
Michele juga reflek membalas ciuman Ken. Mereka berdua begitu asyik menikmati kegiatan itu di tepi pantai di bawah sinar rembulan. Kedua tangan Ken memeluk erat tubuh Michele seolah tidak ingin dan tidak akan melepas perempuan itu sampai kapanpun. Begitu juga dengan Michele. Dia sudah yakin kalau hatinya hanya untuk Ken seorang. Apapun yang terjadi ke depan nantinya, dia tidak akan merubah keputusan itu. Michele juga tahu kalau jalan yang akan ia lalui bersama Ken untuk mencapai bahagia tidaklah mudah.
Beberapa saat kemudian ciuman mereka terputus karena Michele hampir kehabisan pasokan oksigen. Setelah itu Ken menatap bibir basah kekasihnya dan mengusapnya dengan lembut.
“Terima kasih sudah menerimaku.” Ucap Ken.
“Lalu, bagaimana dengan hati kamu ke aku, Ken?” tanya Michele sengaja ingin membuat Ken mengakui perasaannya. Walau ia sudah pernah mendengarnya saat itu.
“Masak kamu masih menanyakan hal itu? yang pasti sampai kapanpun aku tidak akan melepasmu, karena kamu adalah milikku.” Jawab Ken.
Michele senang mendengarnya. Dia cukup paham kalau kekasihnya itu tipe pria yang sulit mengungkapkan perasaannya.
Setelah itu Ken mengajak Michele pulang. dia tidak ingin membuat kedua orang tua Michele mengkhawatirkan putrinya jika pulang malam.
Dalam perjalanan pulang Ken terus menggenggam lembut tangan Michele. Mereka berdua tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia.
Beberapa saat kemudian Ken menghentikan mobil Michele di depan rumah kontrakannya. Walaupun Ken tadi sudah berniat mengantar Michele pulang, namun perempuan itu sendiri menolaknya dengan alasan tidak ingin diketahui orang tuanya.
“Kamu hati-hati di jalan. Segera hubungi aku kalau sudah sampai rumah.” ucap Ken sebelum keluar dari mobil.
“Terima kasih. Maaf, Ken kalau aku memilih untuk menyembunyikan hubungan ini dulu.” Ucap Michele dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku percaya dengan kamu.” Jawab Ken lalu mengcup singkat bibir Michele, setelah itu keluar dari mobil.
***
Ken memasuki rumah kontrakannya. Setelah berganti pakaian, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan ukuran sedang. Jika menurut pandangan orang kaya, kamar yang ditempaati Ken saat ini sangatlah tidak nyaman. Namun Ken sudah terbiasa dengan hal itu. terlebih semenjak mencari keberadaan pembunuh keluarganya, ia bahkan sering berganti-gati rumah kontrakan. Hingga akhirnya ia sampai di rumah yang ia tempati saat ini.
Ken juga tidak tahu kenapa ia bisa memilih rumah ini dan menjadi OB di perusahaan yang kini presdirnya menjadi kekasihnya. Mungkin benar kalau memang ini adalah takdirnya untuk dipertemukan dengan Michele. Atau dengan bertemu dengan Michele, Ken akan menemukan pembunuh keluarganya.
***
Sementara itu saat ini tampak seorang pemuda sedang duduk termenung di ruangan kerjanya. Tepatnya ruangan kerja milik mendiang Papanya. Dan pria itu adalah Aiden.
Sudah cukup lama Aiden berdiam diri di ruangan yang sangat hening itu. pria itu masih memikirkan misteri kematian Papanya.
Aiden teringat dengan ucapan Papanya sewaktu masih hidup, kalau dirinya harus tetap dekat dengan Xander. Apapaun yang terjadi nanti. Bahkan Papanya juga menjodohkannya dengan Michele.
Aiden memang terkenal seorang cassnova. Dia juga tahu kalau Xander tidak menginginkan dirinya dekat dengan Michele.
“Sebenarnya ada hal apa yang membuat Papa sangat dekat dengan Om Xander. Apa penyebab kematian Papa masih ada hubungannya dengan pria itu. Kalau iya, kenapa Om Xander sampai bersusah payah membantunya untuk mengungkap kasus kematian Papa.” Gumam Aiden.
Kemudian Aiden membuka laci meja kerja Papanya. Dia hendak mencari beberapa berkas penting yang mungkin tersimpan di sana. Lalu tangan Aiden meraih sebuah amplop berwarna coklat. Amplop itu terlihat sangat kusam dan berada di bagian paling dalam. Seperti sengaja disembuyikan oleh Papanya.
__ADS_1
Aiden terkejut sekaligus bingung saat menemukan sebuah foto di dalam amplop itu. foto seorang gadis cantik. Foto itu juga diambil dalam waktu yang cukup lama. Terbukti dari warna kertasnya yang sudah pudar.
Aiden memandangi foto itu dengan jeli. Dia tersentak saat menyadari foto gadis itu sangat mirip dengan Michele.
“Apakah ini foto Tante Silvia?” gumam Aiden dengan perasaan tak menentu. Kemudian dia membalik foto itu dan benar saja di sana ada sebuah untaian kalimat yang ditulis tangan oleh Papanya.
“Silvia, sampai kapanpun aku sangat mencintaimu. Aku akan menghalangi siapapun yang berani memilikimu.”
Aiden mengepalkan kuat tangannya. ada rasa sesak dalam dirinya saat membaca tulisan itu. namun rasa sesak itu lebih tertuju pada Mamanya. Apakah selama ini Papanya tidak pernah mencintai Mamanya. Lalu apakah kehadiran dirinya selama ini tidak ada artinya buat Papanya.
Memang Aiden akui kalau dalam hal pekerjaan selama ini Papanya selalu mengunggulkan dirinya. Dan di luar pekerjaan, Barrack seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Hanya Mamanya saja yang perhatian padanya.
Apakah setelah ini Aiden akan menghentikan kasus kematian Papanya dan bersyukur dengan kejadian ini, karena Mamanya sudah tidak tersakiti lagi. Atau justru ia akan tetap mendekati Xander dan menghancurkan keluarga pria itu demi membalas sakit hati sang Mama karena Papanya selama ini masih mencintai wanita masa lalunya, yang tak lain adalah Silvia.
“Hanya author yang tahu”😂😂
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️