
Michele menghembuskan nafas lega setelah selama dua jam meeting sekaligus makan siang dengan Aiden. Dan hal yang membuatnya lega lantaran selama meeting tadi Aiden sangat fokus dengan pembahasan kerjasama. Michele sebenarnya agak heran melihat sikap Aiden tidak seperti biasanya. Atau mungkin pria itu masih berduka dan teringat mendiang Papanya. Entahlah, yang pasti Michele tidak mau tahu dan tidak ingin tahu.
Kini Michele dan Ivan sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Michele sibuk berbalas pesan dengan Ken. Dia mengabarkan kalau saat meeting tadi aman-aman saja. tidak ada kejadian aneh yang sempat ada dalam ekpektasinya. Ken juga ikut bernafas lega.
Sementara Ivan kini hanya diam sambil fokus dengan kemudi. Dia kembali mengingat kejadian tadi. dimana atasannya sedang berpelukan dengan seorang OB. Jujur saja Ken masih tidak percaya kalau Michele menjalin hubungan dengan seorang OB. Lalu dia teringat saat tak sengaja bertemu seseorang yang mirip Ken yang mengendarai mobil sport mewah di bandara dulu.
“Apa mungkin yang aku lihat itu adalah Ian? Kalau memang iya, berarti Ian bukan seoraang OB sungguhan. Apa dia sengaja menyamar? Lalu apa tujuannya?”
Ivan masih berperang dengan pemikirannya sendiri. Bahkan masih banyak pertanyaan dalam benaknya tentang Ken. Namun sayangnya dia tidak tahu mencari jawabannya dimana dan sama siapa.
Beberapa saat kemudian mobil yang Ivan kendarai sampai di basement kantor. Michele segera turun tanpa menunggu Ivan membukakan pintunya.
Michele menyunggingkan senyumnya saat baru saja mendapat pesan dari Mamanya kalau selama dua hari ke depan Mamanya ikut menemani sang Papa yang sedang ada acara penting dengan rekan bisnisnya di luar kota.
Seperti anak remaja yang takut kepergok pacarana, dengan mengetahui kabar itu Michele pun sangat senang. Ia seperti merasa bebas untuk berduaan dengan kekasihnya.
Kini Michele sudah berada di ruang kerjanya. Setelah meeting, pekerjaan Michele pun tidak sepadat tadi. mungkin dia bisa beristirahat sejenak sambil berduaan dengan kekasih hatinya.
Michele menghubungi Ken agar datang ke ruangannya. Karena sangat tidak mungkin jika ia yang datang ke pantry dan berdua-duaan di sana.
Michele membukakan pintu untuk Ken setelah pria itu mengetuknya beberapa kali. Biasanya Ken langsung masuk. Namun kali ini dia terkejut saat Michele membukakan pintu dan menyambutnya dengan senyum merekah.
__ADS_1
“Ada apa, hem?” tanya Ken setelah Michele menutup pintu itu dan menguncinya.
Michele langsung memeluk Ken. Mencium aroma maskulin tubuh Ken membuatnya sangat tenang. Bahkan sulit untuk melepasnya.
“Aku kangen sama kamu.” Rengek Michele dengan suara manja.
Ken kemudian mengajak Michele agar duduk di sofa. Dan perempuan itu nurut saja dengan tangan bergelayut di lengan Ken.
“Ken, apa kamu nggak ingin pergi liburan?” tanya Michele.
“Memangnya kenapa? Apa kamu ingin liburan bersamaku?” jaawab Ken dengan bertanya balik.
“Kamu tahu saja. Dua bulan lagi kan ada liburan akhir tahun. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?” tawar Michele memberi solusi.
“Masih lama kalau dua bulan lagi. aku bahkan ingin jalan-jalan setiap saat bersamamu.” Jawab Ken dengan senyum menggoda.
Jelas saja wajah Michele langsung merona. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kekasihnya itu pandai menggombal. Sangat berbanding terbalik dengan sifat yang mungkin disembunyikan. Yaitu kejam.
“Libur akhir tahun nanti akan aku pakai pulang sekaligus melihat perkembangan perusahaanku yang ada di sana. Apa kamu mau ikut?” tawar Ken.
Ken memang dulunya tinggal di kota yang sama dengan Michele. Namun setelah kejadian menyedihkan beberapa tahun silam, asisten Papanya yang tak lain adalah Rainer berhasil menyelamatkan perusahaan itu dan memindahkannya ke luar negeri. Dan selama bertahun-tahun tinggal di sini, hanya apartemen saja yang menjadi tempat tinggal menetap Ken. Itu pun sangat jarang ia tempati. Dia lebih memilih tinggal berpindah-pindah dengan menyewa rumah kontrakan kecil. Sedangkan rumah peninggalan orang tuanya, ditempati orang lain yang bertugas membersihkan dan menjaganya.
__ADS_1
“Wah, itu ide yang bagus. Aku mau ikut.” Jawab Michele dengan mata berbinar.
Ken tersenyum hangat melihat Michele yang tampak bahagia itu. sungguh ia tidak menyangka kalau pekerjaannya yang menjadi seorang OB bisa mempertemukan ia dengan perempuan cantik dan baik hati seperti Michele.
Ken yang sejak dulu hidupnya datar-datar saja kini lebih berwaran setelah bertemu dengan Michele. Meskipun tujuannya masih sama, yaitu mencari keberadaan orang yang telah membunuh keluarganya.
Michele kini menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Ken. Ken sesekali mengusap lembut kepala Michele dengan sayang.
“Ken, apa kamu tidak memikirkan tentang sebuah pernikahan?” tanya Michele tiba-tiba.
Ken mengurai pelukannya setelah mendengar pertanyaan kekasihnya. Apakah itu kode dari Michele yang menginginkan hubungan ini lebih serius lagi.
Bukannya menjawab, Ken jusstru melihat bibir merah muda Michele yang sangat menggoda. Rasanya sudah menjadi candu baginya. Kemudian Ken mendaratkan kecupan lembut di bibir itu. lalu disusul dengan luma tan kecil hingga membuat keduanya sama-sama terbawa suasana.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️