
Hari ini Micehel sedang bersiap untuk pergi ke kantor. dia sangat buru-buru setelah mendengar kabar bahwa kliennya yang dari luar negeri hari ini juga minta meeting. Meeting yang harusnya terjadwal dua hari lagi, kini dimajukan tanpa mengkonfirmasi terlebih dulu. Kebetulan Omnya juga ada jadwal meeting di jam yang sama. Alhasil tetap Michele lah yang menemui kliennya nanti.
Sedangkan Tristan juga sejak tadi sudah siap ikut Mamanya pergi ke kantor. Beruntungnya anak itu tidak banyak drama pagi ini. meskipun meeting masih jam sepuluh nanti, tapi dengan kabar mendadak ini Michele tetap harus menyiapkan semua berkas-berkasnya.
“Chel, biar Tristan di rumah saja sama Tante. Kamu juga sepertinya sangat buru-buru gitu.” Ucap Kamila, istri Vano.
“Tidak, Tan. Nanti Tristan malah nangis kalau Michele tinggal. Dia hari ini pintar kok. Jadi aman. Banyak anak magang juga disana yang suka aku maintain jaga Tristan.”
Setelah itu Michele menuntun Tristan keluar. Dia akan mengendarai mobil sendiri bersama anaknya. karena kebetulan sopirnya sedang mengantar Vano meeting di luar.
Perjalanan meenuju kantor sempat macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Mechele semakin panik jika kliennya sudah datang lebih dulu darinya.
Beberapa saat kemudian Michele sudah tiba di kantor. dia langsung menggendong Tristan dan membawanya masuk melewati lift. Michele melirik jam tangannya menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Bisa dipastikan kalau kliennya belum datang. dan dia masih ada waktu untuk menyiapkan berkas meeting sebentar.
Sesampainya di ruangannya, Michele langsung meminta salah satu anak magang agar menjaga Tristan dulu. Lagi-lagi Tristan sangat pintar dan menurut.
“Tolong kamu jaga dia dulu, setelah ini saya meeting. Kalau dia minta susu, kamu ambil di ruangan sekretaris saja.” ucap Michele pada salah satu anak magang.
“Baik, Bu.” Jawabnya dengan tersenyum ramah.
Tristan pun diajak main sama anak magang itu. mainnnya juga hanya sekitaran lantai enam dimana ruangan Michele berada. Kebetulan ruangan meeting juga ada di lantai enam.
Terlihat Tristan kembali aktif setelah tadi menunjukkan sikap pendiamnya di hadapan Mamanya. Anak magang yang sudah terbiasa disuruh menjaga Tristan tersenyum melihat sikap anak itu. bisa-bisanya saat di depan Mamanya bersikap sok manis. Sekarang saat Mamanya tidak ada, seolah dirinya sedang meraih kebebasannya.
Di saat Tristan sedang berlari-lari, tiba-tiba ada dua orang asing sedang berjalan menuju ruang meeting. Dua orang itu juga tampak serius berbicara dan mengabaikan sosok kecil yang sedang berlarian.
Bruk
Tristan terjatuh setelah menabrak salah satu orang yang sedang berjalan tadi. sontak saja kedua orang itu berhenti. Lalu salah satunya menolong Tristan yang sepertinya ingin menangis.
__ADS_1
“Hei adik, jangan menangis! Nanti tampannya hilang loh!” Adel berusaha menenangkan Tristan walau anak itu tidak mengerti ucapan Adel.
Sementara Ken yang belum melihat wajah Tristan tampak geram. Geram bukan dengan anak kecil yang menabraknya, melainkan geram pada orang tua anak itu. bisa-bisa membiarkan anaknya berlarian sendiri di kantor tanpa ada pengawasan.
“Astaga, Ken! Coba lihat anak ini, mirip sekali dengan foto kamu waktu masih kecil dulu.” Pekik Adel terkejut saat menatap Tristan dari dekat.
