
Kini Michele sudah berada di rumah suaminya. lebih tepatnya rumah penginggalan mendiang orang tua Ken yang mulai hari ini dan seterusnya akan menjadi tempat tinggalnya bersama Ken dan Tristan.
Kedua orang tua angkat Ken memutuskan untuk tinggal seminggu lagi di sini. mereka masih ingin menikmati kebersamaannya dengan cucu tercinta. Sekaligus ingin memberi waktu banyak buat pasangan pengantin baru itu.
Sebelumnya Ken sudah menyiapkan kamar khusus Tristan. Kamar dengan hiasan karakter tokoh superhero lengkap dengan mainannya. Tristan pun sangat antusian dan sepertinya betah juga berlama-lama di dalam kamarnya itu. Rainer dan Amara pun tidak bosan menemani cucunya bermain.
Sementara itu sore ini Michele sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menatap hujan yang sedari siang tadi tak kunjung reda. Sepulang dari hotel Ken sengaja membiarkan istrinya agar beristirahat. Dia juga masih mempunyai rasa kasihan. Jadi tidak mungkin kembali mengajak istrinya berhubungan int**m di saat keadaan Michele sedang kelelahan.
Grep
Michele terkejut saat tiba-tiba ada lengan kekar memeluknya dengan erat. Siapa lagi kalau bukan suaminya. entah dari mana pria itu sejak tadi sama sekali tidak terlihat berada di kamar.
Ken meletakkan kepalanya pada pundak sang istri. Michele pun masih diam dengan tatapan tertuju ke luar.
“Katakan padaku, apa kamu masih mencintai dia?” tanya Ken dan membuat Michele bingung.
“Kenapa diam, hemm?” Ken mengeratkan pelukannya karena Michele tak lantas menjawab.
“Jangan seperti ini, Ken! Aku tidak tahu siapa yang kamu maksud.” Jawab Michele.
“Jangan pura-pura lupa. Aku sangat tahu bagaimana ekspresi wajah kamu saat mantan tunangan kamu semalam mengatakan cintanya.” Ucap Ken dengan suara datar.
“Oh, Noah.” Michele memang baru paham siapa orang yang dimaksud oleh suaminya. padahal semalam ia kira Ken sudah melupakan kejadian saat di pelaminan itu. terlebih sudah melakukan kegiatan panas juga. ternyata sore ini suaminya masih ingin membahas hal yang menurutnya tidak penting itu.
“Berani kamu menyebut nama pria lain saat sedang bersamaku?” Ken berkata dengan suara menahan kesal.
__ADS_1
“Maaf-maaf. Bukan maksud seperti itu. bukankah aku sudah mengatakan kalau aku sama sekali tidak pernah mencintainya.”
“Tapi dia mengatakan masih mencintaimu.”
“Tapi aku tidak peduli. Itu hak dia.” Jawab Michele dengan entengnya.
“Aku nggak suka dengannya. Apa perlu aku membunuhnya agar tidak lagi mengganggu hubungan kita?”
Michele benar-benar terkejut mendengar ucapan Ken. Dia ingat siapa suaminya dulu. Bisa jadi ucapan Ken itu akan menjadi kenyataan karena dia adalah mantan pembunuh bayaran.
“Tidak. Jangan lakukan itu! percayalah dia tidak akan berani macam-macam, Ken. Semalam dia senagaj memancingmu. Please jangan lakukan itu. jangan lagi membunuh orang.” Pinta Michele dengan sungguh-sungguh.
“Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.” Tambahnya.
“Aku akan pegang ucapan kamu. Atau kalau pria itu nekat menemuimu aku tidak akan segan untuk menghabisinya.” Ucap Ken dengan tangan yang sudah menelusup ke dalam cd Michele.
Ahhh…..
Reflek Michele mengeluarkan suara merdunya itu. namun Ken terlihat biasa saja dan terus melanjutkan kegiatannya.
“Ken, jangan seperti ini!” lirik Michele yang merasa tidak nyaman.
“Kenapa? Apa kamu masih lelah?” tanya Ken menjeda sebentar kegiatannya.
“Tidak. Tapi ahh…..” Michele tak lagi bisa melanjutkan ucapannya saat jemari Ken bergerak cepat di bawah sana seperti menusuk-nusuk namun sangat nikmat.
__ADS_1
Ken yang sudah tidak tahan dengan ulahnya sendiri, ia segera mengangkat tubuh istrinya dan merebahkannya di atas ranjang. Dia segera menghujani ciuman pada bibir Michele lalu turun ke leher jenjangnya dan berlanjut ke dua aset yang menjadi tempat favorit Ken.
Suara decapan dalam kamar itu beriringan dengan air hujan yang kini semakin deras dan menambah rasa syahdu bagi pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.
Ken tidak ada bosan-bosannya menikmati tubuh polos istrinya. Memanjakannya, memperlakukannya bak ratu. Bahkan di dalam bathtub pun Ken dengan sabar menggosok tubuh istrinya.
“Apa kamu mau mencoba melakukan di sini?” tawar Ken saat ia sedang duduk di belakang istrinya dengan tangan penuh busa sabun.
“Mungkin lain kali saja. bukankah kita masih punya banyak waktu.” Tolak Michele dengan halus agar tidak membuat suaminya teringgung.
“Tapi sayangnya aku menginginkan sekarang juga.” ucap Ken lalu tangannya terulur meraih dua buah besar yang penuh dengan busa sabun itu.
Meskipun Michele sudah menolak, namun tidak bisa dipungkiri kalau ia selalu terhanyut dengan setiap sentuhan yang Ken berikan.
Akhirnya mereka berdua kembali melakukan percintaan itu dengan berganti tempat dan posisi. Keduanya saling menikmati hingga sampai akhirnya sama-sama mengalami pelepasan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1