun yang lalu.
Sesampainya di depan rumah Vano, Silvia segera membantu suaminya turun dari taksi dan duduk di kursi roda. Setelah membayar taksi, mereka berdua masuk ke dalam.
Belum sempat kaki sepasang kakek nenek itu menginjak teras rumah Vano, mereka sudah disambut oleh suara teriakan anak kecil yang sedang berlari-larian.
“Tristan! Cucu Oma.” Panggil Silvia.
Sontak saja bocah laki-laki yang berusia sekitar dua setengah tahun itu melompat-lompat kegirangan saat melihat siapa yang datang. Meskipun mereka tidak tinggal satu rumah, namun Tristan sangat dekat dengan Oma dan Opanya.
Silvia pun segera menggendong Tristan dan membawanya masuk. Sedangkan Xander menggerakkan sendiri kursi rodanya.
“Mama, Papa?” Michele sangat terkejut saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. dia semakin terkejut lagi saat melihat Papanya menggunakan kursi roda.
“Papa? Kenapa dengan Papa?” tanya Michele yang sudah menangis tersedu ke pelukan Papanya.
__ADS_1
“Papa nggak apa-apa. Papa dan Mama kesini karena sangat merindukan Tristan,-“
“Baru pulang dari rumah sakit sudah maksa minta kesini.” Potong Silvia.
Michele pun mengambil alih mendorong kursi roda Papanya. Tak lama kemudian Vano beserta istrinya menghampiri suara berisik dari ruang tamu. Mereka juga terkejut saat kedatangan kakaknya.
Kini mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah. Xander saat ini sedang duduk sambil memangku Tristan. Bocah itu tampak tenang duduk di pangkuan Opanya sambil memegang mainnya.
“Apakah cucuku sehat-sehat saja?” tanya Xander sambil menciumi pucuk kepala Tristan.
“Sehat, Pa. dia sangat aktif. Apalagi kalau diajak ke kantor, nggak bisa diam sama sekali.” Jawab Michele.
“Bukannya Papa menyarankan untuk mengambil baby sitter saja? atau kamu tidak perlu bekerja dulu.” Ucap Xander.
“Benar, Kak. Vano juga sering memberi saran seperti itu, tapi anak kakak sendiri yang tidak mau.” Sahut Vano membenarkan ucapan Xander.
Michele tampak cuek saja. dia sudah bosan mendengar saran dan nasehat yang sama. Karena pilihannya memang seperti itu.
“Biar Tante saja yang menemaninya tidur. Kamu ikut sama Om kamu dulu, sepertinya sangat penting.” Ujar istri Vano memberi solusi.
Michele pun mengangguk. Kemudian ia memberikan Tristan pada Tantenya. Bocah itu beru saja tertidur sebelum dibawa masuk ke kamar. lalu Michele menyusul Vano masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Ada apa, Om?” tanya Michele.
“Minggu depan Om ada perjalanan bisnis ke luar negeri. kemungkinan sama Tante kamu juga. apa tidak apa-apa jika Om tinggal? Karena ini baru pertama kalinya Om ada kunjungan ke perusahaan cabang di sana semenjak kamu tinggal di sini.”
“Nggak apa-apa, Om. Lagian di kantor banyak baby sitter dadakan jika Michele memang sedang ada meeting penting.” Jawab Michele.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, Om jadi tidak khawatir meninggalkan kamu berduaan dengan Tristan saja. oh iya, kebetulan miggu depan juga ada meeting dari perusahaan luar negeri. mereka sangat tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan kita. Sebulan yang lalu Om sudah menerima kontrak kerjasamanya. Tapi untuk bertemu langsung, baru minggu depan mereka bisa. Jadi Om minta kamu yang handle semuanya.”
“Bereslah, Om. Serahkan semuanya pada Michele.” Jawab Michele dengan santai.
***
Sementara itu di sebuah negara yang terkenal akan penghasilan kopi terbesar sedunia tampak seorang pria berusia tiga puluh lima tahun sedang menatap layar monitor di hadapannya. Sudah seminggu ini pria itu hampir pulang larut malam karena pekerjaan kantor yang sangat padat.
Cklek
Seorang perempuan datang membawa nampan berisi kopi, lalu meletakkannya di atas meja. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh pada seseorang yang telah membuatkannya kopi.
“Minumlah kopi itu dulu, bukannya kamu selalu meminumnya jika waktu sore begini?” ucapnya.
“Hemm… letakkan saja. nanti akan aku minum.” Jawabnya dengan jari yang sibuk mengetik.
“Kamu jangan lupa kalau minggu depan ada meeting ke Indonesia.” Ucap perempuan itu mengingatkan.
“Jangan bilang kamu menolak datang. malas sekali menghadapi bos perjaka tua seperti kamu yang hatinya gagal move on.” Cibirnya lalu keluar begitu saja tanpa mempedulikan umpatan dari bosnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Maap ya langsung lompat 3th. Nanti akan ada flshbacknya, jgn khawatir👌👌🤗🤗
Happy Reading‼️