Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 41 ~ Ivan


__ADS_3

Hari ini Michele tampak sibuk di ruang kerjanya. Bahkan dia tadi berangkat sangat pagi sekali demi menyelesaikan pekerjaannya. Ken yang keluar masuk ruangan presdir sama sekali tidak ingin mengganggu kekasihnya yang sedang sibuk. Ia hanya menyuguhkan minuman yang biasa diminum oleh Michele.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ternyata Ivan yang masuk dengan membawa beberapa berkas penting untuk dimintai tanda tangan Michele.


“Nona, tiga puluh menit lagi anda meeting dengan Tuan Aiden.” Ucap Ivan mengingatkan.


“Baiklah. Sebentar lagi aku selesai. kamu tunggu saja di ruang meeting.” Jawab Michele dengan tangan yang masih sibuk membubuhkan tanda tangan pada lembaran dokumen.


“Maaf, Nona. Saya lupa memberitahu kalau Tuan Aiden meminta meeting di sebuah restaurant yang sudah ditentukan sendiri oleh Tuan Aiden.” Ucap Ivan.


Michele mengerutkan keningnya. Padahal dia sangat menghindari pria itu. dan beruntung kalau hari ini meeting diadakan di perusahaannya sendiri. Tapi kenapa mendadak berubah.


“Kamu ikut kan nanti meetingnya?” tanya Michele untuk memastikan.


“Iya, Nona. Anda jangan khawatir.” Jawab Ivan seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh presdirnya itu.


Setelah itu Ivan keluar dari ruangan Michele. Perempuan itu menghubungi OB sekaligus kekasihnya untuk membuatkannya kopi.


Cklek


Ken datang dengan membawa segelas kopi di atas nampan. Pria itu tersenyum ramah lalu meletakkan kopi buatannya di atas meja.


“Apa ada masalah?” tanya Ken.


“Tidak. Hanya saja sedang sibuk dengan pekerjaan. Ehm, sebentar lagi aku ada meeting di luar. Mungkin sampai nanti waktu makan siang. Jadi maaf kita tidak bisa makan siang bersama.”


“Tidak masalah. Tapi kenapa raut wajah kamu terlihat berbeda?”


Michele menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan Ken. Setelah itu barulah ia menceritakan tentang kegundahan hatinya yang sebentar lagi akan bertemu dengan Aiden. Klien sekaligus rekan bisnisnya.

__ADS_1


Michele menceritakan sedikit tentang Aiden. Yang tak lain adalah putra tunggal Barrack. Dan pria itu juga sejak dulu menyukainya, tapi ia selalu menolak setiap Aiden mengajaknya pergi makan.


“Apa dia tampan?” tanya Ken dengan nada gurauan.


“Ya. Dia memang tampan. Tapi dia seorang cassanova.” Jawab Michele.


“Berarti kalau dia bukan cassnova, kamu mau menerimanya?”


Michele semakin kesal dengan pertanyaan Ken. Dia memilih tidak peduli kemudian meneguk kopi buatan Ken.


Sementara itu Ken mendekati Michele setelah perempuan itu meminum kopinya. Tangan Ken terulur meraih leher Michele. Sontak saja Michele sangat terkejut. Ia takut kalau Ken akan berbuat mesuum.


“Sttt… jangan berpikiran negatif!” ucap Ken lalu tangannya berhasil mengeluarkan kalung yang sedang dipakai oleh Michele. Dan kalung itu adalah kalung pemberiannya sebagai kado ulang tahun.


“Ada ap.. apa, Ken?” tanya Michele dengan gugup.


“Di dalam liontin ini sudah aku pasang alat pelacak dan sudah tersambung dengan ponselku. Kamu jangan khawatir! Jika kamu sedang dalam bahaya, aku akan segera mengetahuinya.” Papar Ken panjang lebar.


Michele sangat terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau ssejauh itu Ken bertindak. Pria itu benar-benar tidak ingin melindunginya.


Mata Michele berkaca-kaca, kemudian ia memeluk Ken dengan erat. Ken pun ikut membalas pelukan kekasihnya.


“Terima kasih, Ken!”


Cklek


“Permis-“


Ivan sangat terkejut saat melihat presdirnya sedang berpelukan dengan seorang OB. Begitu juga dengan Michele dan Ken. Mereka juga sama terkejutnya. Namun setelah itu Michele memberi kode pada Ken agar segera keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Ivan diam membeku saat Ken berjalan melewatinya begitu saja. dia seperti sedang bermimpi setelah melihat pemandangan baru saja.


“Kak Ivan ingin tetap bekerja di sini atau menjadi pengangguran abadi?” tanya Michele dan membuyarkan lamunan Ivan.


Ivan tersentak mendapat pertanyaan itu. dan yang dilihatnya baru saja adalah kenyataan. Karena mendengar ancaman Michele dia cukup paham kalau Michele menyuruhnya tutup mulut.


“Kamu ini ngomong apa sih, Chel? Jelas aku masih ingin bekerja di sini.” Jawab Ivan dengan raut muka pucat pasi.


“Baguslah kalau begitu. Kita berangkat sekarang.” ucap Michele denagn mengulum senyum melihat wajah Ivan.


Michele sejak dulu menganggap Ivan seperti kakaknya sendiri. Sudah lama Ivan mengabdikan hidupnya pada Xander. Karena Xander lah yang menyelamatkan Ivan dari kebrutalan teman jalanannya dulu. Hingga ia meraih kesuksesannya seperti sekarang ini. bahkan ia bisa menemukan keluarganya juga berkat Xander.


Setelah Xander meminta Michele menjadi presdir, otomatis ia menjadi asisten Michele. Jadi dia harus menurut semua perintah atasannya. Termasuk untuk tutup mulut dari kejadian yang baru saja ia lihat.


Dalam perjalanan menuju restaurant tempat meeting, Ivan masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin seorang presdir menjalin hubungan dengan seorang pria yang berkedudukan lebih rendah darinya. Ingin menanyakan langsung pada Michele, namun nyalinya mendadak tipis.


Sedangkan Michele juga sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ada rasa tak nyaman karena sebentar lagi bertemu dengan Aiden.


“Selamat siang, Nona Michele!” sapa Aiden dengan senyum ramah saat melihat Michele memasuki ruangan VVIP sebuah restaurant.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2