
Setelah Papanya keluar dari ruangannya, Michele kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia akan menyiapkan dokumen untuk meeting nanti siang. Selain itu ia juga akan mempelajarinya dulu. Walau ia nanti tidak meeting sendirian, karena ada asisten Papanya yang akan ikut dan membantunya.
Sedangkan Ken kini sudah masuk ke dalam ruangan Michele untuk melaksanakan tugas atasannya tadi, yaitu membersihkan kamar mandi.
Michele hanya melirik Ken sebentar, setelah itu membiarkan pria itu melakukan pekerjaannya. Entah kenapa rasanya hari ini Michele sangat bersemangat untuk bekerja. Ya, meskipun baaru saja sedikit dibuat kesal oleh Papanya. Namun tetap saja dia merasa sangat bersemangat dalam bekerja. Apakah itu karena senyuman si OB tadi. Michele menggelengkan kepalanya.
“Ada-ada saja.” gerutunya sambil jari jemarinya menari di atas keyboard.
**
Jam makan siang pun tiba. Setelah diminta Michele untuk istirahat, akhirnya Ken pergi ke kantin untuk makan siang juga. Di hari pertamanya bekerja tidak ada kendala sama sekali. Meskipun awalnya ia diberitahu oleh kepala HRD tentang wakil presdirnya yang cerewet, namun menurut Ken Michele biasa saja dan tidak cerewet.
“Hai, kamu OB baru?” sapa seseorang yang sedang berdiri di samping Ken mengantri makanan.
“Iya.” Jawab Ken sambil tersenyum pada pria itu.
“Aku Zian. Selamat bekerja di perusahaan ini. semoga betah.” Ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Ken.
“Aku Ian.” Jawab Ken lalu menerima uluran tangan Zian.
Setelah keduanya memegang piring yang berisi makanan, kini Ken dan Zian duduk bersama untuk menyantap makan siang mereka.
Baru saja kedua pria itu bertemu dan berkenalan. Namun rupanya mereka sudah terlihat sangat akrab satu sama lain. Terlebih Zian yang sangat nyaman ngobrol bersama Ken. Bahkan mereka juga bertukar nomor ponsel jika suatu saat saling membutuhkan bantuan.
Zian yang tugasnya membersihkan lantai dasar, akan sangat sulit bertemu dengan Ken yang bertugas di lantai enam. Zian sangat tahu bagaimana tugas Ken di lantai enam, khususnya di ruangan wakil presdir. Pastinya akan sangat berat.
__ADS_1
“Ya sudah, aku naik ke lantai enam dulu, Zi. Jam makan siang kita juga sudah habis. Sampai jumpa nanti.” Ucap Ken.
“Baiklah. Eh, kamu sadar nggak kalau nama kita hampir sama. Zian dan Ian? Ini sangat kebetulan loh.” Ucap Zian yang sedang berjalan beriringan dengan Ken.
“Ah iya. Apa itu tandanya kita berjodoh?” gurau Ken dan membuat keduanya tergelak bersama.
Setelah itu mereka berpisah dan menuju tempat tugas masing-masing. Sebenarnya di saat jam kerja para karyawan seperti ini, tugas OB hanya santai saja. Mereka akan membersihkan ruangan jika para karyawan sudah pulang, namun mereka juga harus tetap standby jika disuruh oleh beberapa karyawan.
Ken kini sedang berjalan menuju pantry yang ada di lantai enam. Karena itu adalah ruangan tetapnya sambil menunggu perintah dari atasan. Saat melintas di depan ruangan wakil presdir, tanpa sengaja Ken berpapasan dengan Michele yang baru saja keluar dari ruangannya. Ken menunduk hormat sambil tersenyum pada Michele. Lalu ia segera menuju pantry.
“Ada apa, Nona?” tanya Ivan asisten Xander yang ikut berhenti di belakang Michele.
Pria seusia Ken itu menatap heran pada atasannya yang tiba-tiba terlihat aneh. Bahkan ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Michele sempat senyum-senyum sendiri setelah berpapasan dengan pria berseragam OB tadi.
“Nona!” panggil Ivan sekali lagi.
“Maaf!” jawab Ivan lebih memilih mengalah. Karena sudah menjadi rahasia umum kalau si wakil presdir tidak pernah salah.
***
Usai pulang kerja, Ken langsung pulang ke rumahnya. Seperti biasa pria itu akan memasak sendiri untuk makan malamnya. Dia yang sudah lama hidup sendiri tidak pernah bersikap boros dengan menghambur-hamburkan uang. Jika ada yang bertanya mengapa di saat usianya sudah tiga puluh dua tahun itu Ken tidak memikirkan untuk mencari pendamping hidup? Dan jawabannya adalah Ken sama sekali tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan serius sebelum tujuan hidupnya terwujud. Entah tujuan yang seperti apa hingga sampai membuatnya lupa dengan dirinya sendiri.
Setelah membersihkan tubuhnya, Ken mulai memasak. Malam ini ia hanya ingin membuat spaghetti saja. karena membuatnya sangat mudah dan cepat. Namun baru saja ia menyalakan kompor, tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel. Lalu ia mematikan kompornya dulu sebelum menjawab telepon itu.
“Ya?”
__ADS_1
“…..”
“Serius kamu? Baiklah, tunggu aku sebentar lagi sampai.” Jawan Ken lalu memtus panggilannya.
Ken mengurungkan niatnya untuk memasak. Ia mengambil jaket lalu pergi ke tempat dimana orang yang baru saja meneleponnya berada.
Ken berjalan sebentar hingga sampai jalan raya. Setelah itu ia menghentikan sebuah taksi untuk mengantar ke alamat yang ia sebutkan kepada sopir taksi.
Tanpa Ken ketahui ternyata Michele melihat pria itu menaiki taksi. Kebetulan juga Michele saat itu sedang melintas di jalan yang sama dilewati oleh Ken.
“Kemana sih dia akan pergi? Atau aku ikutin saja?” tanya hati Michele.
Karena penasaran, akhirnya Michele memutuskan untuk mengikuti kemana taksi yang ditumpangi oleh Ken itu pergi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1