Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 25 ~ Mengabaikannya


__ADS_3

“Ken, tunggu!” panggil Michele, namun sayangnya pria itu sudah mempercepat langkahnya seolah tidak mendengaar panggilan Michele.


Michele hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ia segera memulai pekerjaannya pagi ini. namun sebelumnya Michele meminum teh hijau buatan Ken tadi.


Hari ini pekerjaan Michele cukup padat di saat pertama kalinya ia menjabat sebagai presdir. Hanya saja tidak ada meeting penting dengan kliennya. Jadi dia hanya duduk manis di kursi kebesarannya.


Tak lama kemudian terdengar suara deringan telepon dari sekretarisnya. Michele menerima panggilan itu dan meminta tamu yang ingin menemuinya langsung masuk ke ruangan presdir.


Cklek


“Selamat pagi, Bu Presdir!” sapa seorang pria tampan dengan senyum mengembang.


“Ah jangan seperti itu, Kak. Jabatan ini sungguh beban yang sangat berat bagiku, tapi bagaimana lagi. aku harus tetap mengembannya. Silakan duduk, Kak! Mau minum apa?”


Ternyata pria tampan yang datang itu adalah Kavi. Memang sejak dulu Michele lebih dekat dengan Kavi dari keempat anak Sean. Sedangkan dengan Abigail, Michele tidak terlalu dekat. Namun ia hanya berkeinginan menjadi model seperti Abigail. Sayangnya cita-citanya itu ditolak oleh Papanya.


“Apa saja asal yang dingin dan manis.” Jawab Kavi yang kini sudah duduk di sofa.


Kavi sendiri memang sengaja datang ke kantor Michele karena tidak ada kegiatan lain. Besok dia baru berencana pulang ke kota J bersama keluarganya. Alhasil dia memilih mendatangi Michele sekaligus menemani perempuan yang baru saja menjabat presdir itu.


“Baiklah, tunggu sebentar lagi. aku akan meminta OB untuk membuatkan minuman sesuai keinginan Kak Kavi.”


Michele akhirnya ikut duduk bergabung di sofa bersama Kavi. Pekerjaannya sementara ia tinggalkan sebentar, karena tidak enak jika mengabaikan kedatangan saudaranya.

__ADS_1


“Lanjutkan saja pekerjaan kamu, Chel! Aku kesini tidak berniat mengganggumu.” Ucap Kavi.


“Nggak apa-apa, Kak. Lagian ini hari pertamaku menjadi presdir, dan masih belum padat jadwalnya. Jadi bisa lah buat santai dulu. Atau Kak Kavi mau ngajak aku jalan-jalan?” Jawab Michele sambil mengerlingkan mata.


“Dasar! Jalan-jalan aja yang dipikirkan.” Ucap Kavi sambil mengacak rambut Michele dengan gemas.


Di saat itu bertepatan dengan Ken yang baru saja masuk ke ruangan presdir dengan membawa minuman yang diminta oleh Michele baru saja. Ken juga melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Kavi sedang mengacak rambut Michele. Apalagi posisi duduk mereka sangat dekat.


“Permisi, Nona! Ini minumannya.” Ucap Ken dengan sopan.


“Terima kasih. Aku langsung minum ya, Chel.” Sahut Kavi dan segera meraih gelas yang berisi jus mangga.


“Iya.” Jawab Michele, namun pandangannya tertuju pada Ken yang sama sekali tidak melihatnya. Entah kenapa Michele merasa saat ini Ken sedang mengabaikannya. Padahal Ken sendiri sudah bersikap sesuai dengan permintaan Michele seperti tempo hari. Yaitu agar bersikap biasa saja jika sedang ada orang lain.


Sementara itu Ken kini sudah kembali ke pantry. Pria itu membuka ponselnya setelah terdengar suara notif pesan masuk.


Ken hanya membaca pesan itu tanpa berminat untuk membalasnya. Tak lama kemudian ada notif pesan dari bank kalau baru saja ia menerima sejumlah uang yang ditransfer oleh seseorang. Setelah itu Ken memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Baru saja ia berdiri dan hendak melakukan pekerjaannya, terdengar suara panggilan masuk. Dan panggilan itu dari Adel.


“Ada apa?”


“Lusa aku harus pulang. aku rasa pekerjaanku di sini sudah selesai. tinggal satu kali saja meeting dengan klien. Aku harap kamu nanti malam datang.” Ucap Adel dari balik sambungan telepon. Setelah itu Adel langsung memutus panggilannya tanpa mendengar jawaban dari Ken. Karena memang niat Adel hanya memberitahu.

__ADS_1


***


Seperti perintah dari Papanya, saat ini setelah jam makan siang Michele segera pergi ke kediaman Barrack. Dalam perjalanan, Michele masih bertanya-tanya tentang kematian pria yang merupakan teman baik Papanya itu. Entahlah Michele merasa ada kejanggalan, namun ia sulit untuk mengungkapkannya.


Sebelumnya Michele belum pernah sama sekali datang ke rumah Barrack. Dia hanya tahu perusahaannya saja. dan ini adalah pertama kalianya Michele ke rumah Barrack setelah mendapat alamat yang beberapa menit yang lalu dikirim oleh Mamanya.


Michele terkejut saat mobilnya menuju kawasan perumahan elit. Jalan itu adalah jalan yang ia lewati semalam setelah perayaan pesta ulang tahunnya. Dan saat itu juga di area perumahan ini Michele seperti melihat bayangan Ken sedang berjalan kaki masuk ke kawasan perumahan itu.


Sesampainya di depan rumah mewah milik keluarga Barrack, suasana sangat ramai dengan kedatangan tamu yang ingin mengucapkan belasungkawa. Michele pun segera masuk. Dia melihat Mamanya sedang duduk bersama Tania, iastri Barrack. Sedangkan Aiden tampak sibuk menyambut kedatangan tamu.


Michele mengucapkan belasungkawanya pada Tania. Wanita itu menerima pelukan hangat dari Michele. Lalu ia sedikit menjauh dari Tania dengan mengajak Mamanya.


“Apa penyebab kematian Om Barrack, Ma?”


“Om Barrack meninggal saat sedang berada di ruang kerjanya. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya atau dibunuh. Om Barrack meninggal dalam posisi duduk di kursi kerjanya. Hanya saja dari hasil autopsy, dalam tubuh Om Barrack terdapat kandungan obat berbahaya yang berujung pada kematiannya. Namun polisi sampai saat ini masih sulit mengungkap apakah Om Barrack meninggal karena dibunuh atau ada hal lain.” Jawab Silvia.


“Memangnya tidak ada bukti lain kalau Om Barrack dibunuh, Ma? Seperti rekaman cctv atau yang lainnya?” tanya Michele penasaran.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2