
Entah kenapa Xander sedikit mencurigai Barrack setelah melihat adanya aplikasi penyadap suara itu. Tapi sayangnya di sana tidak ada satu pun rekaman yang ia dapat. Aplikasi itu kosong. Atau memang belum diaktifkan.
“Dia memasang alat itu dimana?” gumam Xander penuh tanda tanya.
Meskipun ada rasa curiga terhadap Barrack, namun Xander berusaha berpikiran positif. Mungkin saja alat itu sengaja dipasang di suatu tempat yang memang sangat mengganggu kenyamanan Barrack. Tapi Xander tidak bisa lepas tangan begitu saja. ia akan tetap mencari bukti-bukti tentang kematian Barrack. Karena pria itu masih terikat kerjasama dengan perusahaannya. Dan hubungannya selama ini juga baik-baik saja.
***
Saat ini Michele sedang memijit-mijit kepalanya yang sejak tadi berdenyut. Mungkin efek semalaman tidak bisa tidur, ditambah lagi dengan dipanggilnya dirinya ke kantor polisi tadi. otomatis membuat pikiran Michele terbebani.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat sore. Michele memutuskan untuk pulang lebih dulu, agar bisa beristirahat. Untuk pekerjaannya yang belum selesai bisa ia limpaahkan pada Ivan. Namun, sebelum Michele pulang, ia mengirim pesan pada Ken kalau ia akan pulang lebih awal.
Baru saja pesan yang dikirim oleh Michele dibaca oleh Ken, pria itu sudah masuk ke dalam ruangannya. Tampak raut wajah khawatir Ken saat melihat wajah pucat kekasihnya.
“Kamu tidak apa-apa? Apa perlu ke rumah sakit?” tanya Ken.
Michele hanya mengulas senyum tipis melihat begitu perhatiannya Ken padanya.
“Aku tidak apa-apa. Mungkin kurang istirahat saja. aku akan pulang dulu, kamu nggak apa-apa kan?”
“Jelas nggak apa-apa. Dan itu memang lebih baik. Jangan lupa terus konsumsi vitamin agar tubuh kamu tetap fit.” Ucap Ken.
Michele hanya mengangguk dan tersenyum pada Ken. Setelah itu ia mengecup singkat bibir pria itu. setidaknya akan menjadikannya obat dari rasa letihnya.
Cup
Ken juga membalas kecupan Michele. Namun dengan durasi yang sedikit lama. Setelah cukup puas, ia melepasnya.
“Ya sudah, hati-hati. Apa kamu pulang sendiri?” tanya Ken dan diangguki oleh Michele.
__ADS_1
“jangan nyetir sendiri! Lebih baik minta sopir untuk mengantarmu, Chel.” Saran Ken, karena tidak mungkin ia mengantar Michele pulang.
“Terima kasih. Baiklah aku akan meminta sopir mengantarku. Ya sudah aku pulang dulu.” Ucap Michele kemudian.
Setelah kepergian Michele, Ken pun segera membersihkan ruangan itu. dia juga ada janji dengan Adel kalau akan mengantar perempuan itu ke bandara.
**
Saat ini Ken sudah berada di apartemen Adel. Namun saat menuju lantai unit apartemen yang dihuni Adel, tanpa sengaja Ken bertemu seorang perempuan. Dan perempuan itu memanggil Ken seolah sudah mengenalnya.
“Anda memanggil saya, Nona?” tanya Ken bingung.
“Iya. Perkenalkan namaku Jessie.” Ucap Jessie sambil mengulurkan tangannya pada Ken.
Ken semakin bingung, namun ia membalas uluran tangan Jessie dengan mengenalkan dirinya sebagai Ian.
“Apa kamu tinggal di sini? bukannya kamu itu, ehm maaf OB yang bekerja di kantor Michele?” tanya Jessie tampak ragu.
Akhirnya Jessie mengatakan kalau Michele adalah sahabat baiknya. Dan dia bilang kalau tahu Ken saat di pesta ulang tahun Michele tempo hari. Jessie berkata sambil terus memandangi Ken dan senyum-senyum sendiri, hingga membuat Ken tidak nyaman.
“Ehm, saya permisi dulu Nona.” Pamit Ken akhirnya.
“Apa kamu tinggal di sini, Ian?” tanya Jessie penasaran.
“Tidak. Ada teman saya yang tinggal di sini. ya sudah, saya permisi dulu.” Jawab Ken dan langsung meninggalkan Jessie yang masih senyum-senyum sendiri.
Sesampainya Ken unit apartemen, ia melihat Adel sudah bersiap pergi. Ada koper besar milik perempuan itu yang sudah disiapkan sejak tadi.
Sebenarnya unit apartemen yang dihuni oleh Adel itu adalah milik Ken. Namun Ken jarang sekali menempatinya. Dan ia lebih memilih tinggal di rumah kontrakan kecil yang dekat dengan tempat ia bekerja.
__ADS_1
“Apa kamu sudah siap?” tanya Ken dan diangguki oleh Adel.
Semenjak mendapat ancaman dari Ken atas kesalahan ucapannya kemarin, Adel lebih sedikit berbicara dengan Ken. Dia tidak mau salah ucap lagi dan berujung memancing amarah Ken.
Kini Ken dan Adel sudah berada di mobil. Adel masih saja diam, dengan pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Ken menyadari itu. jujur saja dia juga merasa bersalah karena telah mengancam perempuan itu.
“Maaf atas sikapku kemarin, Del.” Ucap Ken dengan pandangan lurus ke depan.
“Lupakanlah. Justru aku yang minta maaf. Oh iya, kapan kamu pulang? Ibu dan Ayah sangat merindukan kamu.” Jawab Adel lalu mengalihkan pembicaraan.
“Sampaikan salamku pada Ibu dan Ayah. Maaf aku belum bisa pulang.” jawab Ken.
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Ken sudah sampai bandara. Ia pun segera turun untuk membawakan koper Adel.
Mereka berdua berjalan beriringan. Hingga Ken berhenti di depan pintu keberangkatan dan memberikan kopernya pada Adel.
“Terima kasih banyak, Del! Selama ini kamu telah banyak membantuku.” Ucap Ken pada sosok perempuan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
“Kamu jangan bilang seperti itu, Ken. Justru aku sangat berterima kasih padamu, karena tanpa kamu aku dan keluargaku pasti tidak akan hidup terjamin seperti sekarang ini.” ujar Adel.
Ken hanya tersenyum menatap Adel. Tak lama kemudian ia mempersilakan Adel masuk sebelum terlambat. Setelah itu juga pulang.
Di tempat yang sama, ternyata sejak tadi ada seseorang yang melihat Ken dan Adel. Bahkan sampai Ken meninggalkan bandara dengan mengendarai mobil sport mewah. Orang itu terus mengucek matanya untuk memastikan kalau pria yang dilihatnya adalah seorang OB yang bekerja di tempat yang sama dengannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️