Tristan justru menangis kencang karena ketakutan. Sedangkan Adel bingung karena tidak tahu bagaimana caranya mendiamkan anak yang sedang menangis. Maklum saja dia tidak ada pengalaman.
Hati Ken pun tergerak untuk mencoba menenagkan Tristan. Entah dengan rayuan seperti apa, akhirnya Tristan mau diam. bahkan anak itu merentangkan tangannya hendak minta gendong pada Ken.
“Itu dia Tristan, Bu!” Seru seseorang yang sepertinya sejak tadi mencari keberadaan Tristan.
“Tristan!” Panggil Michele merasa lega setelah sejak tadi mencari anak itu yang hilang dengan tiba-tiba.
“Tristan, sini Sayaaaang!” suara Michele semakin lirih saat melihat seorang pria yang sedang berjongkok di hadapan Tristan.
“Mama…ma..ma..ma…”
Mendengar suara Tristan memanggilnya, Michele segera menundukkan badannya lalu menggendong anak itu.
Michele kembali menatap ke arah Ken yang juga tengah menatapnya. Dadanya semakin sesak. Benarkah pria itu adalah Ken. Bagaimana bisa Ken bisa berada di sini.
Sementara Ken juga tak kalah terkejutnya saat bertemu dengan Michele. Rasa rindu yang selama ini ia simpan rapat dalam hati ingin sekali ia lampiaskan begitu saja dengan memeluk erat Michele. Namun saat melihat anak kecil dalam gendongan perempuan itu membuat hati Ken mencelos. Itu tandanya Michele sudah menikah dengan pria lain.
Adel yang sama sekali tidak paham dengan keadaan ini, dia ikut bingung. Pasalnya dia juga tidak tahu kalau Michele lah wanita yang ada dalam hati Ken sejak dulu, bahkan membuat pria itu gagal move on. Adel hanya tahu ceritanya saja. bahkan Adel lupa kalau dulu pernah bertemu dengan Michele di apartemen.
“Ayo, sebentar lagi waktunya meeting.” Bisik Adel, namun Ken sama sekali tidak peduli.
Ken justru berjalan mendekati Michele dan Tristan. Jantung Michele berdegup semakin kencang saat jaraknya dengan Ken semakin dekat. Namun Michele kecewa saat Ken melewatinya begitu saja tanpa mengucapkan sesuatu.
__ADS_1
Michele berusaha untuk tenang. Ia kembali menitipkan Tristan, lalu ia mengikuti Ken dan Adel yang memasuki ruang meeting. Michele juga terkejut ternyata kliennya yang dari luar negeri adalah Ken.
Di dalam ruang meeting itu hanya terisi tiga orang saja. Ken yang didampingi Adel, sedangkan Michele sendirian.
Michele menyambut kliennya dengan senang hati. Ia bersikap sangat profesioanal dan mengabaikan masalah perasaanya dengan pria yang ternyata itu adalah kliennya. Ken pun juga fokus menyimak beberapa penjelasan dari Michele tanpa menyela sedikitpun.
“Terima kasih atas waktunya, Tuan. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kalau ada yang kurang bisa anda tanyakan.” Ucap Michele mengakhiri presentasinya.
“Del, tolong keluarlah dari ruangan ini!” perintah Ken dan hanyai diangguki oleh Adel tanpa meminta alasan.
Michele masih berdiri di tempatnya semula setelah Adel keluar dari ruang meeting. Lalu Ken berdiri menghampiri Michele.
“Aku senang melihatmu hidup dengan baik dengan keluarga kecil kamu.” Ucap Ken dengan sendu.
Grep
Michele sudah tidak tahan lagi untuk melepas rindunya pada Ken. Wanita itu mengabaikan ucapan Ken. Dia memeluk tubuh Ken dengan erat, walau Ken sama sekali tidak membalas pelukan itu.
“Aku sangat merindukanmu, Ken!!” akhirnya tangis Michele pecah.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1