
Pagi ini Michele sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Semalam Mamanya yang memberitahu, karena siang nanti ada meeting penting dengan salah satu kliennya. Sedangkan Papanya ada urusan penting.
Hubungan Michele dengan Papanya masih dingin dan tidak saling sapa. Namun untuk urusan kantor Xander masih mempercayakan pada Michele, walau tidak secara langsung menyampaikan hal penting itu.
Beberapa saat kemudian Michele sudah berpakaian rapi. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk sarapan bersama Mamanya.
Michele menunjukkan sikapnya biasa saja pada Mamanya. Seolah hatinya baik-baik saja setelah hubungannya ditentang oleh Papanya.
“Biar sopir yang mengantar kamu nanti, Sayang.” Celetuk Silvia tiba-tiba.
“Bukan maksud apa-apa. Mama hanya khawatir saja, bukannya kemarin kamu mengeluh sakit kepala.” Lanjut Silvia.
“Baiklah, Ma.” Jawab Michele kemudian.
Michele kembali melanjutkan mengunyah makanannya. Begitu juga dengan Silvia. Sebenarnya Michele sangat penasaran kemana Papanya pergi, dan sedang ada urusan penting apa. Mendadak Michele takut jika terjadi apa-apa dengan Ken akibat ulah Papanya.
Tak lama kemudian Michele sudah menyelesaikan makannya. Ia pun lantas berpamitan sama Mamanya sebelum berangkat.
“Sayang, Mama harap kamu bisa melupakan pria itu. bagaimana pun juga Ian adalah seorang-“
“Cukup, Ma! Michele nggak mau dengar apapun dari Mama ataupun Papa tentang Ken. Michele pergi dulu.”
Silvia menatap sedih kepergian anaknya. Entahlah, hati seorang Ibu memang sangat peka. Dia sangat menginginkan anaknya hidup bahagia dengan laki-laki yang baik. Tapi mengetahui situasi seperti sekarang ini, dia juga bingung. Akankah Silvia lebih memihak pada Michele, atau suaminya.
Sementara itu Michele baru saja memasuki ruang kerjanya. Mendadak hatinya sedih kembali dengan mengingat Ken yang selalu saja memperlakukannya dengan manis. Ada rasa rindu yang menggelayuti hatinya setelah beberapa hari tidak mengetahui kabarnya.
Cklek
Tiba-tiba Ivan masuk dengan membawa beberap berkas penting untuk meeting nanti. Pria itu jelas tahu apa yang sudah terjadi dengan atasannya. Jadi Ivan sama sekali tidak berani menatap mata Michele.
__ADS_1
“Nona, saya hanya ingin memberikan berkas ini. mohon dicek dulu sebelum meeting nanti.” Ucap Ivan sambil menundukkan pandangannya.
“Kak Ivan tahu bukan apa akibatya jika Kak Ivan ikut campur-“
“Aku bersumpah, Chel. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku juga tidak mengatakan apapun pada Tuan Xander.” Potong Ivan dengan ketakutan.
Michele mengira kalau Ivan ikut campur masalah Ken. Tapi melihat raut wajah ketakutan Ivan, sepertinya memang pria itu tidak ada keterlibatan dengan Ken. Jadi bisa disimpulkan kalau semuanya ini murni dari Aiden.
“Baiklah. Kak Ivan boleh keluar.” Ucap Michele kemudian.
**
Usai meeting, Michele kembali ke ruangannya. Sekarang ia tidak ada pekerjaan penting lagi. lalu ia berusaha keras mencari cara bagaimana bertemu dengan Ken. Sebelum pria itu benar-benar pergi dari negara ini. Michele sangat yakin kalau saat ini Ken masih ada di apartemennya.
Tiba-tiba terlintas ide cemerlang. Michele pun meraih ponselnya untuk menghubungi Jessie dan meminta tolong agar menjemputnya dan mengantarnya pergi ke apartemen Ken. Ya, meskipun sahabatnya itu pasti ngomel-ngomel lantaran mengganggu pekerjaannya.
Beberapa kali Michele menekan bel, namun tak kunjung ada yang membukanya. Perasaannya pun semakain cemas. Takut jika Papanya memang sudah berhasil membuat Ken pergi dari negara ini.
“Ayo dong, Ken! Please buka pintunya.” Gumam Michele dengan wajah piasnya.
Ting tong
Michele menekan kembali bel itu, hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Michele segera masuk mendorong tubuh kekasihnya dan memeluknya dengan erat. Ken yang mengetahui kekasihnya datang, ia pun segera menutup dan mengunci pintunya.
“Ken!!” Michele masih memeluk erat tubuh kekasihnya. Dia sangat merindukan pria itu setelah beberapa hari tidak ada kabar. Lebih tepatnya tidak bisa saling bertukar kabar.
Michele menangis sesenggukan dalam pelukan Ken. Rasa takut akan kehilangan Ken semakin besar saat merasakan Ken juga memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Ken, kamu jangan pergi meninggalkan aku.” lirih Michele.
Ken masih diam. dia pun tidak bisa memberi jawaban, karena saat ini sedang fokus dengan pembunuh Angel.
“Kenapa kamu diam? jangan bilang kalau kamu berniat pergi meninggalkanku.” Michele menatap sendu mata Ken.
“Tenanglah! Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama? Kamu juga akan sabar menantiku, hem? Dengarkan aku, aku juga sangat mencintaimu, dan tidak ingin kehilangan kamu. Tapi saat ini aku harus menyelesaikan masalahku. Setelah itu aku akan menemui kedua orang tua kamu untuk meminta restu.”
Michele kembali menangis. Mungkin ada benarnya ucapan Ken, bahwa pria itu lebih baik menyelasikan masalahnya dulu. Namun, di akhir kalimatnya kalau Ken akan menemui kedua orang tuanya untuk meminta restu, Michele tidak yakin kalau jalannya akan mulus.
“Benarkah kamu mencintaiku, Ken?” tanya Michele.
“Apa kamu melihat ada kebohongan di mataku?” Ken bertanya balik.
“Aku sama sekali tidak melihat kebohongan di mata kamu. Tapi aku hanya butuh bukti kalau kamu mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkanku.”
“Bukti? Baiklah, aku akan membuktikan kalau aku set-“
Belum sempat Ken menyelesaikan kalimatnya, Michele segera membungkam mulut Ken dengan ciuman yang begitu rakus.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1