
“Memangnya tidak ada bukti lain kalau Om Barrack dibunuh, Ma? Seperti rekaman cctv atau yang lainnya?” tanya Michele penasaran.
“Mama belum tahu. Saat ini Papa kamu sedang membantu menyelesaikan masalah ini.” jawab Silvia.
Michele kembali terdiam. Buat apa juga Papanya susah payah membantu mengatasi kematian pria yang telah menghianatinya itu. Andai saja Papanya tahu, pasti Xander akan sangat marah.
Tak lama kemudian Michele menghampiri Aiden yang tampak menunjukkan raut kesedihannya. Tidak ada maksud lain bagi Michele kecuali hanya untuk mengucapakan belasungkawanya.
“Aku turut berduka atas meninggalnya Om Barrack, Den.” Ucap Michele.
“Terima kasih banyak, Chel. Aku minta maaf atas semua kesalahan Papa selama ini.” jawab pria itu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya. Kamu yang sabar.”
Setelah mengucapkan itu, Michele memutuskan untuk kembali ke kantor. ia tidak ikut mengiringi kepergian Barrack sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Sesampainya di kantor, Michele kembali melanjutkan pekerjaannya. Untuk saat ini ia hanya ingin fokus dengan pekerjaan. Sedangkan masalah Ken yang menurutnya telah mengabaikan dirinya, Michele memilih nanti saja akan bicara empat mata dengan pria itu.
Tanpa Michele sadari jam pulang kantor sudah tiba. Namun sepertinya perempuan itu masih sibuk dengan beberapa tumpukan dokumen di atas mejanya. Sebenarnya Michele tidak bekerja sendiri. Ada Ivan yang ikut membantunya. Namun pria itu juga ssibuk di ruangannya sendiri.
Jabatan Ivan di perusahaan juga masih sama. Yaitu menjadi asisten presdir. Berhubung Xander sudah digantikan oleh Michele, alhasil sekarang ia menjadi asisten Michele.
Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan konsentrasi Michele. Ternyata yang masuk adalah Ken. Pria itu sudah siap dengan alat kebersihannya. Ken tampak terkejut saat melihat Michele masih duduk di kursinya. Ia pikir Michele sudah pulang.
Sedangkan Michele sendiri yang ingin mengajak Ken bicara empat mata merasa bingung, karena pekerjaannya masih banyak.
“Permisi!” ucap Ken dengan sopan sebelum memulai pekerjaannya.
__ADS_1
Michele hanya mengangguk dan kembali fokus dengan layar laptop di hadapannya.
Usai membersihkan ruangan Michele, Ken segera keluar. Ia juga akan bersiap pulang karena ia juga ada janji dengan Adel malam ini untuk menyelesaikan pekerjaannya.
**
Ken kini sudah berada di rumahnya. Ia segera membersihkan tubuhnya setelah itu akan memasak untuk makan malamnya. Berhubung ia janji bertemu dengan Adel jam delapan malam, jadi masih banyak waktu untuk santai sejenak.
Saat ini Ken sedang sibuk di dapur. Pria itu memang tidak ahli memask. Ia hanya membuat spaghetti saja, karena itu sangat mudah dan cepat. Setelah selesai, Ken menyajikan hasil masakannya di meja makan. Setelah itu ia menikmatinya sendiri.
Hampir saja ia menyuapkan spaghetti ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Akhirnya ia memilih membukakan pintu itu dulu.
Cklek
“Hai!” sapa Michele dengan tersenyum manis.
“Ada apa, Chel?” tanya Ken terkejut dengan kedatangan Michele tanpa memberitahu.
Mau tidak mau Ken mempersilakan Michele masuk. Bahkan Michele langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam yang telah ia beli. Michele bersikap seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Sedangkan Ken hanya bisa pasrah melihat tingkah perempuan itu.
“Kamu buat spaghetti?” tanya Michele setelah melihat sepiring Spaghetti yang masih utuh.
“Iya.”
“Ya sudah, buat aku saja. kamu makan yang ini.” Michele memberikan makanan yang sudah ia beli kepada Ken. Sedangkan spaghetti buatan Ken ia makan.
Tanpa banyak bicara Ken pun segera menyantap makanan itu. begitu juga dengan Michele. Keduanya makan dalam hening.
__ADS_1
Usai makan malam, Ken membereskan sisa makanannya. Namun dengan cepat dicegah oleh Michele, dan diambil alih oleh perempuan itu. Ken hanya membiarkannya saja.
Kini Ken sedang duduk di di sofa ruang tengah bersama Michele. Sejak tadi Ken terlihat cuek pada Michele, namun sebenarnya ia sedang memikirkan Adel yang saat ini pasti sedang menunggunya.
“Apa kamu tidak langsung pulang?” tanya Ken.
“Kamu mengusirku, Ken? Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Apakah aku telah melakukan kesalahan padamu? Katakan, Ken!” ucap Michele dengan mata berkaca-kaca.
“Bukan. Bukan seperti itu, Chel. Hanya saja aku sedang ada janji dengan temanku. Ini juga sudah malam. kamu baru saja pulang dari kantor. kamu harus istirahat.” Jawab Ken merasa tak enak.
“Kamu berubah, Ken. Sejak kemarin kamu mengabaikanku? Apa kamu sengaja berniat menjauhiku, lalu pergi meninggalkanku?” ucap Michele dengan tangis yang tidak bisa dibendung lagi.
Ken tampak bingung sekaligus merasa bersalah karena telah membuat Michele menangis.
“Jangan menangis, Chel! Bukankah sudah aku peringatkan sebelumnya, jangan berharap sesuatu dariku. Aku tidak mau membuat kamu nantinya menyesal dan membenciku.” Ucap Ken sambil berusaha menenangkan Michele.
“Tidak. Aku tidak akan pernah menyesal dekat denganmu. Aku juga tidak akan kecewa dan membencimu. Apa semua itu karena status kita? Aku tidak peduli. Mau kamu orang kaya, orang miskin, pekerjaan kamu OB, atau bahkan kamu pembunuh sekalipun aku tidak peduli. Semua itu karena aku mencintaimu, Ken.” Ucap Michele menggebu-gebu.
Ken sangat terkejut saat mendengar pengakuan Michele bahwa perempuan itu mencintainya. Dia menatap dalam mata perempuan itu, dan memang tidak ada kebohongan di sana. Hanya saja Ken tidak masih tidak percaya dengan pengakuan itu.
“Kamu jangan mencintaiku, Chel. Bukankah kamu sudah memiliki kekasih yang sangat perhatian dan menyayangimu?” tanya Ken dan berhasil membuat Michele terdiam dari isakannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️